
"Nona, maafkan kami," ucap salah satu bodyguard yang sudah babak belur itu.
"Lain kali jangan kecewakan aku!" tegur Biana.
Usahanya untuk mendapatkan Eiger kembali agaknya mengalami kendala. Bukan saja tentang keluarganya yang mulai menghindar, tetapi juga Eiger yang diam-diam sudah dekat dengan gadis lain.
"Baik, Nona. Sekarang kita mau ke mana lagi?"
Biana tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Tidak masalah. Lain kali dia pasti akan mendapatkannya.
"Awasi Eiger! Ke mana pun dia pergi, ikuti. Tapi, jangan sampai dia tahu kalau kalian sedang mengawasinya."
Penyesalan yang mendalam saat Biana menyadari bahwa dia tidak mampu berpisah dengan kekasihnya. Semuanya memang sudah terlambat, tetapi ini tidak akan menjadi masalah saat Eiger masih bisa ditemukan.
Biana lekas masuk ke dalam mobil. Malam ini merupakan malam yang mengejutkan sekaligus melelahkan. Kalau sudah seperti ini, dia akan meminta tolong pada papanya untuk mengikat Eiger dengan sangat erat.
Setelah pertemuannya dengan Eiger, Biana memutuskan pulang. Turun dari mobil tidak membuat suasana hati Biana tenang. Dia malah semakin cemas dengan apa yang terjadi barusan. Bagaimana kalau Eiger sudah jauh dan tidak mungkin digapainya kembali?
"Ada apa, Sayang?" tanya papanya saat melihat Biana baru saja memasuki rumah mewah yang hampir menyerupai mansion itu.
"Dad, bisakah kamu membantuku?"
"Hemm, tentu saja. Apakah ini mengenai Eiger?"
"Ah, Daddy selalu luar biasa. Tanpa aku ceritakan, Daddy sudah memahami isi hatiku. Terima kasih, Dad."
Bagaimana papanya tidak bisa memahami putri tunggalnya itu? Sedari siang sudah diajak untuk menghadiri acara yang diselenggarakan oleh keluarga kekasihnya, Eiger. Tapi, dengan tegas dia menolak. Itu tidak mungkin terjadi karena Eiger sudah menjelaskan bahwa dia bukanlah bagian dari Willard.
Ternyata, rasa ingin tahu Biana cukup tinggi. Dia sudah standby di depan televisi sejak acara itu dimulai. Fokus Biana tertuju pada pasangan suami istri yang lebih tepatnya sebagai orang tua Eiger. Nyatanya pasangan suami istri itu tampak ragu-ragu. Selain itu, pihak keluarga Eiger mengatakan bahwa Eiger akan menerima tahta dari tuan Balthis, tetapi setelah dia bertunangan.
__ADS_1
"Eiger pasti berbohong. Dia hanya ingin kamu melepaskannya kemudian dia menikah dengan wanita lain." Kalimat itulah yang selalu menggema di dalam benak Biana saat tahu dia menolak pergi ke tempat acara.
Biana juga menjelaskan kalau hubungannya dengan Eiger sudah berakhir. Sebagai seorang papa, pria itu menilai kalau putrinya terlalu terburu-buru.
"Apa kau tidak menyesal melepaskan permata itu?" Pertanyaan itu juga menggema terus di telinganya.
Ah, ya. Rasa sesal yang didera Biana membuat gadis itu semakin emosional. Penyesalannya juga tertuju pada papanya atas penolakan untuk datang ke acara itu.
"Sayang, kenapa diam?"
"Maaf, Dad. Aku sempat tidak percaya dengan semua ucapanmu."
Papanya tersenyum. Wajar sekali karena selama ini Biana hanya tinggal seorang diri dengan papanya. Mamanya sudah meninggal saat dia kecil. Papanya menjadi orang tua tunggal yang bisa memahami seluruh sikap putrinya.
"Daddy tahu. Kau hanya sedang kesal saja. Kalau Daddy telaah, Eiger sengaja melakukan itu untuk menguji cintamu. Setelah kamu memutuskannya secara sepihak, maka dia tahu kalau kamu hanya memanfaatkannya saja."
Ah, sekarang papanya seperti sedang menyudutkan dirinya. Itu memang benar. Biana tidak mau hidup susah apalagi sampai tidak memiliki harta benda. Selain itu, pengakuan Eiger yang ternyata bukan bagian dari Willard langsung membuat Biana terkejut.
