
Cemburu, kesal, dan kecewa saat ini dirasakan Biana. Diam-diam Eiger mau menikah dengan wanita pilihan mama angkatnya. Sementara Bianca sendiri tidak peduli Eiger menikah atau tidak. Sebentar lagi tujuannya masuk ke keluarga besar Willard akan tercapai.
"Kau kenapa?" tanya Bianca seolah mengejek.
"Ck, kau pasti sudah tahu kan kalau Eiger akan menikah? Lalu, kenapa kau tidak mencegahnya untukku?"
"Aku?" Bianca menunjuk dirinya sendiri. "Kau pikir aku siapa, hah? Aku hanya orang lain yang akan menjadi aunty-nya saja. So, aku tidak berhak mencegah pernikahan itu."
"Ayolah, Bianca! Tolong aku! Aku tidak rela kalau Eiger menjadi milik wanita kampung itu," jelas Biana.
Sebenarnya Bianca pun merasakan hal yang sama. Namun, demi menutupi tujuannya lebih baik dia berpura-pura untuk tidak ikut campur terlalu jauh pada masalah Biana.
Tepat di hari yang sudah ditentukan, tanpa pertunangan mereka akan langsung menikah. Jean sudah menyiapkan segalanya hingga fitting gaun pengantin pun dilakukan di mansion menjelang hari pernikahannya.
"Bagaimana persiapanmu hari ini?" tanya Jean pada Eiger.
Ya, setelah malam itu, Jean mengirimkan Zoe dan orang tuanya untuk tinggal di hotel. Sementara saat fitting gaun pengantin, dia dijemput oleh sopir. Sekarang pun dia sedang bersiap di kamar hotelnya bersama dengan make up artist yang sudah ditunjuk secara langsung oleh Jean.
"Aku siap, Ma. Mengapa Mama tidak ingin uncle David menikah lebih dulu?"
Jean tidak perlu menceritakan alasannya. Sudah ribuan kali dia memendam rasa agar Bianca tidak masuk dulu ke mansion.
"Sudahlah, lebih baik kau lekas turun. Papamu dan semua orang sudah menunggu di bawah."
Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah di dalam kehidupan Eiger. Dia akan menikahi gadis yang selama ini dekat dengannya.
Rombongan keluarga Willard menuju ke kantor catatan sipil. Tidak ada pesta pernikahan karena mendadak Jean meminta resepsinya bersamaan dengan pernikahan David dan Bianca.
"Kak, kau sepertinya sudah tidak waras!" protes David saat berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Kenapa lagi, David?" tanya Balthis, kakak tertua dari keluarganya.
"Istrimu, Kak! Kenapa dia menjadikan pernikahanku bersamaan dengan resepsi pernikahan Eiger? Kami butuh privasi dan di dalam undangan pasti tertera namanya, bukan?"
Jean dan Eiger diam saja. Eiger sendiri percuma menjawab semua ucapan David karena sudah diwanti-wanti untuk tidak merespon apa pun saat David mulai berbicara. Akan jadi badai di dalam mansionnya saat satu kali saja Eiger merespon ucapan uncle-nya itu.
"Mungkin Jean ingin agar para tamu undangan tidak datang dua kali ke pesta pernikahan keluarga kita, David. Harap maklum, kakak iparmu juga pasti repot harus mengurus ini dan itu," jelas Balthis.
Blerim sendiri tidak berkomentar. Dia tidak peduli pada pernikahan adiknya. Setelah semua orang menikah, tinggallah dia sendiri.
Sesampainya di kantor catatan sipil, terlihat Zoe sudah hadir dengan gaun pengantin dan riasan yang begitu cantik. Eiger tampak tidak berpaling dari wajah calon istrinya.
"Eiger, hei! Ayo, masuk!" ajak Jean.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan. Eiger merasa canggung saat berada di samping Zoe. Sementara Bianca dan Biana turut hadir dalam acara prosesi pernikahan tersebut. Bianca mendekati calon suaminya, David. Sedangkan Biana, dia tampak tidak nyaman melihat suasana seperti ini. Terlebih calon pengantin wanitanya bukan dia.
