
Ruangan rawat inap Zoe masih tertutup rapat. Gadis itu masih tenggelam dalam mimpinya. Suster atau dokter yang melakukan visit setiap pagi belum terlihat.
Eiger sengaja datang lebih pagi untuk melihat kondisi Zoe. Tidak hanya itu, dia juga membawakan satu buket bunga untuknya.
Perlahan, Eiger membuka pintu kamar kemudian menutupnya kembali. Dia melihat Zoe masih tertidur dengan sangat nyenyak. Namun, indera pendengaran Eiger menangkap satu nama yang dipanggil dalam tidurnya.
"Eiger, Eiger, Eiger! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Suara Zoe mengigau.
Eiger meletakkan buket bunga di atas nakas. Setelah itu, dia mencoba mengguncang pundak Zoe secara perlahan.
"Zoe, hei bangun!" ucapnya lirih.
Merasa seperti mendengar suara asing, perlahan Zoe terbangun dari tidurnya. Dia melihat wajah Eiger tepat di hadapannya. Dia sangat terkejut saat tahu ada lelaki itu.
"Kau? Kau pasti tidak nyata! Kau hanyalah mimpiku. Benar, bukan? Kau?" Zoe tampak syok melihatnya.
Tanpa aba-aba, Eiger menarik gadis itu kemudian memeluknya.
"Hei, aku Eiger. Aku nyata!" Eiger tidak tahu bagaimana akhirnya jika Zoe lah yang tiada.
Melihat Zoe sangat syok saat tahu dia hadir di hadapannya. Sepertinya Zoe juga sudah tahu kabar kematiannya itu.
"Benarkah?" tanya Zoe saat merasa tenang di dalam pelukan Eiger.
"Iya, aku masih hidup. Aku tidak akan membiarkan orang-orang menyakitimu," jelas Eiger setelah mengembalikan posisi Zoe seperti semula, yaitu berbaring di ranjang pasien.
Zoe diam sembari memandangi wajah Eiger yang terlihat begitu sempurna. Ingatan Zoe kembali pada saat terjadinya penculikan itu. Dia memang tidak tahu siapa yang membawanya hingga disekap di sebuah gudang tua yang bahkan Zoe sendiri tidak tahu apa yang terjadi.
"Kau tidak ingat bagaimana kejadiannya?"
Zoe menggeleng. "Aku hanya ingat terakhir dibekap oleh seseorang. Itu saja. Kurasa mereka memberikanku bius dosis tinggi sehingga tidak sadar sama sekali."
"Syukurlah. Setidaknya kau aman dalam kebakaran itu," ucap Eiger lega.
Saat tidak ada lagi yang dibicarakan, Eiger pun meminta izin untuk pergi ke rumah tahanan. Dia harus menemui Biana.
"Kalau kau tidak ada lagi yang perlu disampaikan, aku pergi dulu. Oh ya, buket bunga ini dari aku. Semoga kau suka," jelas Eiger.
"Thank you," jawab Zoe.
Eiger keluar dari ruangan itu. Sebenarnya Zoe masih sangat rindu ingin melihatnya dengan jelas, tetapi sayang sekali Eiger buru-buru menemui seseorang.
Biana yang saat ini berada di rumah tahanan, dia merasa kesal sekali. Siapa orang yang berani menuduhnya melakukan kejahatan yang sama sekali tidak pernah dilakukannya. Selain itu mereka tidak memiliki alasan kuat untuk memenjarakannya, bukan?
__ADS_1
Saat sedang menyesali apa yang terjadi pada dirinya, seorang sipir wanita memberitahukan bahwa ada kunjungan untuknya.
"Siapa?" tanya Biana. Dia berharap yang datang adalah daddy-nya.
"Keluar saja. Dia lelaki," jawab sipir penjara itu.
'lelaki? Kurasa tidak ada orang yang kukenal dengan sangat baik selain Eiger. Tetapi, bukankah rumornya sudah meninggal?' batin Biana.
Terlihat dari punggungnya, Biana mengenal lelaki itu. Tanpa banyak bicara, Biana langsung memeluknya.
"Eiger, bantu aku!" ucapnya lirih.
Eiger lekas melepas tangan gadis itu. "Tak sepantasnya kau lakukan seperti itu. Memalukan!"
Biana merasa kalau Eiger sudah banyak berubah. Lelaki itu seperti bukan yang dikenal sebelumnya.
"Kenapa kau lakukan itu?" tuduh Eiger.
"Apa? Aku melakukan apa? Aku tidak melakukan apa pun yang kamu tuduhkan."
"Benarkah? Berikan satu alasan agar aku percaya!"
