
Ibu Laras masih diam terpaku sambil duduk meneteskan air mata, dia sungguh sangat syok mendengar kenyataan yang baru saja dia lihat dan dia dengar dari seorang wanita yang baru saja keluar dari rumahnya. Bagaimana mungkin ada seorang wanita cantik yang datang ke rumahnya dan mengatakan kalau suaminya telah digoda oleh putrinya yaitu Bunga, sungguh kenyataan itu benar-benar menyakiti hati ibu Laras.
Lalu apakah benar selama ini tuduhan orang-orang yang mengatakan kalau Bunga adalah seorang wanita bayaran? Sedangkan dirinya berusaha mati-matian untuk membela putrinya dan memperbaiki nama baik putrinya di mata seluruh masyarakat.
Namun pagi ini Ibu Laras sungguh merasa sangat terkejut, rasanya jantungnya sakit bagai diremas-remas ketika mengetahui putrinya adalah seorang perebut suami orang alias pelakor.
"Hiks…hiks..hiks…! Kau benar-benar tega kepadaku Bunga, kau telah menaruh kotoran di wajahku, apakah nasehatku tidak kau dengarkan sehingga kau berani mengambil pilihan buruk ini, sungguh aku sangat kecewa kepadamu Bunga," ucap Ibu Laras meneteskan air mata.
Hingga tak lama kemudian ibu Laras dikejutkan oleh kedatangan putranya yaitu Adit, Adit benar-benar syok ketika melihat ibunya tampak menangis sedih.
"Ibu ada apa denganmu? Kenapa kau meneteskan air mata seperti ini! Apakah ada yang menyakitimu lagi ibu?" tanya Adit berjongkok di depan ibunya sambil memasang wajah panik.
Melihat kedatangan putranya itupun Ibu Laras semakin menangis histeris, sungguh dia merasa malu dan juga bingung ketika akan menjawab pertanyaan dari putranya tersebut.
"Tidak nak ibu tidak apa-apa, Ibu hanya sedang bersedih saja," jawab Ibu Laras mencoba menutupi kesedihannya.
"Bohong! Kau pasti bohong kepadaku, Ibu sebenarnya ada apa? Coba katakan yang sejujurnya kepadaku bu?"
"Tidak ada apa-apa Adit, Ibu hanya sedang merasa ingin menangis saja,"
"Ibu jangan membuatku merasa kesal, aku tahu ibu mempunyai masalah, cepat katakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?" paksa Adit merasa kesal.
Tangisan Ibu Laras semakin sedih, dia memeluk putranya dan Adit mencoba untuk menenangkannya.
"Adit tadi ada seorang wanita cantik yang datang ke rumah ini, dia tampak sangat kaya gayanya juga elegan dan berkelas, lalu dia masuk ke rumah kita dan bertemu dengan ibu," jelas Ibu Laras yang mulai menceritakan kepada putranya.
"Lalu apa hubungannya dengan wanita cantik itu? Apakah ibu mengenalnya dan apakah dialah orang yang telah membuat Ibu menjadi sedih?" tanya Adit tidak sabar.
"Iya nak, ibu merasa sedih karena wanita itu mengatakan bahwa suaminya telah direbut oleh kakakmu Bunga,"
"Maksud Ibu kak Bunga menjadi perebut suami orang? "tanya Adit memasang wajah memerah sambil memastikan apa yang dia dengar barusan.
"Iya nak, sungguh ibu merasa sangat sedih, rasanya hati ibu hancur berkeping-keping, bagaimana mungkin putri yang ibu sanjung-sanjungkan dan ibu bela mati-matian di depan para masyarakat yang menggosipkan dirinya ternyata benar-benar telah mengecewakan ibu, dia telah menjadi seorang perebut suami orang Adit, sungguh ibu sangat kecewa dengannya," jelas Ibu Laras meneteskan air mata.
Melihat kesedihan ibunya Adit kembali memeluk tubuh ibu Laras, di dalam hatinya dia benar-benar merasa marah dan dia ingin sekali segera menelfon kakaknya agar segera pulang.
"Kak Bunga! Dia benar-benar sudah keterlaluan, jadi kita tidak boleh membiarkannya begitu saja Bu, kita harus melarangnya sebelum semuanya terlambat, aku akan segera menelpon kakak bu," kata Adit berdiri dan langsung mengeluarkan handphone miliknya.
__ADS_1
****
Sedangkan di dalam mall Bunga masih asyik belanja, lalu dia menghentikan langkahnya ketika mendengar handphonenya berdering.
"Siapa yang menelponmu sayang?" tanya Dion menatap kearah Bunga.
"Adikku Adit Mas, sepertinya ada hal yang penting soalnya jarang-jarang dia nelponku," kata Bunga sambil mengangkat handphone miliknya.
Dan ketika telfon itu tersambung Bunga langsung dikejutkan oleh suara teriakan dari adiknya itu.
"Kak Bunga...! Kau di mana sekarang? Aku harap kau pulang sekarang juga!" Seru Adit dengan tegas.
"Memangnya ada apa Dit? Kakak sedang sibuk saat ini," jawab Bunga mencoba memberi alasan kepada adiknya.
"Sibuk apa yang kau maksud? Kau jangan banyak berbohong karena kami sudah tahu apa yang kau sembunyikan selama ini, jadi sekarang kau pulanglah, atau tidak kau tidak usah pulang sekalian,"
"Baiklah kakak akan pulang, tapi setidaknya beritahu dahulu ada apa sebenarnya? Kenapa kau merasa marah seperti itu?" tanya Bunga merasa penasaran.
