Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 50. Keyakinan Biana


__ADS_3

Kecemasan Blerim dan Eiger terlihat jelas saat mereka mengetahui berita dari televisi. Saat Blerim ingin memerintahkan orang untuk membantunya, tetapi ternyata masih kalah cepat dengan Jean yang diam-diam sudah melakukan semuanya.


"Sayang, aku sangat ketakutan. Bagaimana kalau api itu membakar Eiger? Aku sudah menghubungi David. Aku memintanya untuk memanggil semua yang mereka butuhkan," jelas Jean.


"Wow, Kakak. Ini menarik. Sejak kapan kau peduli dengan Eiger?" selidik Blerim.


"Ck, aku peduli padanya bukan karena dirinya, tetapi aku ingin saat Elov kembali, Eiger juga masih hidup!" balasnya.


"Ya, bagus! Setidaknya sisi kemanusiaan itu masih ada dalam diri Kakak."


"Cukup, Blerim! Kau ini selalu saja menyulut pertengkaran. Biarkan saja Jean melakukan apa pun yang disukainya. Ini juga caranya membantu David untuk keluar dari sana."


Kali ini Blerim tidak lagi mendebat. Setidaknya dengan perantara keluarga besarnya, Eiger akan selamat.


Sementara di tempat kejadian, Eiger ternyata benar-benar terjebak. Pria yang bersamanya tadi sudah mati terbakar. Dia harus memikirkan jalur evakuasi untuk dirinya sendiri.


Zoe masih belum sadar. Mungkin efek bius yang diberikan terlalu banyak. Sehingga sampai beberapa jam, dia juga belum sadar.


Gudang yang lapuk termakan usia, ditambah dengan api yang membakar, dan jalan keluar yang rumit. Eiger tetap tenang, tetapi dia harus mencari jalan keluar saat ini juga.


Bersamaan dengan itu, teriakan semua orang menggema dengan runtuhnya semua bangunan itu.


"Eiger!" teriak David.


Pemadam kebakaran baru saja datang, sementara wartawan dan beberapa media sudah menyiarkan kebakaran hebat yang terjadi. Mereka semua mengira bahwa penerus tahta Willard sudah hilang bersamaan dengan luluh lantaknya bangunan itu.


Ambulans yang datang segera menolong Zoe, beberapa pihak kepolisian juga mengamankan lokasi kejadian, dan pihak pemadam kebakaran membereskan kekacauan yang terjadi.


Sayang, Eiger dinyatakan terbakar dalam kejadian itu. David merasa senang sekaligus berduka. Dia tidak bisa menampik bahwa kehilangan Eiger merupakan hal yang bagus menurutnya.


Kini, David dan beberapa orang yang terluka sudah dibawa ke rumah sakit. Zoe masih belum sadar. Sementara Blerim, Balthis, dan Jean menyusulnya ke sana.


"David, di mana Eiger?" tanya Blerim saat dia sudah sampai di hadapan David.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Kak. Dia tiba-tiba menghilang. Menurut polisi, Eiger turut menjadi korbannya."


Blerim lemas. Dia tidak menyangka kalau lelaki yang selalu dibela, dibimbing, dan diajarkan segala hal harus berakhir seperti ini.


"Kita harus bagaimana?" tanya Jean. Dia merasa panik jika keluarga Willard tidak memiliki penerus. Sementara Balthis, dia harus memutar otak untuk mengganti jabatan sementara Eiger.


"Akan aku pikirkan lagi. Kalau dia sudah tiada, itu artinya kita harus mengadakan pemakaman," usul Balthis.


"Tapi, Kak. Kau kan tidak tahu kebenarannya. Maksudku, itu hanya informasi dari pihak kepolisian. Mereka bahkan belum bisa mengidentifikasi jenazahnya. Lalu, siapa yang akan kau makamkan? Abu bekas kebakaran itu, hah?" Blerim benar-benar geram. Kakaknya terlihat berharap sekali kalau Eiger tidak pernah lagi ditemukan.


"Bukan begitu, Blerim. Maksudku, kau juga tidak bisa menyalahkan takdir Eiger kalau memang kenyataannya dia sudah tiada. Tinggal bagaimana kita mengembalikan suasana Willard kembali seperti semula. Tanpa penerus tahta dan keturunan yang sudah terputus dari aku, kecuali David atau kau menikah."


