Bukan Niatku Merebut Suamimu

Bukan Niatku Merebut Suamimu
Sikap manis Dion


__ADS_3

Sedangkan di kantor, saat ini Dion sedang menyelesaikan banyak pekerjaannya yang telah tertumpuk di atas meja, setiap harinya Dion merasa jika kejahatan semakin marak terjadi di lingkungan masyarakat, bahkan kasus yang sudah Dion tangani setiap harinya bisa mencapai 100 lebih kasus.


Kejahatan itu kebanyakan tentang penjualan obat obatan terlarang yang semakin hari semakin marak terjadi, hari ini Dion mendapatkan kasus dari seorang pengusaha yang ternyata memiliki usaha ilegal secara diam diam, Dion yakin pasti setiap tersangka yang sudah berhasil dia tangkap, akan mengingat baik wajah Dion dan menjadikan dirinya sebagai musuh.


Sebenarnya Dion khawatir dengan orang orang yang dekat dengan dirinya, tapi itulah resiko sebagai seorang polisi yang bertugas menumpas kejahatan.


"Apakah kau sudah menyuruh para bawahan kita untuk melakukan operasi? " tanya Dion menatap Rio dengan tatapan intens.


"Sudah, dan rencananya besok malam mereka akan bergerak, apakah kita tidak ikut untuk melakukan penggerebekan itu?"


"Tentu saja ikut, aku ingin melihat sendiri, seperti apa tampang dari pengusaha sombong itu setelah mengetahui siapa yang telah berhasil menangkap dirinya. " ucap Dion tersenyum menyeringai.


"Iya, tapi setelah itu kita harus hati hati Dion, aku rasa buronan kita kali ini mempunyai banyak relasi dan juga sekutu, sehingga dia tidak akan melepaskan kita begitu saja, " ucap Rio menginginkan.


"Iya kau benar, aku juga merasa seperti itu, makanya aku tidak suka kalau Riana terlalu mempublikasikan wajahku ketika bersama dengannya, karena aku takut kalau orang orang yang pernah berurusan denganku akan melakukan pembalasan dendam. "


"Kalau begitu, katakan kepada Riana dengan jelas, agar dia berhenti untuk mengumbar fotomu di akun media sosial, aku rasa istrimu semakin lama. terlihat semakin sombong, " ujar Rio menimpali.


Dion tersenyum kecut, benar yang dikatakan oleh Rio, kalau Riana memang semakin sombong di setiap harinya, entah apa yang membuat dia bisa berubah, mungkin karena Riana sudah memiliki karir cemerlang dan juga kehidupan yang mewah.


Setelah beberapa jam bekerja, akhirnya Dion mulai beristirahat, dia menatap arloji miliknya yang sudah menunjukkan pukul 1 siang, itu artinya dia sudah terlambat satu jam untuk melakukan makan siang.

__ADS_1


"Huh.... lelahnya, sepertinya aku terlalu keras bekerja,, dan saat ini aku membutuhkan gizi untuk menambah semangatku lagi, " ucap Dion tersenyum.


Dengan cepat dia mengeluarkan handphone miliknya dan segera menghubungi nomor sang kekasih tercinta.


"Bunga,aku merindukanmu," gumam Dion sambil melakukan video call.


Sedangkan ditempat lain, saat ini Bunga baru saja selesai melakukan pekerjaannya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci tangan.


Setelah selesai, Bunga mengeringkan tangannya menggunakan serbet yang menggantung di dalam kamar mandi itu, Bunga menatap wajahnya di depan cermin, merasa ngilu dengan perkataan yang dilontarkan oleh Riana beberapa menit yang lalu.


Wanita itu selain terlihat sombong dia juga suka merendahkan pekerjaan orang lain, bahkan tanpa berpikir terlebih dahulu dengan lancang Riana mengatakan kepada Bunga "Kenapa Bunga tidak bekerja sebagai seorang dokter saja, dari pada harus menjadi seorang tukang salon yang kerjaannya melayani wanita lain, memegang, memijat dan mengelus kaki wanita lain hanya demi bisa mendapatkan uang," sungguh hati Bunga terasa ngilu, bagaimana mungkin ada orang seperti Riana yang dengan mudah mengomentari pekerjaan orang lain.


"Apakah benar kalau di adalah mbak Riana, istrinya mas Dion, aku rasa wanita itu benar-benar sangat menjengkelkan," ucap Bunga geram.


"Mas Dion, ya Tuhan..! mas Dion mau melakukan video call kepada ku, sedangkan wajahku tampak terlihat kusam dan jelek, tapi biarlah, biar dia tahu kalau aku memang bukan wanita yang cantik."


Bunga langsung mengangkat panggilan itu dan tersenyum manis menatap wajah seorang pria yang terlihat sangat tampan


Jujur saja saat ini jantung Bunga berdetak hebat ketika melihat senyuman manis yang dilontarkan Dion kepada dirinya, sepertinya Bunga benar-benar telah jatuh kedalam jurang cinta terlarang tersebut.


"Apa ini? kenapa aku merasa berbeda ketika menatap wajah mas Dion, jantungku juga berdetak hebat dibuatnya, apakah benar kalau aku telah jatuh hati kepada mas Dion? tapi bagaimana dengan mbak Riana, kenapa nasibku harus menjadi seorang pelakor, " gumam Bunga sambil menyentuh dadanya menggunakan tangan.

__ADS_1


Dion yang melihat kelakuan Bunga pun tersenyum dengan tipis, dia langsung menggoda Bunga dengan kemesuman miliknya.


"Sayang, kenapa kau menyentuh buah dadamu seperti itu? apakah kau menginginkanku untuk menyentuhnya lagi?" tanya Dion menggoda.


Bunga tersadar dengan apa yang dia lakukan, sungguh wajah Bunga merona memerah merasa malu atas apa yang dia lakukan barusan.


"Mas, apaan sih, aku gak bermaksud kayak gitu kok, jangan salah paham mas," sangkal Bunga kepada Dion.


"Aku tahu, kalau kamu pasti malu ya sama aku, dengar ya sayang saat ini kau itu sudah menjadi milikku, jadi jangan bersikap seperti itu, oya apakah kau sudah makan siang? "


"Belum mas, soalnya aku baru saja selesai melayani pelanggan, kebetulan hari ini di salon rame mas. "jawab Bunga menjelaskan.


" Benarkah, ya sudah kalau begitu cepat makanlah ini sudah hampir pukul satu lewat sayang,"


"Iya, tapi kamu juga ya mas, aku tahu kamu pasti belum makan siang juga, "


"Iya sayang," jawab Dion tersenyum manis, dia sungguh bahagia mendapatkan perhatian dari wanita yang kini sudah memenuhi hatinya.


Hingga tak lama kemudian, Bunga di kejutkan oleh seorang wanita yang masuk kedalam kamar mandi tersebut, dengan replek Bunga sampai menjatuhkan handphone milik nya dengan wajah Dion yang masih terpampang jelas di dalam layar tersebut.


"Nona Riana, " teriak Bunga merasa terkejut.

__ADS_1


"Bunga.. kau.....! "


Deghh........


__ADS_2