
Kini ruangan makan itu sudah tampak hening. Hanya ada Dion dan juga papa Bagas yang saling menatap antara satu sama lain. Dion membuang wajahnya ke arah samping saat melihat tatapan Papanya yang terlihat menyedihkan. Sungguh dia merasa tidak tega, maka dari itu dia memutuskan untuk membuang wajahnya kearah samping.
Setelah itu Papa Bagas pun kembali mengeluarkan suaranya. Dia bertanya kepada Dion tentang apa yang telah terjadi.
"Coba katakan kepada Papamu ini? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mengapa kau bisa melakukan perselingkuhan di belakang istrimu?" tanya Papa Bagas menatap dengan lama.
Mendengar pertanyaan Papa Bagas, Dion pun kembali mengarahkan pandangannya untuk membalas tatapan kedua mata pria itu.
"Sebenarnya ini tidak ada sangkut pautnya dengan perselingkuhanku. jujur aku katakan kepada Papa! Aku menikah dengan Riana sampai Putraku berusia 9 tahun seperti saat ini, tetap saja. Aku tidak pernah menyukai dirinya, bahkan hubungan kami terlihat sangat jauh sejak dulu. Jadi jangan salahkan tentang wanita yang menjadi selingkuhanku itu! Sungguh dia tidak mengetahui apapun."
Baiklah! Papa tidak akan menuduh wanita itu lagi, sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tanggamu dan juga Riana? Bukankah kalian telah saling mencintai dan menjalankan sebuah rumah tangga yang bahagia?"
"Tidak Pa! Selama ini aku hanya berbohong kepada Papa. Aku tidak pernah bahagia dengan Riana, bahkan wanita itu tidak pernah menurut kepadaku, dia terlalu terobsesi dengan karir yang dia kejar, dia selalu melupakan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Bahkan aku dan Raka sangat jarang sekali makan di rumah. Kami seperti orang yang tidak mempunyai istri maupun ibu," jelas Dion membuat Papa Bagas merasa terkejut.
"Apakah benar begitu Dion? Tapi bukankah Riana telah menjadi istri yang sempurna?"
"Itu menurut dirinya. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah mau disalahkan. Sekarang terserah Papa mau percaya denganku! Putramu sendiri atau dengan menantumu yang bermulut manis itu. Tapi satu hal yang harus Papa tahu, kalau aku sangat mencintai wanita yang menjadi selingkuhanku itu. Dia adalah wanita baik-baik dan aku telah memutuskan ingin segera menikahnya."
"Apakah kau sudah gila Dion! Kau lupa dengan statusmu? Kau adalah seorang polisi tidak dibenarkan seorang polisi melakukan poligami."
"Apa bedanya Pa? Polisi juga seorang manusia, tapi aku tidak akan melakukan poligami karena aku pun juga tidak mau menyakiti hati Riana maupun Bunga. Aku akan menceraikan Riana dan menikahi Bunga. Itu adalah keputusan terakhirku." ucap Dion bangkit dari duduknya.
Mendengar keputusan yang telah Dion katakan, Papa Bagas pun merasa marah dia sungguh tidak setuju kalau putranya akan bercerai dengan Riana.
"Dion! kau jangan memikirkan nafsumu saja. Ini bukanlah hal yang main-main, tapi ini adalah hal yang sangat penting untuk semua kehidupan. Bukan hanya rumah tanggamu saja yang hancur, tapi ada hati dua orang tua yang juga ikut hancur yaitu kedua orang tua Riana. Mereka sudah mempercayakan putrinya kepadamu, Lalu kenapa kau tega menyakiti Putri mereka! Mau di taruh di mana wajahku ini Dion!"
__ADS_1
Papa Bagas tampak mengejar Dion yang sudah melangkah ke ruang tamu, namun Dion tetap tidak memperdulikannya hingga akhirnya Papa Bagas menarik tangan Dion agar berbalik ke arah dirinya.
Dengan terpaksa Dion membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Papanya Itu.Papa Bagas tampak sangat marah, aura wajahnya memerah dan juga menahan emosi.
"Mau Papa apa? Aku tetap tidak bisa merubah keputusanku ini. Lagian jujur saja, aku sangat mencintai wanita bernama Bunga itu. Dan aku sudah tidak mau berhubungan dengan Riana lagi.