"Aku tidak akan marah kalau kau tidak membuat masalah dan kali ini kau benar-benar telah mempermalukan keluarga kita,"
"Mempermalukan keluarga kita apa maksudmu adit! Jangan berkata sembarangan!"
Mendengar hal itu Bunga mengernyitkan keningnya heran, dia menatap ponsel yang masih di genggaman tangannya itu.
"Ada apa sayang? Kenapa aku mendengar sepertinya ada orang yang sedang memarahim?" tanya Dion merasa penasaran.
"Iya Mas, tadi adikku yang menelpon sepertinya dia merasa sangat marah kepadaku,"
"Marah! Marah kenapa? Apakah karena kau jarang kembali pulang kerumahmu?"
"Aku juga tidak tahu Mas, tapi dia menyuruhku agar segera pulang sekarang juga, lebih baik kita pulang sekarang ayo mas,"
"Tunggu Bunga, sebelum pulang ada baiknya kita memberikan sesuatu untuk Ibumu seperti kue atau pun barang-barang yang belum Ibu memiliki," ucap Dion tersenyum.
"Wah itu ide yang bagus Mas, kalau begitu ayo kita membeli sesuatu untuk ibuku dan juga adikku agar dia tidak marah lagi kepadaku," ajak Bunga untuk kembali berbelanja barang-barang yang ingin dia berikan kepada ibunya dan juga adiknya.
Hingga beberapa beberapa jam kemudian Bunga pun sudah keluar dari dalam mall dan mereka telah menaiki mobil untuk segera pulang ke rumah Bunga.
__ADS_1
Di dalam mobil Dion terus mendesak Bunga agar dirinya diberikan kesempatan untuk bertemu oleh kedua orang tua Bunga, Dion ingin sekali mampir ke rumah wanita itu dan bersalaman kepada kedua orang tua Bunga, karena Dion sudah sangat ingin serius kepada Bunga.
"Kenapa aku tidak diperbolehkan untuk mampir ke rumahmu sayang? Apakah kau belum bisa mempercayaiku? " tanya Dion sambil fokus menatap jalan raya.
"Bukannya aku tidak percaya Mas, tapi saat ini statusmu masih sebagai suami orang, sungguh Ibuku pasti akan marah jika mengetahui hal tersebut mas,".
"Kalau begitu Jangan beritahu ibumu, bilang saja aku ini adalah seorang duda,"
Mendengar perkataan Dion, Bunga pun langsung mengarahkan pandangannya kearah wajah pria tampan itu, apakah pantas kalau dia mengatakan jika dia adalah duda, bagaimana dengan Riana, Bunga mulai berpikir di dalam hatinya.
"Apakah tidak apa-apa kalau aku mengatakan mas Dion adalah seorang duda?"
"Tentu saja tidak apa-apa, bukankah perkataan adalah doa, jadi tidak ada salahnya jika kau berdoa aku bisa cepat menjadi duda agar aku bisa menikahimu dengan segera," jawab Dion tersenyum.
"Baiklah jika itu maumu mas," jawab Bunga.
Hingga tak lama kemudian mereka sudah tiba di lorong rumah Bunga, kebetulan lorong rumah itu tidak bisa dimasuki oleh mobil karena jalanannya terlihat sempit sehingga dengan terpaksa Bunga dan Dion pun keluar dari dalam mobil, setelah memarkirkan mobilnya di samping lorong tersebut, mereka memilih berjalan kaki untuk menuju kerumah Bunga, dan saat mereka berjalan banyak mata yang memandang tajam ke arah mereka dan orang-orang itu adalah tetangga yang dekat dengan rumah Bunga.
.
Hingga tak lama Bunga mendengar hingar bingar suara bisikan dari ibu-ibu itu, Bunga yakin pasti dirinya akan menjadi bahan gosip yang trending di kampung miliknya besok.
"Huh....! Nasib banget jadi aku, selalu digosipin dan diperhatikan oleh mereka semua, semoga saja mereka tidak mengetahui kalau Mas Dion adalah suami dari wanita lain, karena jika tidak maka aku akan habis habisan di-bully oleh mereka semua," Gumam Bunga di dalam hati sambil melangkahkan kakinya menuju ke rumah dengan perasaan yang tidak bahagia.
Dan Setibanya di depan pintu Bunga langsung mengetuk pintu yang tertutup itu, sedangkan Dion dia memperhatikan rumah Bunga yang tampak terlihat dari kata sangat sederhana, karena rumah Bunga sudah seperti rumah tua yang hampir saja ambruk.
"Sayang apakah ini benar-benar rumahmu?" tanya Dion menatap heran.
"Iya ini adalah rumahku Mas, memangnya kenapa? Apakah rumahku terlihat jelek?" tanya Bunga merasa malu.
.
"Tidak, tapi rumah ini sudah tidak untuk di huni sayang, aku takut rumah ini akan ambruk ketika ada sesuatu yang terjadi,"
Mendengar kekhawatiran yang ditunjukkan oleh Dion, Bunga pun merasa bahagia setelah ketika mereka aktif berbincang, tiba-tiba saja untuk rumah mulai terbuka dan Dion serta Bunga menghentikan pembicaraan mereka untuk menatap ke arah pintu.
Dan betapa terkejutnya Bunga saat menyaksikan ibunya memasang wajah kesal menahan amarah dan mata dari wanita itu tampak bengkak dan juga sembab. .
__ADS_1
"Ibu ada apa denganmu Bu?" tanya Bunga terkejut.