
Plakkk… .
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi Bunga, membuat Bunga maupun Dion merasa sangat terkejut, Dion tidak bisa menerima perlakuan ibu kandung kekasihnya tersebut, karena bagi Dion hal itu sudah di luar batas wajar.
"Apa yang ibu lakukan! Kenapa ibu menanpar putri ibu sendiri?" tanya Dion memasang wajah marah.
Mendapatkan pertanyaan itu ibu Laras langsung mengarahkan pandangannya kearah Dion, dia tidak mengenal siapa pria yang di bawa oleh putrinya saat ini, apakah pria itu adalah pria yang sudah menjadikan Bunga selingkuhannya..
Dengan gerakan cepat ibu Laras menyuruh mereka berdua untuk masuk kedalam rumah, jangan sampai berita tidak baik itu diketahui oleh para tetangga julidnya.
"Masuk sekarang," kata ibu Laras menatap Bunga.
Tanpa banyak bertanya Bunga dan Dion melangkah masuk kedalam rumah, sehingga tak lama mereka melihat ibu Laras yang tampak menutup pintu rumah miliknya.
"Duduklah, ibu ingin bicara hal serius denganmu,"
Kini Dion dan Bunga sudah duduk di kursi ruang tamu, kursi itu bukanlah kursi yang bagus, hanya kursi jaman yang sudah lumayan usang tapi kayunya masih tampak kuat.
Dion meneliti sekitar dalam rumah Bunga menggunakan kedua matanya, dia sungguh tidak pernah menyangka kalau Bunga benar-benar seorang wanita yang berasal dari kalangan biasa.
"Maaf karena ibu sudah menamparmu Bunga, jujur ibu juga tidak tahu harus berbuat apa lagi, tapi apa yang kau lakukan sungguh telah mengecewakan ibumu ini Bunga," Ibu Laras mulai menatap kedua mata Bunga sambil meneteskan air mata.
Membuat Bunga merasa heran sekaligus ikut bersedih.
"Iy, tidak apa ibu, aku Terima kalau ibu menampar wajahku, tapi kalau boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi ibu? Kenapa ibu sangat marah kepada Bunga?" Tanya Bunga yang belum mengerti akan kesalahan dirinya.
Kini tatapan ibu Laras mengarah menatap Dion, dan dia kembali mengeluarkan pertanyaannya kepada Bunga.
__ADS_1
"Bunga, siapa pria yang kua bawa saat ini? Apakah dia kekasihmu?" tanya ibu Laras terdengar lirih.
"Iya, dia Kekasihku bu,"
"Apakah dia adalah seorang pria beristri?" tanya ibu Laras kembali membuat mereka berdua merasa sangat terkejut.
Dion dan Bunga saling menatap antara satu sama lain, kalau sudah begini sepertinya sangat salah jika Dion harus menutupi status dirinya yang sebenarnya.
Hingga akhirnya dengan tegas Dion mengarahkan pandangan matanya untuk menatap wajah ibu Laras.
"Ibu, perkenalkan nama saya adalah Dion, saya adalah seorang polisi, dan tidak baik jika saya harus berbohong atas status saya yang sebenarnya, sekarang saya akan jujur kepada ibu, jika saya adalah seorang pria yang sudah beristri, saya mempunyai anak satu seorang putra, sedangkan hubungan saya dengan Bunga saat ini, kami telah menjalin hubungan sebagai pasangan yang saling mencintai , jadi saya berharap agar ibu mau merestui kami berdua ibu," ucap Dion dengan tegas, dia bisa melihat kalau ibu Laras sudah memasang wajah yang penuh dengan kekecewaan.
"Jadi benar kalau kau adalah seorang pria beristri, lalu kenapa kau masih berani mengganggu putriku Bunga hah..! Aku tahu kau pasti hanya ingin mempermainkan dirinya saja kan! Apalagi setelah kau mengetahui kalau Bunga bukanlah anak orang kaya, aku tahu kau pasti semakin memanfaatkan keadaan Putriku kan?" tanya ibu Laras menuduh Dion sambil meneteskan air mata.
Mendengar tuduhan yang diucapkan oleh ibunya kepada Dion, Bunga pun merasa kesal.
