Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 60. Berniat Menikah


__ADS_3

Suasana mansion kembali seperti semula. Balthis dan Jean sudah kembali. Eiger pun sudah mengantarkan Zoe kembali ke kampung halamannya. Tersisa masalah yang masih pelik, yaitu rencana pernikahan David yang mendulang pro dan kontra.


"Harusnya bukan kau yang menikah, David! Kakak tidak setuju kalau kau menikahi gadis itu." Amarah Balthis tidak bisa dikendalikan lagi.


"Kak, kau pikir aku bisa mengendalikan cinta. Tidak, kan?" sanggah David.


"Dengar, David! Usiamu itu sudah hampir setengah abad. Sementara gadis itu masih muda. Bahkan, usianya mungkin separuh dari usiamu. Kakak lebih setuju kalau Eiger yang menikah!" jelas Balthis.


Eiger terperanjat saat namanya disebut. Dia sendiri belum terpikirkan untuk menjalin hubungan atau menikah. Kalau sudah seperti ini, dia merasa tidak nyaman saja.


"Pa, Eiger belum siap. Kalau Uncle David ingin menikah, jangan ditunda. Ini merupakan perkembangan bagus, bukan?" ungkap Eiger.


Hari ini merupakan hari libur. Jadi, mereka sedang menikmati sarapan pagi dengan santai dan tidak terburu-buru.


"Nah, kali ini aku setuju dengan saran Eiger. Walaupun aku biasanya anti dengannya, tetapi saran itu sangat bagus. Apa kalian tidak ingin aku menikah kemudian memiliki anak. Dan, masalah penerus tahta selanjutnya tidak perlu pusing," jelas David.


Ucapannya barusan justru malah menyakiti Jean. Sekembalinya dari luar negeri, mereka belum menceritakan apa pun sampai suasana hatinya membaik. Jika tidak, maka ditakutkan akan semakin emosional.


"David, kau menyindirku, hah?" bentak Jean.


"Tidak, Kakak ipar. Justru aku meminta saran pada Kakak. Kalau misalnya aku diizinkan, hari ini juga aku akan mengajak Bianca ke sini. Kita bicarakan lagi mengenai pertunangan kemudian lanjut ke pernikahan. Bagaimana?"


David memang menginginkan pernikahan ini. Sejak lama dia tidak memiliki pasangan. Saat mengenal Bianca, David merasa nyaman bersama gadis itu. Entah, ini cinta, obsesi, atau keinginan semata?


"David, itu terlalu cepat. Butuh penjajakan lebih jauh. Lihat Eiger, dia belum mau terburu-buru walaupun merasa nyaman dengan Zoe," tambah Blerim.


"Kak, kau memang tidak pernah jatuh cinta dan menyukai wanita sampai ke napas terakhir," ucap David yang terlalu hiperbola.


Blerim menarik napas kemudian menghembuskannya. Sepertinya David sudah dibutakan oleh cinta. Ya, walaupun semula tampak indah di depan matanya. Namun, dia tidak tahu kehidupan yang akan menghadangnya di kemudian hari.


Eiger sendiri masih melakukan pendekatan terhadap Zoe. Gadis itu masih ragu-ragu dengan perasaannya. Apalagi keluarga Eiger sangatlah terpandang. Zoe merasa jauh dari jangkauan Eiger.

__ADS_1


"Keputusanku tetap bahwa yang akan menikah adalah Eiger. Jangan mendebat lagi!" pungkas Balthis.


Pria paruh baya itu merasa kalau pernikahan yang akan dilangsungkan oleh David akan menimbulkan dampak buruk untuk keluarganya. Namun, pernikahan Eiger dengan gadis pilihannya akan menjadi masalah awal bagi Eiger. Mereka akan sulit menerima orang seperti Zoe yang terlahir dari kalangan biasa, bukan bangsawan.


Semua orang terdiam mendengar keputusan Balthis. Entah, apa yang sebenarnya direncanakan pria misterius itu? Tiba-tiba membatalkan. Kadang juga memberikan kesempatan tanpa aba-aba.


Selesai sarapan pagi, Balthis dan Jean berpindah ke ruang keluarga. Hari ini, Balthis sengaja meminta semua orang berkumpul di sana. Hingga semua orang berkumpul, David masih belum juga bergabung.


"Eiger, tolong panggil David. Minta dia untuk segera datang ke sini," pinta Balthis.


"Iya, Pa. Tunggu sebentar."