"Tapi bagaimana kalau Riana hamil? Dia mengatakan kalau dia akan segera mengandung anakmu. Apakah kau akan menceraikan seorang wanita yang akan memiliki anak darimu Dion?"
"Aku tidak peduli Pa! Salah dia sendiri karena dia telah menjebakku menggunakan obat perangsang, jadi jangan salahkan aku jika dia hamil.
Mendengar perkataan Dion, Pak Bagas pun merasa sangat terkejut. Apakah benar kalau Riana telah melakukan hal seperti itu kepada suaminya sendiri?
"Sebenarnya apa yang kalian lakukan di dalam rumah tetangga kalian sendiri? kelakuan kalian benar-benar sangat menjijikan."
"Mau pergi ke mana kau Dion? Apakah kau melupakan anak dan juga istrimu?"
"Biarkan mereka menginap di rumah ini Pa. Aku akan pergi mencari ketenangan." jawab Dion yang sudah sampai di depan teras rumah Papa Bagas.
Melihat kepergian Dion, Papa Bagas hanya bisa menghela nafas, sedari dulu dia memang tidak bisa memerintah Dion seperti apa yang dia inginkan.
"Dasar anak keras kepala! Selalu tidak pernah berubah. Bersikap seenaknya saja." ucap Papa Bagas dengan marah.
Setelah itu dia pun kembali masuk ke dalam rumah dan menutup pintu rumah dengan rapat. Sedangkan Riana yang merasa penasaran langsung turun ke bawah untuk menemui Papa mertuanya.
"Bagaimana Pa? Apakah Mas Dion mau menuruti perkataan Papa?"
__ADS_1
"Tidak. Dion masih kekeh dengan pendiriannya, bahwa dia akan menceraikanmu. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa dia tidak bisa mencintaimu dan menerimamu sampai saat ini? Apakah kau telah menjadi istri yang buruk untuknya?" tanya Papa Dion menatap tajam kewajah Riana.
"Tentu saja tidak Pa! Kenapa Papa mempercayai ucapan Mas Dion. Apakah aku pantas seperti yang dia katakan?
"Papa tidak tahu Riana. Yang jelas Papa pusing memikirkan permasalahan kalian berdua, harusnya hidup Papa lebih tenang setelah menikahkan kalian l, tapi ternyata semua salah. Kalian malah menambah bebanku saja."
Setelah itu Papa Bagas melangkah masuk meninggalkan Riana yang masih terdiam sendirian.
"Sial! Ini semua karena Bunga. Lihat saja aku tidak akan membiarkan mereka berdua hidup dengan damai, apapun yang terjadi Mas Dion tidak boleh menceraikanku." gumam Riana mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
****
Sedangkan Dion dia sudah menyetir mobilnya menuju ke jalanan kota, pikirannya saat ini benar-benar buntu. Apalagi setelah melihat handphonenya yang tidak ada kabar dari sang kekasih tercinta.
"Di mana sebenarnya kau Bunga? Apakah aku harus menjemputmu ke rumahmu? Jangan sampai kau membuatku gila begini Bunga! Karena aku bisa melakukan hal yang di luar nalarmu semua orang." gumam Dion di dalam hatinya sambil meraup wajahnya kasar.
Setelah itu Dion pun mengirim pesan kepada Bunga. Dia mengancam bahwa dirinya akan datang ke rumah kalau Bunga tidak mau membalas telepon ataupun mengangkat telepon darinya.
Membaca pesan ancaman yang di tuliskan oleh Dion, Bunga merasa terkejut dan dengan terpaksa dia mengangkat panggilan kekasihnya itu.
"Halo Mas! Kenapa kamu mengancamku begini? Bukankah kita sudah membuat perjanjian bahwa kau tidak boleh main ke rumahku untuk sementara ini!" seru Bunga merasa sedikit kesal.
Mendengar jawaban Bunga yang telah mengangkat telepon darinya Dion pun tersenyum tipis. Jujur saja dia merasa senang karena Bunga sudah mau mengangkat panggilan dari dirinya.
"Sayang aku kangen!" ucap Dion yang berhasil membuat Bunga merasa jantungnya berdetak hebat.
__ADS_1