"Aku kesal sekali hari ini. Kenapa aku tidak jadi pengantin wanitanya," gumam Biana dalam hati. Dia pun mengepalkan tangannya dan berjanji pada dirinya sendiri akan merebut Eiger dari istrinya. Tidak peduli apa pun sebutannya.
Bianca semakin kesal. Harusnya dia yang mendapatkan cincin itu lebih dulu. Dia kan yang mau menikah dengan David, penerus ketiga keluarga Willard.
Seusai memasang cincin pernikahan, Eiger memberikan kecupan manis pertama di kening istrinya. Rona bahagia terlihat jelas di wajah pria itu. Begitu pun dengan Zoe yang terlihat sangat bahagia.
"Terima kasih sudah menjadi pria yang baik untukku," ucap Zoe setelah semuanya terjadi.
"Sama-sama, Istriku. Terima kasih sudah mau menerimaku sebagai suamimu," balas Eiger.
"Selamat, akhirnya kalian menikah juga. Uncle turut bahagia!" ucap Blerim. Dia merasa sudah melepaskan anak laki-lakinya yang selama ini dirawat dan juga dididik dengan baik.
"Terima kasih, Uncle," jawab Zoe. "Terima kasih sudah diterima dengan baik di dalam keluarga besar Willard."
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Kau menantuku sekarang. Mulai hari ini, kau bisa tinggal di mansion dan berada di dalam kamar suamimu, Eiger," sahut Jean.
Akhirnya rencana Jean untuk memasukkan Zoe ke dalam mansionnya sudah terwujud. Dia yang akan menjadi wanita pertama yang akan menjadikan Zoe tameng untuk melawan Bianca, si Wanita ular itu. Walaupun Jean belum tahu apa tujuannya Bianca menikah dengan David, tetapi dia sudah mencium gelagat buruk darinya.
"Hai, selamat, ya! Perkenalkan aku Bianca yang akan menjadi aunty-mu nantinya. Selamat datang di keluarga Willard!" sahut Bianca yang maju beberapa langkah dari tempatnya semula.
David yang melihat calon istrinya itu terlibat dengan Zoe, rasanya ingin menarik mundur saja. Pernikahan hari ini memang sangat tidak diinginkan olehnya.
"Sayang, lebih baik kita tunggu di luar saja!" ajak David menarik tangan calonnya.
Sebenarnya Bianca masih mau bertahan di ruangan itu. Apalagi adiknya, Biana masih berada di sana membisu tanpa bisa mengungkapkan apa pun.
"Bi, ayo!" ajak Bianca pada Biana.
Jika dada Bianca sesak, maka Biana pun sama sesaknya. Rasa sakit ini sangat luar biasa ketimbang saat dia memutuskan hubungan secara sepihak kala itu.
"Kau pergi saja dulu! Aku masih mau berada di sini, Kak," tegas Biana.
Adiknya itu memang sangat keras kepala. Sama seperti Bianca. Walaupun saudara tiri, tetapi keduanya memiliki perangai yang sama. Suka sekali berbuat nekat.
Bianca terpaksa maju untuk menarik adiknya. Sepertinya Biana sudah tidak waras dengan kondisinya yang sekarang.
"Lepaskan!" Pemberontakan Biana itu akhirnya menjadi pusat perhatian semua orang.
Saat keluarga Willard tengah berbahagia dengan pernikahan Eiger, lain halnya dengan Biana. Tatapan mata sendu dilayangkan gadis itu kepada mantan kekasihnya. Cemburu, kecewa, dan duka karena tidak bisa memiliki Eiger seutuhnya.
"Ada apa ini, David?" tanya Jean.
Mendengar suara Biana yang mengejutkan itu membuat tatapan semua orang tertuju padanya. Terlebih saat Biana berteriak.
__ADS_1
"Maaf, Kak. Kami sebenarnya sudah ingin keluar, tetapi Biana malah berteriak," sahut David merasa bersalah.
Biana bukannya meminta maaf, tetapi gadis itu malah maju mendekati Eiger. Dia memeluk pria yang sudah sah menjadi suami orang tanpa peduli tatapan sinis dari keluarga Willard.