Blerim dan David terdiam. Di usianya yang tidak lagi muda, mana mungkin mereka akan siap untuk menikah. Terlebih mereka memiliki masa lalu yang kacau.


Berada di tempat yang berbeda, ternyata Eiger masih hidup. Dia sempat berlari menuju ke jalan lain yang berada di belakang gudang. Sayang, saat dirinya ingin menyelamatkan diri, dia terperosok ke sebuah kubangan air yang tertutup rumput.


Eiger pingsan. Dia berada di sana dalam waktu yang cukup lama. Hingga berita itu diturunkan, dia belum juga kembali. Sepertinya dia butuh waktu yang lama untuk sadar.


"Kak, kalau tujuanmu datang ke sini hanya untuk membuat gaduh, lebih baik kau keluar saja!" bentak Biana.


"Apa? Kau mau mengusirku sekarang? Tidak, Biana! Kau terlalu enak dimanjakan papa!" protes Bianca.


Ya, perbedaan antara panggilan papa dan daddy sudah menjadi ciri khas kedua saudara tiri itu.


Saat sedang bertengkar, tiba-tiba Biana menyalakan televisi. Dia melihat berita bahwa Eiger telah tiada.


"Eiger!" pekik Biana. Dia ingin memperbaiki hubungan dengannya, mengapa dia pergi secepat itu?


"Bukankah itu kekasihmu?" tanya Bianca pura-pura tidak tahu.


"Bukan, dia sudah menjadi mantan. Aku sedang berusaha mengembalikan keadaan, Kak. Tapi, kenapa beritanya sedang menyelematkan seorang sandera? Memangnya siapa yang diculik?"


"Mungkin saja kekasihnya? Bukankah dia sudah memiliki kekasih baru? Kau tidak tahu?" tanya Bianca.

__ADS_1


Hati gadis itu rasanya tercabik-cabik. Ingin memiliki lelaki itu, malah tanpa sengaja dia sudah membunuhnya. Rasanya ingin sekali mengulang kejadian bahwa tidak ada kebakaran di gudang tua itu.


"Kak, kenapa kau tertunduk? Itu sudah menjadi kebiasaanmu, bukan? Maksudku, setiap kau melakukan kesalahan, sikapmu selalu seperti itu."


Bianca mencoba mengatur emosinya. Jangan sampai terlihat di mata Biana. Kalau sampai Biana tahu, habislah dirinya. Namun, ada hal lain yang membuat Bianca senang. Atas kejadian hari ini, pihak kepolisian pasti akan mencari adiknya. Lalu, Biana akan dibawa ke penjara. Maka, papanya akan lebih mengunggulkan Bianca sebagai putrinya.


"Tidak. Kau salah sangka. Aku tidak menyangka bahwa lelaki yang kau cintai selama ini hanya berakhir sampai di situ."


Bianca berlalu meninggalkan adiknya. Sementara Biana, dia mengambil kunci mobilnya. Dia ingin memastikan bahwa kabar yang didengarnya adalah bohong.


Tujuannya kali ini adalah mansion keluarga Willard. Mereka pasti mau menerima kedatangan Biana yang semula mereka tolak.


"Penjaga, tolong bukakan gerbangnya! Aku ingin masuk," teriak Biana.


Biana hilang kesabaran. Dia berharap berita mengenai meninggalnya Eiger hanyalah kebohongan belaka.


"Maaf, Nona. Tidak ada orang di mansion.".


"Ke mana mereka pergi?"


"Semua orang pergi ke rumah sakit, Nona. Tuan David sedang dirawat di sana."


"Lalu, tuan Eiger?"


Semua orang juga tahu kalau tuan mudanya itu dikabarkan sudah meninggal dunia.


"Bukankah Anda seharusnya tahu dari berita hari ini? Tuan muda Eiger telah tiada. Kami sedang berduka. Jadi, tolong pergilah dari sini!"


Semua ucapan yang dilontarkan oleh penjaga mansion itu membuat hati Biana nyeri. Dia berharap kalau semua orang yang ada di dunia ini salah menerima kabar duka ini. Mereka harus tahu, bahwa keyakinan Biana tidak pernah salah. Dia harus mencari buktinya sendiri.


"Baiklah. Kalian semua tidak pernah percaya padaku. Tidak masalah. Aku akan cari buktinya sendiri!"


Biana memutuskan untuk pergi ke tempat kejadian. Dia juga berharap tidak akan mengalami kesulitan berada di sana.

__ADS_1


__ADS_2