Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 41. Harapan


__ADS_3

Setelah kepergian Biana, Zoe merasa bersalah telah merebut pria yang dicintai gadis itu.


"Eiger, apa tidak sebaiknya kita akhiri saja?"


"Tidak. Itu urusannya. Mau melakukan apa pun sesuka hatinya. Lebih baik kita nikmati makan malam ini lebih dulu. Nanti kita lanjutkan bicaranya di hotel," tegas Eiger.


Kesalahan Biana sangatlah fatal. Dia selalu berusaha mendekati dirinya untuk kembali menjadi wanita yang masih dicintainya. Walaupun sebenarnya ada sedikit rasa kasihan pada gadis itu.


Usai makan malam, Eiger memutuskan untuk kembali mengantarkan Zoe ke hotel. Saat mencapai tempat parkir, entah dari arah mana. Seseorang sengaja mengejutkannya. Seperti sebuah kebetulan, orang itu tiba-tiba menarik mundur Zoe dan mengancamnya memakai pistol.


"Lepaskan gadis itu!" bentak Eiger.


"Ck, itu tidak akan pernah terjadi. Gadis ini harus mati di tanganku!" ancam pria itu.


"Eiger, tolong aku!" Suara Zoe terdengar sangat ketakutan.


Eiger tidak punya pilihan lain selain maju. Dia menghajar pria itu saat terlihat lengah. Zoe berhasil melepaskan diri kemudian masuk ke dalam mobil.


Eiger meninjunya. Sesekali dia mengayunkan kaki untuk menendang lawannya hingga tersungkur di lantai yang terbuat dari batu andesit itu. Pria itu mencoba bangkit dengan mengandalkan pistolnya yang sempat terlempar agak jauh.


Ditekannya pelatuk itu hingga melesatkan peluru menuju ke arah Eiger. Darah segar mengucur dari lengan Eiger yang membuat Zoe histeris. Pria itu kemudian kabur entah ke mana.


"Eiger!"


Merasa sudah aman, Zoe turun untuk melihat kondisi Eiger yang sedang terluka. Rasa sakit akibat tembakan itu rasanya membuat tubuhnya panas.


"Eiger, apa kau baik-baik saja? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Antarkan aku ke rumah sakit!"


Mana mungkin Zoe bisa mengemudikan mobil Eiger. Dia hanya bisa menggunakan taksi untuk menuju ke rumah sakit.


"Aku akan mengabari uncle Blerim."


"Jangan! Aku akan baik-baik saja. Jangan buat pria itu khawatir."


Zoe salut pada Eiger. Pria itu sangat kuat. Bahkan, dialah yang menolong Zoe dari orang jahat itu.


Kini, Eiger berada di rumah sakit dengan penanganan serius karena luka tembak yang dideritanya. Beruntung peluru itu hanya mengenai lengannya. Kalau sampai mengenai anggota tubuh lainnya, bisa dipastikan Eiger tidak selamat.


"Entah, berapa stok nyawa Anda, Tuan?" puji salah satu dokter yang sedang menanganinya. "Anda sangat kuat sekali."


Eiger tersenyum. Memang dia merasa kesakitan saat mengalami tembakan, tetapi setelah itu seolah raga dan nyawanya terpisah.

__ADS_1


"Mungkin Tuhan masih menghendaki aku untuk hidup, dokter. Entah, sampai kapan?"


Dokter itu pun tersenyum. Dia menyadari kalau pria di hadapannya ini sangat baik. Terlebih wanita yang mengantarnya ke sini.


"Anda beruntung mendapatkan stok nyawa yang banyak dan memiliki pasangan yang sangat mengkhawatirkan Anda, Tuan."


Di mata semua orang, Zoe terlihat sempurna dari segi fisik maupun sikap. Namun, apakah gadis itu mau jika Eiger memiliki perasaan lebih padanya? Rencananya Eiger akan merundingkan dengan Blerim perihal hubungan ini.


Setelah selesai, Zoe memaksa Eiger untuk pulang langsung ke mansion. Eiger tidak tega membiarkan Zoe kembali ke hotel sehingga memaksa gadis itu untuk menginap di mansionnya.


"Kali ini tinggallah di sini untuk semalam. Kau tidak aman berada di luar," ucap Eiger saat berada di depan pintu masuk mansionnya.


"Aku tidak nyaman, Eiger. Pasti akan banyak orang di sini."


"Kau kekasihku, maka semua orang akan menghormatimu sama seperti kepadaku. Jangan khawatir. Uncle Blerim pasti setuju."


