Bukan Niatku Merebut Suamimu

Bukan Niatku Merebut Suamimu
Pergi Ke Pesta


__ADS_3

Kini Dion dan Riana sudah selesai bersiap siap untuk segera pergi menghadiri acara pernikahan salah satu bawah Dion di kantor. Dion terlihat sangat tampan dengan mengenakan jas berwarna navi yang senada dengan celana dan juga dasi yang bertengger indah di kerah baju miliknya.


Begitu juga dengan Riana, walaupun wanita itu sudah mengandung sembilan bulan, tapi dia tetap mengutamakan penampilan yang terlihat sexy. Bagi Riana perut buncit bukanlah suatu masalah untuk dirinya, karena dia mempunyai ambisi agar tetap menjadi salah satu wanita tercantik di antara para ibu ibu Bhayangkara yang ada dikantor suaminya.


Dion yang tak sengaja melihat penampilan Riana yang baru saja turun dari atas tangga pun merasa kesal, dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang ada di dalam otak wanita tersebut. Bagaimana mungkin ibu hamil yang sebentar lagi melahirkan malah memilih memakai gaun ketat dan juga sangat terbuka. Sungguh Dion ingin sekali mengoyak baju itu dan memerintahkan Riana untuk menggantinya dengan yang lebih sopan.


"Mas! Jangan terlalu dalam melihatku. Aku tahu jika kau merasa terpesona bukan? Karena kau sudah lama tidak melihatku berpenampilan sesempurna ini." Riana tampak bangga dengan penampilannya tersebut, dia mengira kalau Dion merasa terpesona atas apa yang dia kenakan.


Sedangkan Dion langsung meludah tepat di depan Riana. Sungguh Dion sudah tidak sanggup jika harus terus berpura-pura kepada wanita tersebut.


"Cuih..! Dasar wanita tidak mempunyai malu. Ternyata selain tidak mempunyai harga diri, kau juga tidak mempunyai malu serta sopan santun sedikitpun. Sungguh aku menyesal mempunyai istri sepertimu."


Deghh...


Wajah Riana langsung memerah setelah mendengar perkataan menyakitkan dari suaminya tersebut, jangan sampai mereka berdua gagal menghadiri acara pernikahan itu.


"Apa maksudmu Mas? Kenapa mulutmu semakin lama bertambah tajam setiap harinya? Apakah kau lupa kalau aku saat ini sedang mengandung putri kandungmu sendiri! Kau sungguh menjengkelkan Mas Dion!" teriak Riana tidak terima..

__ADS_1


"Memang itu kenyataannya Riana! Apakah kau tidak malu dengan pakaian yang kau kenakan itu? Bahkan seorang wanita malam pun tidak sepertimu Riana."


"Kau..! Benar-benar membuatku marah Mas! Dan aku tahu kalau kau sengaja ingin membuatku marah agar kita tidak jadi pergi ke acara pesta bawahanmu itu, Cih! Aku sudah tahu niatmu itu Mas Dion. Sekarang juga ayo kita pergi." ajak Riana yang langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


Melihat hal itu Dion hanya menghembuskan nafas kasar, dia harus bisa bertahan sampai anak yang dikandung oleh Riana lahir kedunia dalam keadaan selamat.


Setelah itu Dion pun mengikuti langkah kaki Riana untuk keluar dari rumah, kebetulan Raka putra mereka sedang tidak ada di rumah, anak itu telah berada di rumah Kakeknya satu hari yang lalu, jadi Dion tidak kepikiran jika harus pergi meninggalkan rumah.


Setibanya di dalam mobil, Riana tersenyum puas, dia langsung bergelayut manja di lengan tangan suaminya itu, sedangkan Dion hanya memasang wajah masam. Di dalam hatinya dia merasa sangat muak apalagi ketika melihat dua gundukan besar itu tampak keluar dari tempatnya.


"Aku sungguh muak dengan wanita ini. Di depan seluruh keluargaku terlihat seakan akan paling bagus dan lugu. Tapi kalau di luar sangat menjijikkan, persis seperti ular bermuka dua. Lihat saja setelah kau melahirkan maka aku akan langsung menceraikanmu." Gumam Dion di dalam hatinya sambil menambah kecepatan mobil yang dia kemudikan.


"Kenapa dilepaskan? Apakah kau mau memperlihatkan ketidaksukaanmu di depan para rekan rekanmu?" tanya Riana menatap tajam.


"Jangan mulai Riana! Aku hanya ingin menyalami para atasanku di kantor. Jadi tidak seharusnya kau memegang lenganku seperti ini." jawab Dion sambil melirik kearah para rekan kerjanya.


Acara pesta iru terlihat sangat ramai, sepertinya tamu undangan mulai berdatangan karena waktu sudah menujukkan pukul 8.

__ADS_1


Melihat atasan suaminya sudah tersenyum ketika bersitatap dengan Dion. Riana langsung menarik lengan Dion untuk mendekati para atasan tersebut. Sepertinya ini lah waktu untuk dirinya berdekatan dengan para ibu Bayangkari dari istri para jendral.


"Hallo Nyonya Ambar, senang bertemu dengan anda." ucap Riana langsung bercepika cepiki dengan Nyonya Ambar.


Melihat sikap Riana yang sok ramah itupun Dion merasa kesal, wanita itu memang jagonya untuk mencari muka dengan orang lain.


Hingga perbincangan di antara mereka pun terus berlanjut, kini Riana sudah tidak menyibukkan suaminya lagi. Dia lebih fokus bergosip dengan para istri istri dari Jendral.


"Wah, sepertinya kamu sebentar lagi lahiran ya?" tanya wanita paruh baya itu yang bernama Jeng Rina.


"Iya Jeng. Akhirnya setelah lama menunggu kami dikasih seorang putri juga. Bahkan karena kehadiran Bayi inilah sehingga aku dan Mas Dion tidak jadi bercerai, dan ini semua karena ulah wanita pelakor lo Jeng." ujar Riana kepada para ibu ibu itu.


Mereka semua sudah mendengar soal perselingkuhan yang dilakukan oleh Dion. dan kali ini mereka ingin sekali mengetahui seperti apa wanita yang sampai membuat Dion bisa melupakan anak dan istrinya itu.


"Memangnya secantik apa sih itu Pelakor? Bukannya kamu juga tidak kalah cantik ya?" tanya ibu ibu itu merasa penasaran.


Riana tersenyum menyeringai sambil meneguk minuman yang ada di gelasnya, hingga tak lama kedua matanya melotot hampir keluar saat melihat siapa yang baru saja masuk kedalam pesta tersebut.

__ADS_1


"Dia...!" teriak Riana merasa terkejut.


__ADS_2