
Mendengar namanya dipanggil Fiona dan Dion refleks langsung melihat ke asal suara, mereka membalikkan tubuh dan menatap seorang wanita yang sudah berdiri tepat di belakang mereka.
Sungguh ketika mengetahui siapa yang memanggil Bunga, Bunga pun terkejut, dia merasa jantungnya berdebar hebat, Bunga takut kalau wanita itu mengetahui siapa seorang pria yang saat ini berdiri di sampingnya dan memeluk tubuhnya.
"Mbak Sofi…..!" ucap Bunga merasa syok.
Melihat ekspresi Bunga yang tampak terkejut itu pun, Mbak Sofi menjadi heran dan dengan cepat dia berjalan melangkah lebih mendekati Bunga dan sosok pria yang memakai masker itu.
"Hai bunga Sudah lama tidak bertemu, kemana saja kau selama lima bulan ini, sejak kau memutuskan untuk risaign dari salon ku?" Dan kenapa juga wajahmu tampak terkejut begitu Bunga, tenanglah kau kan tidak mempunyai hutang kepadaku, jadi kau tidak perlu membayarnya," goda mbak Sofi kepada Bunga.
Mendengar perkataan mbak Sofi seperkiandetik kemudian Bunga pun mencoba menetralkan raut wajahnya, jangan sampai Mbak Sofi menjadi curiga terhadap dirinya dan juga pria yang ada di sampingnya.
"Eh,Iya mbak udah lama ya nggak ketemu sama mbak Sofi, bahagia banget deh bisa ketemu Mbak di sini," jawab Bunga ramah sambil memeluk tubuh mbak Sofi.
"Iya mbak juga seneng Bunga, Wah Mbak rasa kamu sekarang sudah tambah cantik ya, bahkan penampilan kamu juga telah berbeda dari 5 bulan yang lalu, apakah kau telah bertambah sukses saat ini Bunga?" tanya Mbak Sofi menggoda Bunga.
Bunga terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa, apakah dia harus berbohong, hingga Dion yang melihat kepanikan kekasihnya itu pun langsung membantu Bunga, dengan cepat dia berusaha merubah suaranya menjadi lebih berat agar Mbak Sofi tidak mengenali dirinya.
"Iya, kekasih saya ini sekarang sudah mempunyai usahanya sendiri, makannya dia bisa terlihat berbeda dari yang 5 bulan yang lalu," jawab Dion membantu Bunga.
"Beneran Bunga! Wah…hebat banget ya kamu Bunga, mbak bangga deh sama kamu kalau kamu sudah berhasil dengan usahamu sendiri, oya ngomong-ngomong siapa nih pria yang ada di sampingmu ini, apakah dia adalah calon suamimu?" tanya mbak Sofi penasaran.
"Iya mbak pria di samping saya ini adalah calon suami saya," jawab Bunga singkat.
"Wah…selamat ya Bunga, akhirnya bentar lagi kamu menikah juga, kalau gitu nanti jangan lupa ya buat undang mbak, tapi sayang banget ya mbak gak bisa lihat wajahnya karena pakai masker dan mbak yakin kalau calon kamu bukanlah orang yang sembarangan," ujar mbak Sofi tersenyum menatap Dion.
"Haha…..iya mbak bisa aja, tapi dia cuma orang biasa kok mbak, sama seperti aku juga," jawab Bunga merendah.
"Ya tidak apa, yang penting calon kamu setia dan sayang sama kamu, tapi entah mengapa Bunga sepertinya mbak pernah melihat calon suami kamu ini deh, tapi dimana ya?" ucap mbak Sofi sambil berfikir.
Mendengar hal itu Bunga dan Dion pun menjadi terdiam, jangan-jangan Mbak Sofi mengenali Dion karena mereka pernah bertemu lima bulan yang lalu.
__ADS_1
Dan ketika ketakutan mereka berdua terasa di dalam hati, tiba-tiba saja Mbak Sofi dipanggil oleh seorang pria yang mendatangi dirinya.
"Sayang… ! Kamu kemana saja? Dari tadi aku cari kamu sayang," ucap seorang pria yang tak lain adalah suaminya mbak Sofi.
"Mas aku di sini, maaf ya karena sudah membuatmu merasa bingung," mbak Sofi langsung memeluk tubuh suaminya dan bersandar di dada suaminya yang tampak bulat dan berisi.
Suami mbak Sofi memang berbadan gemuk, selain itu dia juga tampak pendek lebih pendek dari mbak Sofi, tapi sepertinya mereka sangat saling mencintai, dan Bunga yang melihat ketulusan cinta mereka berdua pun menjadi terharu, ingin sekali dia merasakan cinta itu tanpa adanya cinta yang lainnya.