Memasuki ruang tamu yang begitu luas, terlihat foto keluarga Eiger lengkap dengan keluarganya. Terlihat jelas bahwa foto itu sudah dipasang sejak lama.


"Tuan, kenapa dengan tangan Anda?" tanya salah satu pelayan.


"Hanya kecelakaan kecil," jawabnya.


Berada di dalam kondisi kritis pun dia mampu menyimpan deritanya. Zoe semakin tertarik pada pria itu. Tidak hanya dari segi fisik, tetapi juga hatinya.


Sangat wajar karena ini sudah larut malam. Makanya Eiger meminta Zoe untuk tinggal semalam di mansion ini.


"Tidak perlu dijelaskan. Uncle pasti sudah tahu!"


Zoe terkejut, tetapi bukan dengan Blerim. Anak buahnya sudah mengatakan bahwa Eiger diserang. Pria itu kemudian diantarkan menuju ke rumah sakit. Itu pun selalu dalam pengawasan Blerim.


"Hemm."


"Menurut Uncle, siapa?"


"Pelayan! Tolong antarkan Nona Zoe ke kamar tamu," perintah Blerim.


Pelayan itu pun menurut. Zoe meninggalkan ruang keluarga menuju ke kamar tamu. Sementara Blerim dan Eiger melanjutkan perbincangan.


"Hanya ada dua kemungkinan, Eiger."


"Siapa?"


"Orang suruhan Biana atau papamu."

__ADS_1


"Kenapa Uncle langsung menuduhnya? Maksudku, apa papa mungkin melakukan itu?"


"Aku hapal betul apa yang akan dilakukan kakakku. Dia meninggalkan tempat ini untuk mencari Elov. Dan, dia tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang. Percayalah!"


Eiger memundurkan tubuhnya untuk bersandar di sofa. Dia memejamkan mata sejenak. Mencoba menelaah ucapan Blerim. Eiger harus memikirkan caranya melindungi dirinya dan orang-orang yang dicintainya.


"Kau jangan khawatir, Eiger! Kakakku tidak akan bisa membunuhmu secara langsung."


Eiger membuka matanya. Agak terkejut mendengar ucapan Blerim yang membuatnya ngeri.


"Apa maksud Uncle?"


"Kakakku tidak ingin kau memegang peranan di dalam perusahaan. Selain itu, harapan terbesarnya tetap terpusat pada Elov."


Blerim pembaca situasi yang baik. Banyak hal yang diajarkan Blerim pada Eiger.


"Ya, Uncle. Aku selalu waspada."


"Hemm, baguslah!"


Blerim tidak perlu mengkhawatirkan secara berlebihan. Eiger pria yang sigap dan siap menghadapi segala situasinya.


Berada di sebuah kamar yang asing, tetapi menenangkan membuat Balthis merasa kesal. Perintah yang ditujukan pada David mengalami kegagalan. Balthis membanting laptop ke ranjang.


"Kau terlihat kesal, Sayang."


"David gagal. Anak itu masih hidup."


Jean menenangkan hati suaminya. Tinggal esok hari maka jawaban mengenai Elov akan terjawab sudah.


"Jangan kotori tanganmu untuk mengakhiri hidupnya. Bisa saja anak itu akan berguna di kemudian hari."


Balthis menoleh ke arah istrinya. Wanita itu harus tahu bahwa Eiger adalah ancaman untuk putranya sekaligus kelangsungan hidup perusahaan.


"Entahlah, Jean. Aku tidak suka!"


"Kalau begitu, selesaikan urusanmu di sini. Setelah itu kita kembali," pungkas Jean.


Masih banyak pekerjaan penting yang perlu diselesaikan. Balthis menutup kembali laptopnya. Dia menerawang jauh ke depan untuk memikirkan hari esok.


"Kita temukan Elov, kemudian pulang!" ungkap Balthis dengan rasa putus asa. Dia merasa ragu bisa menemukan anaknya dengan tepat.


Jean menatap tajam suaminya. Saat dirinya terlihat yakin bahwa Elov akan kembali, terlihat jelas keraguan di wajah suaminya. Namun, saat Jean ingin memastikan. Dia takut kalau suaminya akan tersinggung.

__ADS_1


Jean mengambil secangkir kopi di mejanya. Dihirupnya aroma kopi yang masih panas itu. Rasanya menenangkan sejenak. Dia berharap hari esok adalah jawaban atas semua harapannya.


__ADS_2