
Memandang jauh permukaan air danau menjadi hiburan tersendiri bagi Eiger. Ya, dia sepakat mengikuti permintaan Blerim untuk menjemput Zoe. Dia akan memberikan pekerjaan kepada gadis itu. Entah, apa tanggapan gadis itu terhadap dirinya?
Kemungkinan besar Zoe akan menolak. Karena dia akan dijadikan sebagai kekasih bayaran. Lama menunggu di sana ternyata tak membuat Zoe kelihatan. Eiger semakin panik.
"Ke mana gadis itu? Tumben sekali tidak muncul saat dibutuhkan seperti ini," gerutu Eiger.
Eiger mencoba berkeliling. Siapa tahu dia akan menemukan keberadaan Zoe. Berjalan sekitar 10 menit, Eiger masih belum melihat Zoe.
"Oh, ya ampun. Apa yang harus aku lakukan?"
Kepanikan Eiger tergambar jelas di wajahnya. Kekesalannya memuncak saat seseorang yang menggunakan jaket Hoodie malah menabraknya.
"Hati-hati kalau jalan!" tegur gadis itu.
Gadis yang memakai jaket warna ungu Lilac itu tidak marah, tetapi menegur dengan sangat baik. Samar-samar Eiger mengenal suara itu karena jaket yang digunakan memakai tutup kepala untuk menyamarkan pandangan mata.
"Zoe?"
Gadis itu kemudian membuka penutup kepalanya. Dia pun mengenal suara itu.
"Eiger? Kau ada di sini?"
"Hei, kenapa kamu berpenampilan seperti itu?"
Zoe kembali menggunakan penutup kepalanya. "Aku malu, Eiger. Beberapa hari yang lalu aku bahagia diterima bekerja, tetapi aku ditipu. Saat aku memutuskan pulang, kau tahu sendirilah bagaimana sikap orang-orang kepadaku."
"Aku ingin berbicara denganmu. Kalau kau berkenan, ayo masuk ke mobilku," ajak Eiger.
"Masalah apa?"
"Pekerjaan. Ayo ikut aku!"
Eiger mengajak Zoe masuk ke mobil. Gadis itu pun menuruti karena merasa butuh pekerjaan. Namun, dia tidak akan tahu kalau pekerjaan yang akan diterimanya sangat bertolak belakang.
"Jadi, pekerjaan apa yang kau tawarkan? Ini bukan pekerjaan yang kotor atau menjijikkan, bukan?"
"Tidak, Zoe. Aku mengenalmu dengan baik. Aku juga tidak akan mungkin menawarkanmu pekerjaan yang tidak logis menurutku."
"Ya, oke. Lalu, pekerjaan apa?" Zoe penasaran. Semoga apa yang ditawarkan Eiger cocok untuk dirinya.
"Menjadi kekasih bayaranku."
"What? Kau gila! Pekerjaan macam apa itu? Aku tidak mau," tolak Zoe.
Gadis itu pun berniat untuk turun dari mobil, tetapi Eiger sengaja menguncinya. Eiger tahu pasti akan seperti ini akhirnya.
__ADS_1
"Hei, buka kuncinya! Jangan kau kurung aku di dalam mobilmu ini. Dasar pria aneh!"
Lagi-lagi Zoe memberontak.
"Hei, dengarkan aku! Pekerjaan yang kutawarkan itu bukan pekerjaan buruk, Zoe. Aku akan memberikan upah seperti yang kau minta."
Zoe berhenti memberontak, tetapi dia memandang sebelah mata penawaran yang diberikan Eiger padanya.
"Bukan pekerjaan buruk, tetapi aneh! Aku tidak mau. Apa pun alasannya, aku tidak mau menerimanya. Keluarkan aku dari mobil ini!"
"Wait! Listen to me! Aku butuh bantuanmu dan kau butuh uang, kan? Kita bisa saling menguntungkan."
Zoe terus saja menggeleng. Dia tetap menolak walaupun Eiger memaksa. Dia tidak mengerti jalan pikiran pria itu? Mungkinkah karena tidak memiliki pasangan sehingga menggunakan cara seperti ini?
"Tidak ya tidak. Cari wanita lain saja," usul Zoe.
"Aku tidak percaya dengan wanita lain. Aku hanya percaya padamu. Dengarkan aku!"
Eiger menjelaskan alasannya untuk menawarkan pekerjaan ini. Dia pun sudah putus hubungan dengan kekasihnya. Tidak akan pernah kembali menjalin hubungan menyebabkan Eiger mencari opsi lain.
