
Berada di meja makan berdua saja dengan Eiger menjadi pertanyaan besar bagi pria paruh baya itu.
"Ke mana David?" tanya Blerim.
Waktu makan malam tiba, tetapi personil keluarga Willard belum lengkap.
"Hotel."
"Hotel?"
"Ya."
"Ada urusan apa?" tanya Blerim penasaran.
"Tidak tahu."
Waktu makan malam memang hampir lewat. Tidak lama, orang yang sedang ditunggunya tiba-tiba muncul. Auranya sangat berbeda. Lebih cerah dari biasanya.
"Dari mana saja, David?" tanya Blerim.
"Apa pedulimu, Kak?" tanya David balik.
"Aku hanya tidak ingin kalau kau melakukan kesalahan," balas Blerim.
"Bianca bukan kesalahan. Dia adalah masa depanku," ucapnya yakin.
"Wow, ini keren, Eiger! Lihat Uncle-mu! Dia sangat senang sekali saat menyebut nama gadis itu. Apakah itu artinya kak Balthis harus menyiapkan pesta pertunangan darurat?" tanya Blerim.
"Tidak seperti itu, Uncle! Aku ingin tahu, apa motif Uncle David menerima gadis itu?" selidik Eiger.
"Motif? Motif apa maksudmu, hah? Awalnya aku memang berniat menginterogasi gadis itu, tetapi saat tahu alasannya. Aku tidak tega membiarkannya mendekam di penjara. Aku akan membelanya dan menjadikan wanita itu sebagai istriku."
Ini mengejutkan bagi Blerim maupun Eiger. Mereka tidak menyangka bahwa tujuan David berubah 180 derajat.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan Bianca, Uncle." Eiger yakin. Satu-satunya cara supaya David mengaku hanya ucapan itu.
"Aku akan membantumu melepaskan Biana, tetapi izinkan aku memiliki Bianca!" ucap David yakin.
Seperti yang sudah dibayangkan oleh Zoe. Akan sangat sulit jika Bianca sudah lebih dulu mencari perlindungan. Namun, Zoe bukankah gadis pendendam. Dia sudah menyepakati bahwa akan memaafkan Bianca. Namun, untuk melepaskan Biana, Zoe tidak tahu caranya. Dia menyerahkan semua urusan itu pada Eiger.
Jebakan berhasil! Eiger tidak perlu repot lagi pulang-pergi ke rumah tahanan untuk mengurus Biana. Inilah rencananya.
"Baiklah kalau itu keinginan Uncle. Besok siang pastikan Biana bebas! Jika tidak, Elmer pasti akan mengejarmu." Eiger terpaksa menggunakan nama pria itu supaya putrinya bisa bebas lebih cepat.
"Baiklah. Tapi, siapkan pesta pertunanganku!" perintah David.
Blerim tersenyum. Semudah itukah jatuh cinta kemudian menikah? Tidak untuk Blerim. Dia paling sulit jatuh cinta. Sama halnya dengan Eiger. Hanya saja saat mengenal Zoe, pandangannya mengenai rasa nyaman berubah. Perlahan Eiger bisa akrab dan dekat dengan gadis itu.
"Tunggu kak Balthis pulang dulu. Aku tidak yakin kalau dia akan setuju dengan keputusanmu. Terlebih, wanita itu usianya sangat muda sekali," jelas Blerim.
Hanya Eiger dan Blerim yang makan malam. David sudah makan malam bersama Bianca sebelum kembali ke mansion. Gadis itu tetap tinggal di hotel sampai beberapa hari ke depan.
"Ya, baiklah. Atur saja, Kakak!" David masuk ke kamarnya.
Eiger makan dalam diam. Dia sedang memikirkan kabar apa yang akan dibawa papanya setelah pulang nanti. Tidak hanya itu, keputusannya untuk mengambil hati Zoe benar atau salah.
"Eiger, apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku memikirkan papa, Uncle. Kira-kira, kabar apa yang akan dibawa pria itu? Apakah mama akan bersikap baik kepadaku seperti sebelumnya?"
Masih misteri. Kepergian Balthis dan Jean terkesan mendadak itu menimbulkan sejuta pertanyaan.
"Aku tidak tahu. Sepasang suami istri itu sangatlah labil."
Blerim benar. Terkadang mama papanya itu bersikap baik. Kadang, kemarahan yang meledak-ledak. Bisa dipastikan itu adalah efek kehilangan bayinya yang terlalu lama.