Bodoh, bodoh, dan bodoh. Itulah julukan yang seharusnya disematkan pada Biana. Harta, tahta, dan cinta yang selalu menjadi semboyan hidupnya saat ini. Saat tahta yang dimaksud Eiger tidak untuk dirinya, maka otomatis cinta yang diberikan kepada Eiger mendadak turun drastis. Bersamaan dengan Eiger yang diduga tidak memiliki apa pun.
"Dad, Biana tidak peduli. Tolong bantu Biana untuk kembali pada Eiger. Minta uncle Balthis merencanakan pertunanganku dengannya. Aku tidak mau kalau dia akan menikahi gadis lain."
Papanya tersenyum kecut. Sudah bisa diduga kalau Biana akan bertindak melebihi akal sehatnya.
"Sayang, sebelumnya Daddy minta maaf padamu. Tapi, apa kamu sudah memikirkan konsekuensinya? Maksud Daddy, kalian sudah putus. Tiba-tiba Daddy datang ke kantor tuan Balthis. Kemudian meminta pria itu untuk membuat acara pertunangan. Apa dia mau melakukannya?"
Ah, lagi-lagi Biana melupakan sesuatu. Bahkan untuk masuk ke mansion Willard saja sudah tidak diizinkan oleh Balthis. Usahanya mengalami jalan buntu. Akankah Biana bisa jujur pada papanya?
"Sayang, kamu diam lagi. Ada apa?"
__ADS_1
Biana tertunduk. "Aku melakukan kesalahan besar, Dad."
"Hah? Apa itu?"
"Aku sudah memaksa masuk ke kantor uncle Balthis. Aku penasaran, siapa sebenarnya anak kandungnya?"
"Tunggu! Daddy tidak paham. Apa hubungannya Eiger, anak kandung, dan uncle Balthis?"
Biana terpaksa menceritakan kejadian yang membuatnya putus dengan Eiger. Selain itu, rasa penasarannya yang cukup tinggi mengenai anak kandung pria paruh baya itu. Hingga kedatangan Biana ke mansion yang tidak diizinkan masuk oleh penjaga atas perintah Balthis saat dia ingin menemui Jean.
"Biana! Jujur, Daddy tidak habis pikir dengan semua tindakan kecerobohanmu itu."
"Dad, aku minta maaf."
Sebagai gadis dari kaum bangsawan, papanya menilai sikap Biana kali ini terlalu bar-bar. Namun, ada sesuatu hal yang menggelitik pikirannya. Kalau Eiger bukan anak kandung, lalu acara hari ini untuk apa? Bukankah seharusnya Balthis menyerahkan tonggak kepemimpinan perusahaan ke tangan Eiger?
"Dad, jangan diam seperti itu! Ayo, bantu aku!" pinta Biana memelas.
Astaga. Saat pekerjaan sedang banyak, Biana menambah beban masalahnya yang begitu rumit.
"Sayang, Daddy tidak bisa bertindak sekarang. Daddy harus tahu dulu apa sebenarnya yang terjadi di dalam keluarga Willard."
Ah, pasti ini akan membutuhkan waktu yang lama. Biana tidak sabar sekali. Eiger terlepas, keluarga Willard menolaknya, dan sekarang papanya menunda hal penting ini. Semakin lama, Biana bisa gila. Eiger bisa saja mendekati para gadis kemudian menaklukkan salah satu dari mereka. Hal yang paling parah, kalau sampai Eiger memutuskan untuk bertunangan. Hilanglah seluruh rencana Biana.
Biana menarik diri. Dia memilih masuk ke kamarnya kemudian melempar tas indahnya itu sekenanya. Dia berbaring di atas ranjang, memejamkan mata sejenak, dan menghirup udara kemudian menghembuskannya.
Bukannya plong, dadanya malah terasa sesak saat kecerobohannya menguasai. Biana terbangun dari ranjang, dia berniat menemui papanya lagi. Sayang sekali, saat rencananya itu sudah di ubun-ubun, papanya sudah pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
"Ah, Daddy!" teriaknya di dalam kamar saat dia kembali lagi.
__ADS_1
Biana mengambil ponselnya. Beberapa potret kebersamaannya dengan Eiger terlihat jelas dan bahagia. Rasanya Biana rindu masa itu. Esok, dia akan memaksa papanya untuk bertindak dengan cepat dan tepat.