
Biana mengemudikan mobilnya menuju ke gudang yang dimaksud. Dia mengetahui alamat jelasnya berasal dari berita televisi. Biana merasa aneh dengan kejadian ini. Masalahnya, Zoe wanita yang katanya menjadi kekasih Eiger tiba-tiba diculik.
"Ini sangat aneh. Kenapa Eiger tiba-tiba datang ke rumah? Dia juga menuduhku melakukan penculikan itu. Padahal, aku tidak melakukan apa pun seharian ini."
Beberapa kali Biana membunyikan klakson mobilnya. Ini memang mendekati senja, sehingga suasana jalan semakin padat. Apalagi jalanan menuju ke gudang yang dimaksud itu menjadi pusat perhatian semua orang.
Kabar berita kematian tuan muda Willard sudah menyebar. Sepanjang jalan, beberapa orang terlihat menyematkan beberapa karangan bunga untuk menghormati kepergian Eiger. Hal itu yang menambah kesedihan di hati Biana.
"Eiger, saat semua orang yakin bahwa kau telah tiada. Namun, tidak denganku. Aku yakin kalau kau masih hidup."
Membelokkan mobilnya ke gudang yang luluh lantak itu, ternyata tidak mudah. Beberapa mobil polisi yang sedang menyisir lokasi kejadian membuatnya dihadang dan tidak diperbolehkan masuk.
Petugas kepolisian mengetuk kaca mobilnya sehingga membuat Biana membukanya.
"Anda di larang masuk, Nona!"
"Maaf, Tuan. Aku hanya ingin mencari keberadaan tuan muda Eiger. Izinkan aku masuk," pinta Biana.
"Maaf, Nona. Siapa pun tidak diizinkan masuk. Lokasi sedang disterilkan. Masih ada mayat yang perlu dievakuasi."
Apa peduli mereka tentang hidup Biana? Justru, jika saat ini Biana menemukan keberadaan Eiger dalam keadaan apa pun akan menutup rasa bersalahnya saat mencampakkan dirinya.
Memaksa masuk bukan jalan yang baik karena polisi langsung membentaknya untuk kembali. Terpaksa, Biana memutar mobilnya untuk menuju pintu keluar gudang tua itu.
Sementara Zoe yang sedang berada di rumah sakit, kini mulai sadar. Dia sangat bingung ketika berada di ranjang dengan pemandangan warna putih di sekelilingnya. Terakhir, yang paling diingat saat dia berada di tepi danau untuk menikmati keindahan.
"Aku di mana?" tanya Zoe.
Kebetulan ada Suster yang sedang berjaga. Sehingga gadis itu langsung tahu saat dirinya kebingungan.
"Anda sedang berada di rumah sakit, Nona. Oh ya, Anda sangat beruntung sekali menjadi prioritas tuan muda Willard. Namun, sayangnya lelaki itu kini telah tiada."
__ADS_1
Tunggu! Tuan muda Willard? Tiada? Zoe sangat tidak mengerti dengan ucapan suster rumah sakit itu.
"Maaf, Suster. Aku benar-benar tidak paham maksudmu."
"Begini, Nona. Anda adalah korban penculikan, tetapi tuan muda Willard datang untuk menolong. Kemudian terjadi kebakaran di tempat Anda diculik. Dan, kabar terakhirnya adalah tuan muda Willard telah tiada. Semua media elektronik juga sedang menyiarkan berita itu, Nona."
Ah, kenapa Zoe merasa kalau beberapa pegawai rumah sakit lancang memberikan informasi kepadanya? Padahal dirinya sendiri masih syok dengan kondisinya. Lalu, ditambah dengan kabar buruk mengenai Eiger yang tiada.
Tak lama, suster itu rupanya memberitahukan pada keluarga besar Willard. Orang pertama yang masuk ke ruangan itu adalah Blerim. Dia memang yang paling dekat dengan Eiger maupun Zoe.
"Zoe, bagaimana kondisimu?"
Infus yang masih terpasang di tangannya, badannya yang terasa lemah, dan pikirannya syok membuat Zoe tidak terlalu banyak bicara.
"Lumayan, Uncle."
"Kalau kau tahu kabar ini, kau juga pasti syok. Eiger dikabarkan meninggal, tetapi aku tidak sepenuhnya percaya."
'Begitu pun denganku, Uncle. Aku masih tidak percaya kalau dia tiada. Pasti ada kesalahan,' batin Zoe.
