
"jadi apa keputusanmu Mas?" tanya Bunga menatap tajam kearah wajah Dion.
Sedangkan Dion hanya diam membisu, dia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dia menceraikan Riana dalam keadaan hamil, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Bunga pergi meninggalkan dirinya.
Melihat sikap Dion yang hanya diam, Bunga pun tak henti hentinya meneteskan air mata. Sungguh rasanya benar benar sakit. Tapi inilah konsekuensi yang memang harus dia tanggung sedari awal ketika berani memilih jalan yang salah itu.
"Kenapa diam Mas? Apakah kau tidak bisa menjawab pertanyaanku ini? tanya Bunga meneteskan air mata.
Melihat kesedihan Bunga, Dion menjadi tidak tega. Dia puji hendak melangkah mendekati Bunga dan memeluk tubuh wanita yang sangat dia cintai itu. Namun Bunga sudah duluan merentangkan sebelah tangannya sebagai tanda berhenti.
"Cukup Mas Dion! Aku sudah lelah dengan semua ini, bukan hanya cacian saja yang aku dapatkan, tapi aku juga selalu bertengkar dengan keluargaku. Mungkin kita memang tidak mempunyai jodoh. Dan kau di takdirkan untuk mempertahankan pernikahanmu bersama Mbak Riana. Sekarang izinkan aku pergi Mas. Aku sudah memutuskan jika saat ini juga hubungan kita berdua sudah putus."
__ADS_1
Deghhh.....
Mendengar perkataan Bunga, jantung Dion langsung berdebar kencang, sungguh dia tidak bisa menerima atas keputusan yang wanita itu berikan untuknya.
"Tidak! Aku tidak bisa menerima keputusanmu ini Bunga! Kita tidak bisa berpisah, karena kau sudah menjadi milikku." ucap Dion mencekal tangan Bunga yang hendak pergi dari cara tersebut.
Untung saja mereka berada di ruangan VIP, jadi tidak akan satu orang pun yang dapat melihat dan mendengar pertengkaran mereka berdua.
Setelah mendapatkan telfon dari sang ibu, Bunga pun langsung mengajak Dion untuk segera bertemu. Dion yang sedang berada di kantor pun dengan terpaksa mengikuti permintaan Bunga. Dia berbohong kepada para bawahannya agar tidak terlihat suka membolos.
"Lepaskan tanganku Mas! Atau aku akan membencimu untuk selamanya,"
__ADS_1
Mendengar teriakan Bunga yang mengancam dirinya, tentu saja membuat Dion menjadi tersadar dari lamunannya. Dia tidak mau kalau sampai wanita yang dia cintai membenci dirinya.
Dengan terpaksa Dion pun melepaskan pegangan tangannya di lengan tangan Bunga. Membuat Bunga kembali meneteskan air mata.
"Terimakasih untuk semuanya Mas Dion. Karena kau sudah memberikanku banyak hal yang tidak pernah aku miliki sebelumnya. Sekarang aku kembalikan semua kartu milikmu. Dan aku akan pergi dari kehidupanmu untuk selama lamanya. Berjuanglah Mas. Agar kau dapat menumbuhkan cinta kembali kepada istrimu Mbak Riana. Ini semua demi kedua anakmu," ucao Bunga sambil meletakkan kartu yang diberikan oleh Dion.
Setelah itu Bunga melangkah pergi meninggalkan ruangan VIP tersebut, sedangkan Dion hanya bisa diam sambil menahan rasa sakit di bagian dadanya.
"Akhhggggrrr.....!"
"Kenapa semua ini terjadi! Aku sungguh benci dengan takdir ini. Aku tidak bisa melepaskanmu Bunga! Dan aku tidak bisa hidup tanpa dirimu!" teriak Dion histeris.
__ADS_1
Pria itu benar-benar merasa marah, sampai membuang seluruh pesanan yang belum tersentuh oleh mereka berdua, Bahkan meja kaca yang ada di depannya pun sudah hancur karena Dion menendangnya hingga terjengkang.
Entahlah, Dion sudah seperti orang kesetanan, dia tidak bisa berfikir dengan jernih saat ini.