"Tidak. Kau egois! Itu namanya pembohongan publik. Kalau sampai mereka tahu siapa aku, bisa-bisa dilaporkan kepada pihak kepolisian. Itu mengerikan!"
"Tidak. Aku akan menjamin semuanya. Bukan hanya aku, tetapi uncle-ku. Ini juga atas saran darinya. Pria yang mengantarmu ke halte bus tempo hari. Nah, dialah orangnya."
Zoe tetap menolak hingga akhirnya Eiger memberikan solusi terakhir padanya.
Eiger kemudian membuka kunci pintu mobilnya dengan sekali tekan. Ya, mobil orang kaya yang serba otomatis.
Zoe merasa ragu. Dia ingin turun tanpa kartu nama dan uang yang diletakkan di atas dashboard, tetapi nalurinya berkata lain. Dia butuh uang dan pekerjaan itu.
"Ini kuambil. Kalau aku berubah pikiran, akan aku kabari. Uangnya juga."
"Ya, ambil saja. Jadi atau tidak, uang itu akan tetap menjadi milikmu. Ehm, satu lagi—"
"Apa lagi?" Zoe memotong ucapan Eiger.
"Waktumu tidak lebih dari 3 hari untuk memutuskan."
"Ya, ya! Aku pulang."
Zoe turun dari mobil kemudian berjalan menjauh. Eiger belum tenang jika Zoe belum memberikan keputusan apa pun. Apakah dia akan menggunakan solusi terakhir untuk kembali kepada Biana?
Eiger menggeleng. "Tidak! Biana bukanlah solusi. Dia masalah baru untukku."
Eiger memutuskan untuk kembali ke mansion. Sampai di sana menjelang malam. Dia tidak langsung ke kamarnya, melainkan menemui Blerim lebih dulu.
__ADS_1
"Dari mana?" tanya David saat berpapasan dengan Eiger di ruang keluarga.
"Rumah teman. Kenapa?"
"Ingat, jangan sombong! Kau tidak akan bisa mendapatkan semua harta keluarga Willard," sindir David.
"Aku tidak berniat memiliki semuanya, Uncle. Kalau aku mau, aku juga tidak akan meminta saham 25 persen. Namun, aku akan meminta tiga perempat dari 100 persen."
"Kau!"
Bagi Eiger, berdebat dengan David sama menyebalkan dengan Balthis. Keduanya selalu memaksakan kehendak. Daripada berlanjut sampai ribut, Eiger menghindarinya. Dia memilih menuju ke kamar Blerim.
Sebenarnya David meneriakinya untuk tidak pergi lebih dulu, tetapi Eiger sudah malas. Sesampainya di depan pintu kamar Blerim, Eiger mengetuknya kemudian masuk.
"Uncle," sapa Eiger.
"Baru pulang?"
"Iya." Eiger terduduk lesu di sofa kamar pamannya.
"Kenapa lemas begitu? Makan malam masih sejam lagi."
"Bukan soal itu, Uncle. Aku sudah menemui Zoe. Aku sudah mengatakan semuanya. Aku harap dia datang di saat yang tepat."
"Uncle pun demikian. Tapi, kamu jangan khawatir. Dia pasti datang."
Eiger terkadang tidak mengerti jalan pikiran Blerim. Saat pikirannya sedang kacau, pria itu selalu menenangkan. Walaupun ending-nya tidak tahu akan seperti apa.
"Kemungkinan terburuknya kalau dia tidak datang. Apa yang akan aku lakukan?"
"Cari opsi lain."
Enteng sekali Blerim mengatakan hal seperti itu. Rasanya ingin sekali kembali ke tempat kost, kemudian tidur sepanjang hari tanpa menanggung beban seperti ini.
"Apakah aku harus kembali pada Biana?"
Pertanyaan konyol yang tidak terkontrol ini lulus begitu saja dari mulut Eiger. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Eiger memang masih mencintainya. Tapi, teringat akan tujuannya hanya untuk harta, bukan cinta. Membuat Eiger harus merelakan.
"Itu terserah kau. Kalau kau memang tidak mendapatkan pilihan, bisa jadi opsi terakhir. Ingat, harus main cantik dan rapi! Yang kita hadapi ini keluarga yang entahlah, aku sendiri tidak tahu."
Padahal Blerim sendiri adalah anggota keluarga Willard, tetapi dia memiliki jalan yang berbeda dari keluarganya.
...🌾🌾🌾...
Sambil menunggu update, yuk mampir ke karya Bestie Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1