
Sungguh Bunga tersentak kaget mendengar makian yang di lontarkan oleh Ibunya itu. Sekarang apa lagi yang terjadi, sehingga Ibunya seperti orang yang sedang mengamuk.
Dengan cepat Bunga bangkit dari ranjang dan duduk sambil mengangkat telfon dari sang Ibu.
"Ibu! Ada apa sebenarnya? Mengapa Ibu tiba-tiba marah marah kepadaku? Apakah aku telah berbuat salah lagi?" tanya Bunga dengan perasaan penasaran.
"Kenapa kau selalu bertanya kepadaku Bunga! Bahkan kau tidak pernah mau mengakui akan kesalahan yang sudah kau perbuat. Sekarang katakan kepada Ibumu ini! Apakah Dion sudah mengambil keputusan untuk segera menceraikan istrinya?"
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Ibu Laras. Bunga pun hanya terdiam membisu. Dia baru sadar kalau sudah semenjak permintaannya itu sampai saat ingin pun Dion tidak memberikan jawaban yang pasti kepada dirinya.
Bunga tidak akan sudi jika harus dijadikan seorang wanita kedua untuk selama lamanya. Lebih baik dia mundur dari pada harus mengharapkan yang tidak pasti.
"Kenapa aku bisa lupa! Bukankah Mas Dion sudah berjanji kepadaku? Lalu kenapa aku bisa melupakan janji itu. Sekarang juga aku harus segera menelfon Mas Dion. Agar Ibu tidak memarahiku lagi." gumam Bunga di dalam hatinya
__ADS_1
Hingga dirinya dikejutkan oleh suara Ibu Laras yang kembali berbicara kepada dirinya.
"Bunga! Asal kau tahu saja. kalau semua orang di kampung kita sudah mengetahui atas perselingkuhan yang kau lakukan kepada Nak Dion. karena ternyata pria itu adalah saudara dekat dari Ibu Lina tetangga kita. Dan dia juga mengatakan kepada Ibu. Jika sampaipun Dion tidak akan menceraikan istrinya. Karena istrinya saat ini sedang dalam keadaan hamil anak kedua."
Jeduarrr....
Jantung Bunga benar-benar terkejut ketika mendengar perkataan dari Ibunya. Apakah benar yang dikatakan oleh Ibu Laras kalau Mbak Riana sedang hamil saat ini. Tapi bagaimana bisa? Bukankah Dion berkali-kali mengatakan kepadanya kalau mereka berdua sudah lama tidak pernah melakukan hubungan suami istri.
"Apakah Ibu tidak bercanda Bu?" Tanya Bung memastikan pendengarannya.
"Tentu saja tidak. Kau harus sadar diri Bunga.kalau pria itu tidak pernah serius denganmu. Sekarang juga kay harus memutuskan hubunganmu dengannya Bunga! Ibu yakin kau bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari dirinya." ucap Ibu Laras merayu Bunga.
Bunga terdiam membisu. Dia sedang memikirkan perkataan dari ibunya. Apakah memang ini adalah akhir dari perjuangannya? Bunga tidak setega itu. Merusak rumah tangga seorang wanita yang sedang hamil.
__ADS_1
Setelah itu dia pun berkata kepada Ibunya. Kalau Bunga akan segera kembali pulang dan memikirkan apa yang diucapkan oleh Ibunya tadi.
"Baiklah Ibu. Bunga akan menyelesaikan masalah ini kepada Mas Dion. Setelah itu Bunga akan kembali pulang." ucap Bunga dengan tatapan kosong.
"Bagus Nak! Sudah saatnya kau kembali mempertahankan nama baikmu Bunga! Dan ibu percaya kalau kau pasti bisa lepas dari pria itu." ucap Ibu Laras menyemangati.
Bunga tersenyum tipis. Dia menyembunyikan hatinya yang serasa hancur.
"Baiklah Ibu. Kalau begitu Bunga sudahi dulu telfonnya,"
Setelah telfon mati. Bunga meneneteskan air mata kembali. Dia sungguh sedih dengan kebohongan yang Dion lakukan kepada dirinya.
"Kau egois Mas Dion! Kau telah menipuku. Sekarang aku akan pergi meninggalkanmu. Kau tidak pantas untuk aku perjuangkan lagi, karena ada anak yang akan kau miliki." ucap Bunga meneteskan air mata.
__ADS_1