Bukan Niatku Merebut Suamimu

Bukan Niatku Merebut Suamimu
Kemarahan Adit


__ADS_3

Dion merasakan gairahnya memuncak hebat, matanya memanas begitu juga dengan tubuhnya yang mulai mengeluarkan keringat dingin, Dion yang tak kuasa langsung menarik tangan Riana dan mendorong tubuh wanita itu hingga terjerambat ke atas sofa.


Menerima perlakuan Dion, tentu saja Riana tersenyum senang, akhirnya apa yang dia rencanakan bisa berjalan sangat mulus dia pun menatap wajah Dion yang sudah berada di atasnya dengan tampang menggoda.


"Kau sudah menjebakku Riana!" ucap Dion di tengah-tengah kesadarannya yang masih tersisa.


"Maaf Mas! Tapi aku terpaksa melakukannya agar kau tetap mau menyentuhku mas,"


"Kau sungguh keterlaluan Riana! Kau tega berbuat seperti ini kepada suamimu sendiri, aku rasanya sudah tidak tahan lagi!" Teriak Dion yang merasa gairahnya seperti membludak keluar tubuhnya.


Lalu dengan cepat Dion pun mencium bibir Riana, dan dengan senang hati Riana membalas ciuman Dion tak kalah bergairah, sungguh Dia sangat merindukan sentuhan yang diberikan oleh suaminya tersebut.


Kini pergerakan Dion semakin tak terkendali, dia pun dengan cepat mengoyak pakaian tidur yang dikenakan oleh Riana.


Hingga pakaian itu terkoyak dan dengan hanya sekali tarikan pakaian itupun telah teronggok di atas lantai, sehingga tampaklah dua gunung kembar yang sangat menantang di depan mata Dion, sungguh Dion tidak dapat menahan gairahnya lagi, dengan cepat dia mengarahkan wajahnya untuk ******* kedua gundukan yang menggoda itu, tubuh Dion semakin berkeringat, Riana memeluknya sangat erat tidak terpikirkan lagi rasa basah yang terkena di tubuhnya karena yang dia tahu permainan ini sungguh sangat memabukkan.


"Aku suka merasakan kekasaranmu ini mas, ayo cepat nikmatilah seluruh tubuhku sampai kau merasa puas," ucap Riana sambil berbisik.


Setelah puas di kedua gundukan itu, Dion pun melepaskan pakaian yang dia kenakan, dan Riana membantu apa yang sedang Dion lakukan, hingga tampaklah tubuh kekar sempurna yang selalu berhasil membuat Riana merasa kagum, selanjutnya Dion melepaskan segitiga bermuda milik Riana hingga tampaklah sesuatu yang sangat membuat gairahnya semakin membuncah.


"Ah….! Aku sudah tidak tahan Riana!" teriak Dion mengarahkan senjata miliknya yang sudah sangat menegang.


Setelah memberikan sedikit pelumas, agar licin dan basah milik Riana, Dion pun langsung menghunuskan pedang miliknya di gua yang terpampang di depan mata, dia melakukan permainan itu dengan sangat ganas karena efek dari obat rangsang yang sudah dia konsumsi,di bawah kukungan Dion, Riana tersenyum bahagia sungguh permainan ini sudah hampir 5 bulan tidak dia rasakan.


"Akhirnya kau menyentuhku lagi Mas, sungguh aku sangat merindukan keganasanmu ini, aku janji apapun yang terjadi kau akan tetap menjadi milikku," ucap Riana di dalam hatinya.

__ADS_1


Permainan terus berlanjut berbagai gaya mereka lakukan hingga akhirnya mereka berdua hampir mencapai *******, ketika akan sudah mencapai puncak tanpa sadar Dion mengeluarkan cairannya ke dalam gua milik Riana ,Entahlah saat ini Dion tidak memikirkan apapun, asal nikmat yang dia rasakan tidak dapat membuat dia berpikir dengan jernih.


Hingga akhirnya tumbuh Dian pun ambruk menimpa tubuh Riana, setelah itu Dion memejamkan matanya, Riana tersenyum puas dan dia berusaha menggeser tubuhnya agar dia bisa lebih leluasa tidur di atas sofa tersebut.


"Terimakasih suamiku, aku benar-benar mencintaimu," bisik Riana sambil memeluk tubuh Dion.


*****


Tidak terasa pagi telah datang menyapa membangunkan Bunga yang tadi malam bermimpi tidak baik. Di dalam mimpi itu dia menjadi bahan tertawaan oleh orang orang yang ada di seluruh kampung dan tentu saja hal itu membuat Bunga merasa sedih serta juga takut kalau hal itu benar-benar menjadi kenyataan.


"Kenapa aku harus bermimpi seburuk itu? Apakah mimpi itu akan menjadi nyata! Aku merasakan kesedihan ketika orang orang mencaci diriku, dan mereka semua adalah orang orang di sekitarku, sekarang apa yang harus kulakukan! Aku sudah terlanjur jauh dengan Mas Dion, lagian apakah salah jika aku mencintai seorang pria yang sudah beristri?" tanya Bunga di dalam hatinya, hingga tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dengan cepat Bunga bangkit dan membuka pintu.


