Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 21. Penasaran


__ADS_3

"Kotak obat ada di kosku. Kita akan ke sana untuk mengobati lukamu."


Eiger berjalan lebih dulu meninggalkan Zoe. Dia mencoba mengalihkan pertanyaan gadis itu bahwa dirinya memang terlihat berbeda.


"Eiger, tunggu!" teriak Zoe.


Saat Eiger berjalan lebih dulu, rupanya gadis itu merasa kesal karena diabaikan. Perlahan Zoe mulai mengimbangi jalan Eiger menuju ke kosnya. Rasa sakit di lututnya telah diabaikan sementara waktu. Hanya lecet sedikit, tidak terlalu parah juga, kan.


Hampir mencapai tempat kosnya, Eiger mampir sebentar untuk membeli bahan makanan. Tak lupa juga dia membelikan untuk tamu yang tidak terduga. Sementara Zoe menunggunya di depan supermarket lantaran dia tidak memegang uang cukup banyak untuk berbelanja di sana.


Saat menunggu Eiger di luar, seorang gadis baru saja turun dari mobilnya. Dia terlihat sangat sombong dengan penampilannya yang terlihat kaya.


Saat pandangannya beradu, Zoe pikir gadis itu mau masuk ke dalam supermarket. Nyatanya tidak. Gadis itu malah berdiri tepat di hadapan Zoe.


"Kenapa? Sepertinya tatapan matamu itu tidak suka saat melihat aku datang ke sini," ucap gadis itu.


"Aku? Aku tidak bermaksud seperti itu. Kau hanya salah paham, Nona," ucap Zoe lirih.


"Lain kali jaga mata. Jangan sampai karena matamu itu membuat orang lain kesal."


Gadis sombong versi Zoe itu kemudian masuk ke supermarket. Namun, langkahnya terhenti saat Eiger keluar menenteng beberapa kantong belanjaan.


"Eiger!" sapa gadis itu.


Zoe terkejut. Rupanya gadis sombong yang ditemuinya barusan ternyata mengenal Eiger. Eiger mencoba bersikap biasa saja menghadapi gadis yang ada di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Eiger.


"Aku mencarimu. Kamu ke mana saja? Aku mencoba menghubungi ponselmu, tetapi kamu tidak mengangkatnya."


Jelas saja, setelah terakhir kalinya Biana datang ke mansion, setelah saat itulah Eiger memblokir nomornya.


"Untuk apa? Bukankah kita sudah berakhir?"


Ya, Eiger benar. Hubungannya dengan Biana sudah berakhir beberapa waktu lalu. Namun, saat Biana melihat live tentang acara yang diadakan oleh keluarga besar Willard malam ini, mendadak pikirannya berubah.

__ADS_1


Biana menganggap ucapan Eiger tempo hari hanya untuk memberikan prank pada dirinya. Itulah mengapa dia sengaja mencari Eiger sampai ke sini.


"Pulanglah! Ini sudah malam." Eiger sengaja mengusir Biana karena dia juga ingin lekas pulang.


Hampir saja Eiger lupa kalau dirinya tidak sendirian saat ini. Dia melihat Zoe berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini. Gadis itu bisa saja salah paham melihat pandangan yang rumit ini.


Eiger menuju ke arah Zoe. Dia berniat untuk pergi dari hadapan Biana. Namun, gadis itu agaknya tidak mau mengalah begitu saja saat tahu Eiger mendekati gadis yang sudah membuatnya kesal malam ini.


"Eiger, siapa dia?" tanya Biana setelah berbalik arah.


"Siapa pun dia, itu tidak ada urusannya denganmu. Lebih baik kau pulang sekarang. Papa dan mamamu pasti sudah menunggu."


Eiger menarik tangan Zoe untuk lekas pergi dari supermarket itu. Biana tidak terima. Dia meminta beberapa bodyguard-nya untuk mengejar Eiger dan gadis menyebalkan itu.


Eiger bersiap menghajar bodyguard mantan kekasihnya itu. Dia merasa privasinya sudah sangat terganggu. Dia menyerahkan beberapa kantong belanjaan supaya dibawa oleh Zoe. Barulah Eiger berkelahi untuk mengusirnya. Sebenarnya ini pertarungan yang tidak imbang. Eiger harus melawan dua bodyguard sekaligus.