"Aku kasihan padanya, Uncle. Andaikan posisinya ditukar, aku mungkin akan menjadi orang yang sama. Sama labilnya seperti mereka."
__ADS_1
Sepertinya perasaan yang dimiliki Eiger saat ini juga sama dirasakannya oleh sepasang suami istri yang dimaksud.
Sepulang dari pemakaman, Jean tidak pernah berhenti menangis. Wanita itu rapuh karena tidak bisa menggenggam kembali bayi mungil yang dilahirkannya 28 tahun lalu.
"Aku lelah, Balthis," ucapnya lirih dengan suara terisak yang tiada henti. "Siapa pun pria itu, tetapi dia sudah tega mengorbankan putra kita."
"Aku juga tidak tahu, Jean. Jika akhirnya akan menjadi seperti ini. Aku juga menyesal, Sayangku. Percayalah, akan ada kebaikan setelah kejadian ini." Upaya Balthis untuk menenangkan istrinya agaknya tidak sebanding dengan ucapannya.
"Kau mudah sekali berbicara, Balthis. Kau tidak pernah tahu perasaan hatiku. Selama ini aku mencoba menerima Eiger dengan sangat baik dan mengabaikan Elov. Tapi, kau tahu bahwa itu adalah hal tersulit dalam hidupku."
Pria paruh baya itu merengkuh Jean ke dalam pelukannya. Membelai rambutnya yang lembut walaupun usianya tidak lagi muda. Jean sangat pandai merawat diri, apalagi saat berada di mansion Willard dan menjadi satu-satunya nyonya tunggal di mansion itu.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? Menganggap Elov benar-benar tiada, atau apa?" tanya Balthis.
"Aku tidak tahu, Balthis. Aku sangat kehilangan sekali. Saat melihat makam putra kita, kau tahu kan bahwa aku tidak bisa memeluknya lagi. Jika aku rindu, mungkin aku akan memeluk Eiger sebagai gantinya. Dia bayi merah yang sudah kita adopsi seumur bayi Elov."
Sejujurnya ucapan Jean sudah tidak terarah. Masa lalu yang buruk menjadi cerita masa kini yang kelam dan penuh duka. Andaikan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Andaikan kesepakatan konyol itu tidak akan pernah ada. Saat ini mereka akan hidup bahagia dengan keluarganya.
"Apa kau berniat memindahkan makam Elov ke negara kita?" Pertanyaan pamungkas yang diucapkan oleh Balthis.
Jean melepaskan pelukan suaminya. Dia tidak ingin bersedih sepanjang hari. Dia harus mengelola sikap emosionalnya dengan sangat baik. Dia tidak boleh menjadi wanita yang terpuruk.
"Tidak, Balthis. Biarkan dia tenang di sini. Aku hanya ingin kau menyelidiki kematian Elov. Maksudku, sebenarnya apa yang mendasari Elov hingga mengorbankan dirinya untuk orang lain? Jelas itu ada sebabnya, bukan?"
Pikiran Balthis rupanya tidak seperti yang Jean pikirkan. Jika Balthis menganggap ini adalah akhir dari pencariannya, rupanya dia salah. Jean memberikan tugas yang lebih rumit lagi.
"Aku mau orang itu dihukum. Dia sudah menyakiti putraku hingga membuat lelaki itu tiada. Elov memang belum tahu siapa orang tuanya, tetapi orang itu pasti punya alasan untuk mengorbankan Elov demi kepentingan pribadinya. Aku mengutuk perlakuan mereka terhadap putraku!" jelas Jean.
Balthis mengusap kasar wajahnya. Kematian Elov menandai berubahnya sikap Jean. Wanita itu semakin menguji kesabaran Balthis.
"Akan aku lakukan setelah kita kembali, Jean."
"Jangan cuma janji-janji palsu, Balthis. Aku bisa saja meninggalkanmu demi pria lain," ancam Jean.
__ADS_1
"Pria lain? Kau wanita terhormat dari keluarga Willard. Jangan coreng namamu hanya sebuah kesalahan di masa lalu. Ingat itu!" tegur Balthis.
Jean sebenarnya bahagia hidup bersama Balthis. Namun, pria itu banyak menyimpan rahasia yang sampai saat ini masih belum bisa diungkap. Terlebih pilihannya pada Eiger yang sama menjadi rahasia hidupnya.