
Terkadang kita tidak pernah tahu di mana tempat yang tepat untuk menjalani kehidupan. Tidak bisa memilih dilahirkan oleh siapa, dan akhirnya akan seperti apa? Seperti halnya yang dijalani Eiger saat ini. Kalau boleh memilih, dia ingin tetap bersama orang tuanya. Apa pun keadaan mereka, Eiger pasti menerimanya.
Memiliki nama besar dari keluarga kaya agaknya tidak membuat Eiger bahagia. Justru dia dituntut untuk selalu bersikap profesional.
Sebelum berangkat ke hotel untuk mengumumkan bahwa Eiger sudah dipastikan menjadi pengganti Balthis, pria paruh baya itu tidak berhenti sampai di situ saja.
"Kau sudah tahu aturannya, kan? Menggantikan aku dan menyiapkan calon tunangan. Kau tahu, semua relasi bisnis perusahaan akan menjadikanmu sorotan dari berbagai sudut. Jadi, jangan buat kesalahan sedikit pun!" pesan Balthis di ruang kerjanya.
"Baik, Pa." Sebagai anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, Eiger harus menjadi penurut.
"Satu lagi!"
"Ya?"
"Aku mau ada hitam di atas putih."
Balthis mengeluarkan sebuah map dari dalam laci. Sepertinya map itu sudah disiapkan jauh hari sebelum hari ini.
"Aku mau kau tanda tangan di dalam surat perjanjian ini. Bacalah!"
Balthis menyerahkan map itu ke tangan Eiger. Sudah bisa diduga. Balthis tidak akan membiarkan Eiger lolos begitu saja. Apalagi sampai memiliki harta kekayaan keluarganya.
Isi perjanjiannya tentu saja sama sekali tidak menguntungkan pihak Eiger sendiri. Semuanya hanya tentang Balthis dan Elov Willard. Ada yang menggelitik pikirannya. Kalau sampai Elov ditemukan, tidak masalah Eiger meninggalkan keluarga Willard. Namun, jika Elov tidak pernah ditemukan. Maka, apa yang terjadi selanjutnya?
"Hanya ini, Papa?" Eiger memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya. Memangnya kenapa?"
"Aku mau surat perjanjian ini diketik ulang."
"Apa maumu? Sudah kukatakan kau harus ikuti semua aturanku!"
"Maaf, Papa. Bukannya aku membantah semua keinginan Papa, tetapi tidakkah Papa pikir bahwa perjanjian ini hanya menguntungkan pihak Papa saja?"
Semakin ke sini, Eiger menunjukkan taringnya. Dia merasa bisa menguasai penuh keluarga besarnya. Namun, Balthis tidak gentar. Dia hanya mengeluarkan pistol dari meja kerjanya.
"Pistol ini berisi satu peluru. Kau mau tandatangani, atau tidak?" Balthis menodongkan pistol itu ke arah Eiger.
Pria itu tidak tahu kalau papanya sudah menyiapkan sedemikian rupa. Kalau boleh memilih, Eiger lebih baik mati daripada mengikuti semua kemauan Balthis.
"Silakan tembakkan pistol itu padaku. Kita akan selesai semuanya, Pa. Berakhir hari ini dan Papa akan mendekam di penjara. Saat Elov ditemukan, Papa tidak akan pernah melihatnya!"
__ADS_1
Seburuk itukah Eiger di mata Balthis sampai mengancam dengan senjata api? Kalaupun tidak bisa menyelesaikan segalanya, setidaknya jangan berbuat semaunya sendiri.
"Oh, atau kalau Papa tidak berani, aku akan mengatakan pada semua orang bahwa aku hanyalah Eiger Louis yang dijadikan anak angkat karena anak kandung sudah diserahkan kepada orang lain. Ya, setidaknya kita akan hancur bersama-sama, Pa. Setelah ituโ"
"Cukup! Jangan mengatakan apa pun lagi!" bentak Balthis.
"Tandatangani atau akuโ"
"Apa yang kau lakukan, Kak?" teriak Blerim saat merasa kalau Eiger terlalu lama berada di dalam. Selain itu, saat melihat Balthis menodongkan pistol membuat Blerim terkejut.
"Dia tidak mau menandatangani surat perjanjian ini, Blerim! Aku mau dia tanda tangan, setelah itu aku akan menyerahkan perusahaan kepadanya."
"Itu tidak bisa, Kak. Eiger, keluar sekarang! Lekas pergi ke hotel. Jangan sampai acara terlambat gara-gara kau masih ada di sini."