Tidak hanya Eiger yang babak belur, kedua bodyguard itu pun sama halnya. Eiger berhasil mengalahkan mereka saat Zoe membantunya melempari beberapa buah-buahan yang sengaja dibeli Eiger malam ini. Setelah bodyguard berbadan kekar itu dikalahkan, Biana bertindak.


"Cukup, Eiger. Aku minta maaf, tetapi tolong jelaskan padaku. Siapa gadis itu?" tanya Biana.


"Dia kekasihku."


Biana tidak lagi mengejar. Dia membiarkan sepasang laki-laki dan perempuan itu pergi dari hadapannya. Ada rasa sakit yang mendera saat tahu Eiger sudah mendapatkan penggantinya.


Eiger melepaskan tangan Zoe. Tempat kosnya memang sudah tidak jauh dari posisinya berdiri saat ini.


"Eiger, siapa gadis itu?"


"Kenapa? Kamu merasa terganggu, ya?"


"Bukan. Aku hanya tidak nyaman dengan tatapannya. Ya, walaupun aku bukan gadis bodoh, tetapi aku sadar kalau kau hanya berpura-pura demi membuatnya cemburu. Benar begitu, kan?"


Eiger tidak peduli. Entah itu kata cemburu, atau dia sengaja membalas kesakitan yang ditimbulkan gadis itu padanya.


"Lebih baik kau tunggu di sini," pinta Eiger. Dia tidak mau membahas terlalu jauh mengenai Biana.

__ADS_1


Sebuah kursi yang ada di depan rumah berukuran kecil. Tempat kosnya itu memang berada di kawasan gang sempit. Saat malam, suasananya memang sepi. Tidak banyak orang yang lalu lalang di sana.


Tak lama, Eiger keluar membawa dua botol air mineral. Dia menyerahkan satu botol pada Zoe.


"Apa masih sakit?" tanya Eiger saat berjongkok di depan Zoe.


"Tidak. Mungkin sudah hampir kering."


Eiger membersihkan luka itu dengan kapas dan cairan pembersih luka. Setelah itu, dia mengeringkannya dengan kapas yang lain. Entah, ini pengobatan dengan cara yang salah atau benar. Baginya, itu tidak terlalu penting.


"Terima kasih," ucap Zoe setelah Eiger menutup lukanya dengan plester.


"Ini tempat tinggalku. Kalau kau mau istirahat lebih dulu, silakan masuk. Aku akan pergi ke dapur lebih dulu untuk menyiapkan makan malam."


Canggung. Itulah rasa yang mendera hati Zoe. Dia memang membutuhkan tempat tinggal untuk semalam, bukan berarti dia akan tinggal berdua dengan pria asing.


Saat hatinya menolak, tetapi jiwanya setuju untuk masuk ke ruangan yang tidak terlalu besar itu. Zoe memutuskan untuk duduk di ruang tamu yang terlihat sederhana dan bersih.


"Ini tempat kos. Kenapa Eiger berubah cukup drastis? Bukankah beberapa waktu lalu dia masih terlihat seperti orang kaya?" ucap Zoe dalam hati.


Aih, saat Zoe memikirkan dirinya sendiri. Dia lupa kalau Eiger juga terluka saat pria itu mencoba menolong dirinya.


"Ayo di makan!" perintah Eiger.


Laki-laki itu membawa dua piring berisi spaghetti bolognese. Penampilannya tidak terlalu menarik, tetapi aromanya membuat perut yang lapar ingin segera memakannya.


"Aku masih bingung dengan dirimu, Eiger."


"Kenapa? Aku tidak memiliki rahasia apa pun."


Justru itulah yang ingin diungkap Zoe. Sayang, rasa laparnya membuat Zoe hilang kendali. Dia langsung menikmati sepiring spaghetti di hadapannya.


"Aku ingin tahu siapa kau? Kenapa kau bersikap baik kepadaku? Kenapa kau tinggal di rumah kecil seperti ini? Bukankah kau berasal dari keluarga kaya?"


Sanggupkah Eiger menceritakan kisah kelamnya yang baru-baru ini diketahui? Tidak. Itu cukup untuk dirinya saja. Orang lain tidak perlu tahu.

__ADS_1


"Aku hanya bekerja sebagai sopir pribadi di keluarga kaya, tetapi itu beberapa hari yang lalu. Aku sudah dipecat."


Eiger pikir Zoe akan percaya begitu saja. Tidak. Sekali lagi perlu Eiger tahu bahwa Zoe memahami situasinya. Tentang Eiger, kebohongannya, dan gadis sombong yang ditemuinya hari ini.


__ADS_2