Setelah pintu terbuka tampaklah Adit yang berdiri menatapnya dengan tajam, sedari kemarin memang mereka tidak bertemu karena Adit bekerja pada waktu sore sampai malam hari, dia bekerja sebagai waiters di salah satu Cafe.


"Adit ada apa?" tanya Bunga menatap heran.


"Apakah kau tidak mempunyai pilihan seorang pria lajang sehingga kau harus berhubungan dengan pria yang sudah beristri! Apakah harus aku turun tangan untuk mencarikanmu seorang pria lajang! Jika memang itu harus, maka aku bersedia melakukannya," ucap Adit memasang wajah memerah.


Bunga terdiam membisu, kali ini adiknya memang benar-benar marah dan dia telah mengecewakan seluruh keluarganya.


"Apakah kau marah kepada kakak Adit?" tanya Bunga menatap sedih.


"Tentu saja aku marah! Bagaimana mungkin aku tidak marah ketika saudara kandungku sendiri menjadi seorang pelakor , Apakah kau tidak malu kak, itu adalah perbuatan yang sangat keji bahkan karena perbuatanmu itu kau bisa merusak nama baikmu sendiri."


"Lalu apa yang harus kulakukan ketika aku memiliki perasaan yang tulus kepadanya dan juga pria itu dapat memberikan kemewahan yang aku inginkan selama ini, apakah kau tahu kalau aku sudah banyak melewati pedihnya kehidupan, sungguh ketika pria itu menawarkan segala kemewahan tersebut aku merasa sangat tergoda dan setelah mengenalnya lebih dalam aku malah mencintainya, sekarang apa yang harus kulakukan? Apakah aku sanggup untuk melepaskan keduanya," tanya Bunga meneteskan air mata.

__ADS_1


Mendengar perkataan kakaknya Adit terdiam. Kalau soal harta memang mereka tidak memilikinya bahkan dirinya pun tidak mampu untuk membiayai kehidupan kakaknya. Tapi setidaknya mereka masih mempunyai harga diri.


"Kau masih bisa menjaga nama baik keluarga kita walaupun kita tidak kaya, setidaknya kita tidak direndahkan oleh orang lain, Apakah kau tahu jika Apa yang Bapak lakukan sudah membuat keluarga kita menjadi keluarga yang buruk di para tetangga, Jadi aku harap Jangan menambah kejelekan untuk keluarga kita lagi," ucap Adit memasang wajah sedih.


Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Bunga yang masih mematung setelah mendengar perkataan adiknya, sungguh perkataan Adit benar-benar telah membuat Bunga merasa malu, bagaimana mungkin selama ini dirinya hanya memikirkan kepentingannya saja tanpa memikirkan keluarganya terutama ibunya


Dengan cepat Bunga pun masuk ke dalam kamar, dia menutup pintu dan menangis dengan sedih.


"Kenapa aku sangat bodoh! Inii sungguh benar-benar sangat menyakitkan, adikku sendiri mengatakan hal seperti itu kepadaku, Bunga dimana pikiranmu sebenarnya! Kau sungguh menjijikan,hanya demi harta kau rela menjadi selingkuhan dari pria yang sudah bersuami,"


"Sekarang aku tidak tahu bagaimana caranya untuk lepas dari semua ini,sudah terlalu dalam, begitu juga cintaku kepada i Mas Dion, Apakah aku harus melanjutkan semuanya dan mempertahankan hubungan ini sampai dia menjadi milikku seutuhnya atau aku harus menyerah dan mencari pria yang lain," guman Bunga di dalam hati sambil terus menangis sedih.


*****


Sedangkan di luar rumah saat ini Bu Laras sedang berbelanja ke warung.


Di warung Ibu Laras bertemu dengan ibu-ibu yang suka menggosipi tentang keluarganya, kali ini Bu Laras tidak bisa membela putrinya lagi, karena apa yang dilakukan Bunga ternyata benar adanya sama seperti yang mereka tuduhkan.


Ketika sedang memilih sayuran tiba-tiba Bu Laras dikejutkan oleh tepukan pundak dari seseorang.


"Ibu Laras! Ngapain belanja, ibukan sudah kaya sekarang, Bentar lagi punya mantu orang kaya,seneng dong ya!" ejek ibu itu kepada ibu Laras.


"Iya asalkan jangan suami orang aja ya bu, kalau kita dengar itu suami orang siap-siap aja kami bakal usir Bunga dari kampung ini!" ancam mereka pada ibu Laras.


Mendengar ancaman itu Bu Laras hanya terdiam, setelah itu dia cepat-cepat menyelesaikan belanjaannya dan segera keluar dari warung itu, mereka para ibu-ibu yang melihat sikap ibu Laras tidak melawanpun merasa heran, setelah itu mereka kembali berkumpul dan saling bergosip.

__ADS_1


"Ada apa dengan Bu Laras? Kenapa dia tidak membela putrinya seperti yang biasa dia lakukan, atau jangan-jangan apa yang kita katakan ini benar jika pria yang kemarin mengantarkan Bunga adalah suami," orang ucap menikah menebak-nebak.


__ADS_2