Blerim pria yang baik. Dia selalu menanggapi semua kejadian dengan tenang dan tidak terlalu terburu-buru. Seharusnya banyak wanita yang beruntung bisa mendapatkan dirinya. Sayang, usianya yang memasuki setengah abad itu masih sama membuatnya menyendiri.
"Terima kasih, Uncle."
"Oh ya, apa kau mengingat sesuatu? Maksudku, apakah sebelum kejadian kau mencurigai seseorang?"
Zoe menggeleng. Justru dia tidak merasa memiliki musuh. Bahkan, niatnya untuk menjadi kekasih pura-pura Eiger tidak banyak yang tahu. Mereka hanya akan tahu saat melihat berita di televisi.
"Baiklah. Kalau kau mencurigai sesuatu, lekas katakan padaku!"
Zoe mengangguk pelan. Dia masih lemas di ranjangnya. Blerim memutuskan untuk keluar dari kamar itu dan membiarkan Zoe beristirahat.
__ADS_1
Berada di tempat yang berbeda, hari menjelang malam. Eiger perlahan membuka matanya. Rasanya air ini sangat menggangu sekali. Masalahnya, dia merasa sangat kedinginan dan lemah.
"Aaaaaa."
Eiger merasa berada di alam yang berbeda saat merasakan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Susah payah dia mengatur irama napasnya dan meyakinkan diri bahwa kondisinya baik-baik saja.
"Badanku rasanya lumpuh. Apa aku terlalu lama berada di sini? Oh ya, di mana semua orang? Apa mereka selamat?"
Kondisi terpuruk pun Eiger masih sempat memikirkan orang lain. Dirinya sendiri bersusah payah untuk keluar dari genangan air.
"Ah, ini sulit sekali. Apa aku perlu memanggil orang lain? Ah, tidak seperti itu konsepnya. Aku lelaki yang kuat. Aku pasti bisa melaluinya dengan mudah," ucap Eiger meyakinkan dirinya sendiri.
Berusaha terus sekitar 10 menit akhirnya Eiger bisa terduduk di tepi genangan air tersebut. Dia mencoba mencari sandaran sebisanya, tetapi tidak menemukan. Terpaksa dia merebahkan tubuhnya di atas rerumputan itu.
Suara bising sirine ambulans yang lalu lalang masih bisa didengarnya. Tidak hanya itu, suara mobil patroli polisi juga masih sempat didengar. Sayang, dirinya belum memiliki tenaga yang lebih untuk mendekat.
"Zoe! Zoe bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?"
Ingatannya langsung tertuju pada gadis itu. Rasanya Eiger merasa bersalah sudah melibatkan dirinya. Terlebih pengakuan penjahat itu menuduh nama Biana sebagai pelakunya. Ya, Eiger harus melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian agar Biana jera.
Ketika hari benar-benar gelap, Eiger mencoba keluar dari tempat itu. Dia tidak lagi melalui jalan depan, melainkan mencoba keluar dari jalan lain. Beberapa kali mencari jalan keluar, tampaknya sangat sulit. Pasalnya, gudang tua itu dikelilingi oleh tembok kokoh yang tidak mudah ditembus.
Solusi terakhir adalah Eiger harus melalui jalan depan. Dia akan berhadapan langsung dengan pihak kepolisian.
"Hei, lihat! Rupanya ada orang di sana!" teriak salah satu anggota kepolisian yang melihat Eiger berjalan dengan tertatih.
Beberapa anggota kepolisian itu akhirnya mendekat kemudian menolong Eiger. Pria itu segera ditolong oleh petugas kesehatan yang masih bertugas di sana.
Semua orang jelas mengenali Eiger. Pihak kepolisian pun segera menginterogasi lelaki itu.
"Tuan, maaf. Kabar mengenai kematian Anda sudah tersebar. Kami merasa bersalah karena di dalam masih ada dua jenazah terbakar. Salah satunya diduga adalah jenazah Anda."
__ADS_1
Bukannya pihak kepolisian lelet dalam hal ini, tetapi memang ada jenazah lain yang masih melalui proses indentifikasi. Sehingga rumor itu langsung saja menyebar.
"Tidak masalah. Oh ya, aku mau melaporkan pelaku penculikan itu. Sebelum kebakaran hebat terjadi, salah satu penjahat telah mengakui bahwa pelakunya adalah nona Biana Calantha. Lekas tangkap pelakunya!"