Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 26. Ilegal


__ADS_3

Kekesalan Balthis masih terbawa sampai pulang ke mansionnya. Ditambah lagi dengan kehadiran Eiger di sana.


"Kau pulang rupanya," sapa Balthis.


"Aku yang membawanya pulang," sahut Blerim.


"Good. Persekongkolan apa lagi yang akan kalian buat?" geram Balthis.


Blerim mengabaikan ucapan kakaknya. Dia lebih memilih duduk bersandar di sofa ruang keluarga. Menikmati secangkir kopi hangat bersama Eiger.


"Uncle, sepertinya papa marah melihatku," ucap Eiger saat tahu Balthis dan David menuju ke kamar masing-masing.


"Abaikan saja! Dia juga tetap orang tuamu. Panggil mereka seperti biasa. Papa-mama!"


Inilah yang sangat sulit. Apa Eiger sanggup menjalani kehidupan seperti ini?


Belum lama Balthis masuk, pelayan mencarinya.


"Maaf, Tuan Blerim. Apa Anda melihat tuan Balthis masuk ke kamarnya?"


"Iya. Ada apa?" tanya Blerim.


"Ada tamu, Tuan. Katanya dari detektif swasta."


Tatapan mata Blerim tertuju pada Eiger, tetapi hanya sebentar. Blerim beranjak dari tempat duduknya.


"Katakan padanya untuk menunggu di ruang tamu. Sebentar lagi kak Balthis akan datang," pesan Blerim pada pelayan.


Pelayan itu pun pergi. Blerim sebenarnya tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan kakaknya, tetapi rasa penasarannya sangat tinggi.


Blerim mengetuk pintu kamar Balthis yang tertutup setengahnya. Mungkin seseorang baru saja keluar dari sana.


"Kak!" panggil Blerim saat Balthis tidak memberikan respon.


Tiba-tiba dari belakang Blerim muncul Jean yang sedang membawakan satu nampan berisi minuman dan beberapa makanan kecil.


"Ada apa, Blerim? Kakakmu sedang mandi."


Jean masuk. Dia meletakkan nampan itu dalam keadaan pintu kamar terbuka. Balthis baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.


"Sayang, kenapa pintunya terbuka?" tanya Balthis. Dia tidak tahu kalau ada Blerim di luar.

__ADS_1


"Blerim mencarimu, Sayang."


"Oh, di mana dia?"


"Ada di luar. Temui saja sebentar."


Masih menggunakan handuk yang sama, Balthis keluar kamar tanpa merasa malu. Lagi pula di usianya yang sudah tidak lagi muda, apa yang perlu dibanggakan? Yang tersisa mungkin bekas roti sobeknya di masa muda hingga menjadi pria dewasa.


"Ada apa kau mencariku?"


"Akhirnya kau keluar juga, Kak. Ada detektif swasta yang mencarimu. Mungkin dia mau membicarakan Elov."


Ada aura bahagia terpancar dari wajahnya. Sebentar lagi putra yang sangat dirindukannya akan kembali. Dia akan kembali mengisi kekosongan hidup Balthis bersama istrinya.


"Bawa dia ke ruang kerjaku! Tunggu 5 menit lagi aku sampai di sana," perintah Balthis.


Blerim undur diri. Dia segera menuju ke ruang tamu. Di sana ada seorang pria memakai jaket hitam, berbadan gempal, dan sama sekali tidak menarik untuk seorang detektif swasta. Lebih tepatnya seperti seorang preman atau kawanan mafia yang sedang menyamar.


"Tuan Balthis?" sapa pria itu.


"Maaf, aku bukan tuan Balthis. Kakakku memintamu untuk ikut aku sekarang. Dia akan segera datang ke sana," jelas Blerim.


"Silakan masuk!" perintah Blerim.


"Aku sudah menunggunya selama lebih dari 10 menit. Apakah aku akan menunggu lagi di sini?" tanya pria gempal itu. Dia menolak untuk duduk saat tangan Blerim memberi komando untuk duduk.


"Itu tidak akan lama, Tuan," sahut Balthis yang baru saja datang dengan aroma parfum maskulinnya.


"Tuan Balthis, maaf baru bisa memberikan informasi hari ini," balas pria itu.


"Duduklah!" perintah Balthis.