Terpaksa Eiger kembali lagi ke ruang makan. Dia melihat tingkah pria paruh baya itu seperti remaja belasan tahun yang sedang kasmaran. Terkadang, Eiger memikirkan bahwa seluruh anggota keluarga ini terlihat aneh dan sangat misterius, seperti dirinya.


"Uncle, kau kenapa?"


"Eiger, bantu aku bicara dengan kak Balthis. Kalau sampai aku gagal menikahi gadis itu, sepanjang hidupku sampai mati akan dicap sebagai pria singel. Apa kau tidak kasihan padaku?"


Alasan tepat menurut David, tetapi Balthis yang tetap pada keputusannya itu, apa mau mengalah begitu saja?


"Oke. Daripada Uncle terus protes kepadaku, lebih baik kita berunding dengan papa tentang plus minus pernikahan yang akan Uncle jalani. Bagaimana?"


Sejenak David mencoba memikirkan saran Eiger. Mungkin itu memang patut dicoba untuk merayu kakaknya yang kaku itu.


Kini, Eiger dan David pun sudah berada di ruang keluarga. David masih memasang wajah yang tidak bersahabat. Sementara Eiger duduk tidak jauh dari Blerim.


"Kenapa dia terlihat manyun seperti itu?" bisik Blerim pada Eiger.


"Tidak tahu," jawabnya singkat.


Memang tidak perlu menjelaskan terlalu detail perihal yang ditunjukkan oleh David. Semuanya harus bisa mengontrol untuk tidak membicarakan pria itu.

__ADS_1


"Oke, karena semua orang sudah berkumpul, maka aku akan memulai pembicaraan ini," ucap Balthis mengawali rapat kecil keluarganya. "Eiger, apakah kau masih ingin mencari keberadaan orang tuamu?"


Ini kesempatan atau cuma sekadar basa-basi Balthis untuk merayu Eiger. Dia tidak boleh percaya sepenuhnya kepada ucapan Balthis yang terkadang tidak konsisten.


"Semua orang pasti ingin tahu asal-usulnya, Pa. Namun, aku tidak yakin kalau kau mengatakan itu. Tanpa kau tanyakan pun, aku sudah berniat mencarinya," jelas Eiger.


"Kalau begitu kau cari saja. Seperti halnya aku dan istriku. Kami mendapatkan kabar buruk mengenai Elov," kata Balthis.


David, Eiger, dan Blerim memperhatikan pria itu secara seksama. Jean yang semula duduk tenang, tiba-tiba mulai menangis saat suaminya membicarakan Elov.


"Kak, kau baik-baik saja?" tanya David.


"Iya, David. Aku baik. Hanya saja saat suamiku membicarakan Elov, aku tidak tahan untuk tidak menangis," jawab Jean.


"Memangnya kabar apa yang kalian bawa?" selidik Blerim.


Balthis tidak bisa menyembunyikan rahasia ini terlalu lama. Dia mulai menceritakan kejadian apa yang dialami saat berada di negara tujuannya kemarin. Dia memang tidak bisa membawa Elov pulang, tetapi makam lelaki itu sudah ditemukan.


"Jadi, Elov sudah tiada?" tanya Blerim.


Balthis mengangguk. Blerim pun mengiyakan saja karena sedari awal pria itu yakin kalau keponakannya itu tidak akan pernah kembali. Beberapa kali melakukan penyelidikan, tanda-tanda kehidupan lelaki itu sulit sekali ditemukan.


"Ma, Pa, Eiger turut berduka," ucap Eiger.


"Ya, terima kasih," balas Balthis.


Blerim dan David berada di dalam pikirannya masing-masing. Tidak banyak yang ingin disampaikan mereka. Namun, Eiger merasa kalau dia akan tetap menjadi keluarga Willard karena Elov tiada.


"Kalau sudah seperti ini, harusnya aku bisa menikah. Keturunan Kak Balthis sudah tidak ada. Satu-satunya cara adalah aku menikah kemudian memiliki anak," ucap batin David.


"David, apa yang kau pikirkan?" tanya Jean.

__ADS_1


"Karena kalian sudah dipastikan tidak memiliki anak, maka jangan pernah menolakku yang berniat menikah. Aku akan meneruskan keturunan Willard. Setuju atau tidak, aku tidak peduli," tegas David.


Balthis menggeleng. Susah sekali mengendalikan keinginan David. Namun, tetap saja Balthis bertanggung jawab penuh pada urusan adiknya.


__ADS_2