Tak lama kemudian terdengar suara mbak sofi yang berbicara kepada suaminya
"Mas kenalkan ini adalah Bunga mantan karyawan aku di salon," ucapnya sambil menunjuk ke arah Bunga.
"Oh ya perkenalkan saya adalah suaminya Sofi, nama saya Bram," suami mbak Sofi tampak tersenyum ramah sambil bersalaman kepada Bunga dan juga Dion.
Setelah itu mereka memutuskan untuk berbincang-bincang sebentar, lalu mbak Sofi mengajak Bunga untuk singgah ke Cafe melakukan makan siang bersama, dan hal itu tentu saja langsung di tolak oleh Dion, dia tidak mau kalau penyamarannya saat ini akan ketahuan oleh orang lain,karena jika itu terjadi maka yang paling tersuduti diantara mereka adalah Bunga.
"Maaf mbak, tapi kami baru satu jam yang lalu makan di cafe, dan keadaan perut kami masih kenyang mbak," tolak Dion dengan hati hati dan tetap terlihat sopan.
"Ya baiklah mbak, lain kali kita akan makan bersama,sekarang kamu kami pamit duluan mbak," ucap Bunga menggandeng tangan dion untuk pergi dari tempat itu.
Setelah melihat kepergian Bunga yang menghilang dari tatapannya langsung bergumam dengan suaminya.
"Kenapa ya mas, aku seperti mengenali sosok pria itu tapi aku tidak mengingatnya dan tidak bisa melihat wajahnya," ujar Sofi kepada suaminya.
"Ya mungkin saja kalau kamu memang mengenalinya, namun kau melupakannya memangnya ada masalah apa sih sayang?"
" Gak ada masalah apa apa aih mas, tapi aku hanya merasa penasaran aja, karena aku seperti tidak asing oleh pria itu, ingin sekali rasanya aku menarik masker calon suaminya Bunga, agar aku dapat melihat bagaimana wajahnya," ujar Sofi merasa sedikit kesal.
"Ya sudah tidak usah memikirkan hal itu lagi, sekarang ayo kita segera pergi ke cafe perut mas udah lapar sayang,"
****
__ADS_1
Sedangkan di wilayah tempat lain, tepatnya di rumah ibu laras telah terjadi ketegangan di antara kedua wanita yang baru saja bertemu itu.
Ibu laras memandang wajah wanita yang duduk di depannya, saat ini jujur saja dia sangat terpesona dengan kecantikan dari wanita itu yang tampak seperti orang berkelas dan juga memiliki kekayaan yang berlimpah.
"Maaf nona jika boleh tahu nama ini siapa ya? Kenapa bisa tahu tentang rumah ini?" tanya ibu laras kepada wanita yang ada di depannya.
Wanita itu tampak tersenyum miring dan dia menaikkan sebelah kakinya bertumpu di atas kakinya yang lain, wanita itu memakai pakaian yang sangat berkelas dan juga anggun, Ibu Laras menjadi rendah diri melihat hal itu ketika melihat wanita tersebut.
"Apakah benar ibu yang bernama ibu laras?" tanya wanita itu.
"Iya benar saya adalah ibu laras,"
"Itu artinya ibu adalah ibunya Bunga bukan?"
"Iya benar nona,memangnya ada apa ya nona,kenapa nona bisa mengenalo putri saya, apakah nona adalah teman dari i putri saya?"
"Teman….! siapa saya mau berteman dengan wanita seperti putri anda!" seru Riana menatap tajam.
"Maksudnya bagaimana? kenapa nona terlihat marah?"
"Asal anda tahu saya itu tidak sudi berteman dengan putri anda, dan kedatangan saya kemari bukan karena hal sia sia, tapi saya datang karena ingin mengatakan kepada Anda kalau putri anda Bunga sudah menggoda suami saya, sehingga dia tega mau merebut seorang pria beristri seperti suami saya," ucap wanita itu dengan nada yang marah.
Mendengar perkataan wanita itu, ibu Laras menjadi terdiam,sungguh dia sangat terkejut dan juga shock bahkan sampai memegang dadanya yang bergetar hebat.
Apa maksud perkataanmu ini! Kenapa kau mengatakan bahwa putriku telah mengganggu suamimu?" tanya ibu Laras tidak terima.
Riana tidak menjawab pertanyaan yang dikeluarkan oleh wanita paruh baya itu, namun dia malah mengeluarkan handphone miliknya dan memperlihatkan layarnya ibu Laras.
"Lihat apa yang ada di dalam video itu, apakah ini yang benar putri mu ibu Laras?" teriak Riana dengan suara keras.
Ibu Laras langsung terdiam membisu dan matanya berubah menjadi berkaca-kaca, rasanya dia ingin sekali menangis dan memegang jantungnya sendiri.
__ADS_1
" Bunga….! Kau benar-benar mengecewakan ibu," gumamnya meneteskan air mata.