Eiger lebih banyak mendengarkan Blerim ketimbang Balthis. Sempat berpapasan juga dengan Jean dan David yang sudah siap berangkat.
"Kau tidak membuat suamiku marah, kan?" tanya Jean.
"Tidak, Ma. Maaf, aku harus pergi dulu," pamit Eiger.
Jean masih saja kesal melihat Eiger. Semakin hari kesombongannya sangat terlihat. Padahal Eiger sendiri hanya merasa membela dirinya saja.
"Kak, kurasa terjadi sesuatu yang menegangkan hari ini."
"Ah, lupakan! Mari kita lihat bagaimana kakakku bertengkar."
Belum sampai ruangan kerja Balthis, keduanya terkejut mendengar bunyi tembakan dan beberapa barang pecah.
"Balthis!" pekik Jean. Dia takut kalau terjadi sesuatu pada suaminya.
Buru-buru David membuka pintu hingga terlihat dua orang sedang berebut pistol. Beruntung pelurunya tidak melukai salah satunya.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Jean. Dia masih dalam kepanikan.
"Ini hanya kecelakaan kecil, Kak. Kau tidak perlu khawatir." Blerim akhirnya mundur melepaskan tangan kakaknya. Dia kemudian meninggalkan mereka untuk menyusul Eiger.
"Kecelakaan kecil?" tanya David.
"Ya, hanya kecelakaan kecil. Aku baik-baik saja," jawab Balthis.
Ruang kerjanya hancur seperti itu dibilang kecelakaan kecil? Sebenarnya apa yang terjadi hingga kakak beradik itu ribut kemudian saling serang menggunakan pistol?
__ADS_1
"Sayang, serius kau tidak apa-apa? Aku khawatir sekali. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Tidak ada. Ayo lekas berangkat! Jangan sampai kita terlambat seperti tempo hari."
Balthis keluar bersama Jean. David terpusat pada lembaran kertas yang sudah robek dan berhamburan di sana.
"Pasti ada sesuatu yang penting. Kak Balthis kenapa tidak mau bercerita?"
"David! Kau mau di situ atau pergi bersama kami?" teriak Jean.
"Tunggu satu menit lagi!" teriak David dari dalam ruangan yang pintunya setengah terbuka itu.
Sempat membaca surat perjanjian yang disobek. David menyimpulkan bahwa pertengkaran ini disebabkan oleh Eiger, kemudian berlanjut ke kakaknya, Blerim.
"Kau lama sekali!" protes Jean yang sudah menunggu di mobil selama 5 menit.
"Sabar, Kak. Acara ini kalau kita terlambat bukan masalah, kan?"
Balthis masih dalam pikirannya. Kali ini David lah yang akan mengemudikan kendaraan. Sementara Balthis dan istrinya berada di bangku kemudi.
"Kak, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Eiger menolak surat perjanjian yang kubuat. Aku tidak bisa membiarkan anak itu meremehkan aku seperti ini. Aku memang mengizinkan dia menggantikan aku, tetapi bukan berarti dia akan menghapus nama Elov untuk masa depan keluarga kita. Bukan begitu?"
"Sayang, kenapa anak itu susah sekali dikendalikan?"
"Entahlah. Aku rasa Blerim selalu menjadi garda terdepannya."
"Kak, lebih baik jauhkan kak Blerim darinya. Kau bisa pindahkan dia ke anak cabang perusahaan lainnya. Setelah itu, kita bisa membuat Eiger mundur dengan sendirinya," saran David.
Kenapa Balthis tidak memikirkan semua itu? Harusnya sedari dulu dia memisahkan Eiger dan Blerim. Setidaknya agar Eiger semakin tersudut, kemudian menyerah dan meninggalkan keluarga Willard selamanya.
"Kita terlalu sibuk mencari keberadaan Elov hingga melupakan hal sepenting ini. Sayang, aku tidak masalah apa pun yang menjadi hasil akhir pencarian Elov. Ada atau tidak anak itu, tetap akan menjadi yang penting dalam hidupku," jelas Jean.
"Benarkah ucapanmu, Sayang?" Balthis tidak menyangka bahwa istrinya akan setegar itu. Melepaskan memang sulit, tetapi apa salahnya berusaha ikhlas melepaskan.
Jean menyadari satu hal, harta yang paling berharga memang anak dan suaminya. Semuanya tidak ada bandingannya dengan apa yang dimiliki saat ini.
...๐พ๐พ๐พ...
Jangan lupa mampir ke karya Emak yang lainnya. Terima kasih ๐โค๏ธ
__ADS_1