Sangat menyakitkan, bukan? Saat lelaki yang diharapkan bisa membelanya, tetapi kenyataannya tidak sama sekali. Eiger tidak mempercayainya.
"Aku bersumpah, Eiger. Aku tidak melakukannya. Lalu, bagaimana kau bisa selamat saat media telah memberitakan bahwa kau tiada?"
"Oke, oke. Aku minta maaf. Seharian aku berada di rumah. Tidak melakukan apa pun. Kurasa kau atau siapa pun salah mencurigai aku."
"Apa maksudmu?"
"Apakah kau tidak merasa janggal, tiba-tiba Bianca datang. Semua ini kemudian terjadi, Eiger. Coba pikirkan! Kau juga tahu, akibat yang ditimbulkan setelah ini. Daddy-ku pasti hilang kepercayaan. Dia akan mengunggulkan Bianca. Ini pasti ulahnya. Aku yakin itu."
Eiger kenal betul siapa Biana. Namun, agak janggal jika Bianca juga mengenali Zoe dalam waktu secepat itu. Padahal, hanya Biana lah yang tahu siapa Zoe bagi Eiger.
"Terakhir kali aku bertanya. Apa benar kau bukan pelakunya?"
"Eiger, aku tidak bersalah! Berapa pun alasan yang aku lontarkan, kau pasti tidak akan percaya."
Eiger keluar tanpa pamit. Dia membiarkan Biana dalam kesendiriannya. Tujuannya kali ini langsung ke kantor, bukan lagi ke mansion keluarga Willard. Ada hal yang perlu dibicarakan dengan pamannya.
Berada di tempat yang berbeda, Balthis sedang termenung di ruangannya. Dia mendapatkan kabar mengenai tes DNA putranya. Itu artinya kesempatan untuk bertemu Elov sangat tipis.
"Kak, kau kenapa?" tanya David saat masuk ke ruangannya.
__ADS_1
"Aku akan pergi ke Switzerland lagi. Hasil tes DNA Elov sudah keluar."
"Kenapa kau bersedih?"
"Elov tidak pernah ada, David. Aku menyesal."
"Tunggu, Kak! Aku tidak pernah mengerti apa maksudmu?"
"Nanti kau akan tahu. Pesankan tiket penerbangan untuk dua orang."
Kalau sudah memiliki kemauan, Balthis tidak bisa dicegah. Teka-teki kehidupan Elov pun menjadi pertanyaan. Sepertinya akan banyak rahasia yang terbongkar setelah ini. Termasuk kepergian mantan kekasih Blerim yang masih menimbulkan tanda tanya.
"Keberangkatan kapan?"
"Besok pagi! Oh ya, kabari Jean. Aku hari ini banyak meeting. Eiger pasti tidak datang hari ini."
Rupanya Balthis salah. Eiger mengetuk pintu kemudian masuk ke ruangan papanya.
"Hei, Boy! Kau darimana?" tanya Balthis.
Keramahan Balthis perlu dipertanyakan. Sempat mengalami pertikaian dengam Eiger, nyatanya kini Balthis banyak berubah.
"Seperti yang sudah kukatakan kemarin."
"Oh, kau menyambangi wanita itu?" tanya David.
"Iya, Uncle. Oh ya, aku ingin meminta tolong Uncle," ucap Eiger.
"Aku? Kau pasti salah orang. Aku tidak sebaik kakakku, Blerim. Lebih baik kau minta tolong padanya."
David malas sekali jika berurusan dengan Eiger. Jika bukan karena Balthis, dia juga tidak mau menolong Eiger untuk membebaskan Zoe.
"Ayolah, Uncle. Aku memiliki alasan yang jelas. Kau mau aku mengumbar alasanku di depan Papa?" tanya Eiger sedikit mengancam.
"Ya, baiklah. Kita bicarakan di ruanganku. Jangan di sini!" ajak David.
Keduanya meninggalkan Balthis seorang diri. Saat sampai di ruangan David, pria paruh baya itu membiarkan Eiger duduk sesuka hatinya.
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Kali ini Eiger tidak mau masalahnya ini semakin panjang. Sehingga lelaki itu hanya membisikkan rencananya pada David. Memang agak rendahan, tetapi Eiger yakin kalau rencana ini pasti berhasil.
"What? Kau memintaku menjadi pria seperti itu?" protes David.
__ADS_1
"Oh ayolah, Uncle. Kau pasti paham apa maksud dan tujuanku. Kau tidak ingin melewatkan kesempatan ini, bukan?"
David terjebak. Antara keinginan dan harapan sangatlah tidak sejalan. Namun, Eiger menawarkan sejuta keindahan di dalam rencananya.