"Lalu apa yang harus ibu katakan Bunga..! Apakah harus ibu mengatakan kalau kalian benar benar saling mencintai, dan untukmu sendiri, di mana fikiran warasmu itu Bunga, bagaimana bisa kau berpacaran dengan seorang pria yang sudah beristri, apakah stok pria lajang di luar sana sudah habis Bunga!" ucap ibu Laras berteriak.
Mendengar teriakan itu Bunga langsung terdiam, sebenarnya siapa yang sudah memberitahu kepada ibunya soal hubungannya bersama Dion.
"Sebenarnya siapa yang sudah memberitahukan ibu kalau aku telah menjalin hubungan dengan suami orang?" tanya Bunga merasa penasaran.
"Asal kau tahu saja Bunga, tadi pagi ada seorang wanita cantik yang datang kerumah kita, dan orang itu mengatakan kepada ibu agar mau menasehatimu, karena kau sudah berani menggoda dan merebut suaminya, bisa kau bayangkan betapa malunya ibumu inj Bunga…. !"
Deghhh… … .
Mendengar penjelasan ibunya Bunga dan Dion terdiam membisu, ternyata Riana sudah bergerak maju tanpa terlihat gerak geriknya.
__ADS_1
"Jadi inj semua adalah ulah Riana..! Wanita itu benar-benar membuatku merasa marah," gumam Dion sambil meremas kedua tangannya.
Setelah itu Dion bangkit dari duduknya dan berjalan kedepan meja, dia berdiri hingga tak lama kemudian Dion tampak berlutut mengarah ke arah ibu Laras, melihat apa yang dilakukan oleh Dion ibu Laras merasa sangat terkejut.
"Ibu, mungkin ini akan terdengar tidak logis untukmu, tapi ini lah sebenarnya aku rasakan dan aku tidak bisa jika harus kehilangan putrimu, sungguh aku sangat mencintainya ibu, maaf karena telah menarik Bunga masuk kedalam kehidupan rumah tangga ku, tapi sungguh aku benar-benar tulus kepadanya ibu, aku mohon izinkan aku untuk menjalin hubungan bersama putrimu, aku janji akan mengambil keputusan secepatnya," ucap Dion dengan mata yang penuh ketulusan.
Mendengar perkataan Dion, Ibu Laras langsung meneteskan air mata, dia sungguh tidak tahu harus menjawab apa.
"Tapi nak Dion, kau sudah mempunyai seorang istri, jadi mau kau apakah putriku Bunga Dion?"
"Aku akan menceraikan istriku bu,karena sedari awal kami berdua memang sudah tidak memiliki kecocokan, aku mohon berikan aku kesempatan ibu, tolong restui kami,"
Mendengar permohonan Dion, Ibu Laras mulai menatap kearah Bunga, putrinya itu tampak meneteskan air mata, dan dia memegang tangan ibu Laras dengan erat.
"Aku mohon bu, restui hubungan kami ini, aku janji tidak akan membuat ibu malu, dan mas Dion pasti akan segera menepati janjinya,"
"Tapi Bunga, kau sungguh telah berdosa karena menjandakan seorang wanita Bunga, apakah kau tidak memikirkan bagaimana perasaan wanita itu nak?"
"Aku tahu bu! Tapi aku tidak tahu harus bagaimana, aku sudah terlalu jauh masuk kedalam jurang ini bu, dan aku tidak bisa untuk keluar kembali,"
"Bunga, namamu selamanya akan jelek dan di ingat oleh banyak orang sebagai seorang pelakor, apakah kau sudah siap untuk menanggung semua itu Bunga?"
"Iya, aku sudah siap bu!" jawab Bunga penuh percaya diri.
"Apakah kau yakin Bunga, kau akan di caci dan di cerca oleh semua orang, dan ibu tidak dapat membelamu lagi,"
Ibu Laras meneteskan air mata hingga deras, sungguh hatinya merasa sakit ketika melihat takdir buruk yang di pilih oleh putrinya sendiri, tapi apa mau dikata, terkadang cinta memang suka datang secara tiba-tiba, tanpa melihat status dan juga keadaan.
__ADS_1
Dan kini Bunga bersama Dion benar-benar telah membuka api untuk mereka sendiri, sudah sepantasnya jikalau mereka harus kuat untuk menjalankan panasnya api tersebut.