Pria gempal itu tidak langsung memberitahukan kebenaran pada Balthis karena ada orang lain di antara mereka. Balthis merasa kalau pria itu enggan mengatakan karena ada adiknya.


"Katakan saja! Blerim, tutup pintunya lebih dulu. Kami akan mendengarkan semua informasi yang kamu berikan."


Setelah mendapatkan kepastian, pria gempal itu duduk kemudian mulai menceritakan. Ada beberapa poin yang membuat Balthis menggertakkan giginya karena kesal. Rasa kecewa, sedih, kesal, dan amarah yang meluap-luap berkumpul menjadi satu.


"Apa kau bilang? Anakku benar-benar tidak meninggalkan jejak apa pun? Yang benar saja! Kalau kau tidak becus bekerja, lebih baik jangan membuka jasa detektif swasta seperti ini. Aku merasa dirugikan!" bentak Balthis.


Kepalanya serasa mau pecah. Pria gempal itu sudah terbiasa mendapatkan penolakan. Walaupun Balthis marah besar kepadanya, pria gempal itu tidak bisa berbuat banyak. Selain menceritakan detail penyelidikannya, pria gempal itu juga menyerahkan beberapa dokumen kesehatan yang mereka dapatkan secara ilegal.

__ADS_1


"Apa itu artinya Elov memang benar-benar sudah tiada?" tanya Blerim.


"Aku tidak mengatakan seperti itu, Tuan. Menurut bukti yang kami dapatkan, Elov memang sempat tumbuh menjadi remaja belasan tahun yang tampan. Itu pun tidak di negara ini, tetapi aku menemukannya di Switzerland. Setelah itu tidak ada kabar lagi ke mana perginya pemuda itu. Semua orang yang aku temui—"


"Cukup! Jangan diteruskan lagi." Balthis tidak kuat mendengar seluruh ceritanya.


Sangat aneh memang. Selama ini Balthis sudah berusaha keras mencarinya. Dia melibatkan orang-orang penting, tetapi baru kali ini mendapatkan informasi selengkap ini.


"Kau yakin tidak menemukan alasan mengapa pemuda itu menghilang? Memangnya berapa tahun lamanya jejak itu menghilang?" tanya Blerim.


Sangatlah janggal kalau detektif ini bisa menemukannya, tetapi kakaknya tidak. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan Balthis selain kebohongannya?


"Sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu, Tuan."


Balthis tidak mampu bertanya lagi. Karena kebodohannya dengan sang istri, dia harus kehilangan harta yang paling berharga. Blerim melihat kakaknya yang sudah tidak mau mendengarkan apa pun cerita dari detektif swasta itu.


"Aku punya satu tugas lagi untukmu," ucap Blerim.


"Apa itu, Tuan?"


"Carilah seluruh data rumah sakit di Switzerland. Aku curiga kalau Elov ada hubungannya dengan semua rumah sakit di sana!" tegas Blerim.


"Apa maksudmu? Apakah anakku menjadi seorang dokter atau perawat di sana?" tanya Balthis.


Setelah mendengar perintah Blerim, ada sedikit cahaya yang menyemangati Balthis untuk menemukan Elov secepatnya.


Blerim tidak menjawab. "Pergilah!"


Justru Blerim menyuruh detektif itu keluar dari ruangannya. Dia akan menjawab saat kakaknya mulai tenang.


"Baik, Tuan. Perintahmu akan segera kukerjakan, tapi tolong jangan lupa bayar pelunasannya. Misi ini membutuhkan dana yang besar!" jelas pria gempal itu.


"Tentu," jawab Blerim singkat.


Kini tinggallah dua kakak beradik dengan pikirannya masing-masing. Balthis meyakini kalau anaknya masih hidup, sementara Blerim tidak yakin bisa menemukan Elov.


"Kenapa kau memintanya untuk mengecek data rumah sakit?"


"Kak Balthis, aku tahu kecemasanmu terhadap Elov sangat berlebihan. Apa kamu tidak berpikir bahwa ada perdagangan organ dalam manusia secara ilegal? Bisa saja kan Elov menjadi salah satu korbannya."


Ya, penjualan organ dalam biasanya dilakukan secara ilegal. Mereka pasti akan mencari orang-orang yang cocok sesuai kebutuhan. Balthis semakin geram. Dia mengutuk perbuatan orang itu jika sampai melakukan tindakan buruk terhadap putranya.

__ADS_1


__ADS_2