Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 61. Angin Surga


__ADS_3

Keluarga besar Willard mengira jika David bercanda. Rupanya dia sangat serius dengan keputusannya. Dia membawa calon tunangannya ke mansion keluarga besarnya.


Mereka terkejut saat tahu yang dibawa adalah saudari tiri Biana Calantha, yaitu Bianca Maria.


Balthis menarik tangan adik bungsunya itu. Dia tidak menyangka jika David memiliki keberanian untuk membawa wanita ke dalam mansionnya.


"Kau gila, David! Perbedaan usiamu dengannya hampir seperempat abad. Apa kau yakin menikahi gadis muda itu, hah?" bentak Balthis.


"Kak, apa aku harus seperti kak Blerim yang tidak menikah? Aku tidak mau. Satu-satunya wanita yang mau denganku hanyalah Bianca."


"Apa kau tidak takut kalau dia hanya akan memanfaatkan hartamu saja, hah? Biasanya wanita muda akan lebih senang memanjakan dirinya ketimbang mengurus suaminya yang sudah memasuki usia renta sepertimu!" tegur Balthis.


Saat ini memang Eiger dan Blerim tidak ada di mansion. David sengaja membuat janji dengan Balthis untuk meminta persetujuan darinya.


"Lebih baik ada wanita yang mau memanfaatkan hartaku dan aku tidak akan mati sia-sia, Kak!"


David sudah tidak peduli. Kalaupun keluarganya tidak setuju, maka David akan keluar dari mansionnya.


"Baiklah. Aku tahu kau sudah bekerja keras untuk keluarga besar kita. Kau bisa berunding dengan kakak iparmu untuk menentukan tanggal pertunangan kalian. Kalau perlu, tentukan tanggal pernikahannya sekaligus."


Balthis tidak bisa mengekang adiknya terlalu jauh. David juga perlu bahagia. Setidaknya setelah pernikahan ini, Balthis akan memberikan pelajaran berharga padanya.


Jean terkejut saat tahu David akan menikah dengan Bianca. Sebenarnya itu bukan masalah bagi Jean, tetapi saat tahu bahwa calon David sangatlah muda, Jean pasti akan tersisih di mansionnya sendiri.


"Baiklah. Suamiku sudah setuju untuk merestui kalian menikah. Ehm, siapa namamu?" tanya Jean basa-basi.


"Bianca, Aunty," jawab Bianca.


"What? Jangan panggil aku aunty! Panggil aku Jean atau kakak ipar. Itu jauh lebih baik karena akulah ratunya di mansion ini." Jean sengaja memamerkan dirinya.


"Hemm, baiklah Kakak ipar. Kurasa sebentar lagi bukan hanya kau saja yang akan menjadi ratu di sini, tetapi aku juga," ungkap Bianca percaya diri.


Jean sangat kesal. Selama ini baru Bianca yang berani melawannya.


"Oke. Jadi, kapan kalian akan bertunangan?" tanya Jean langsung ke inti masalahnya.

__ADS_1


"Aku minta minggu depan. Setelah itu, pernikahan akan digelar satu bulan dari hari ini," jawab Bianca tegas.


David membelalakkan matanya. Dia tidak menyangka kalau gadis agresif yang ditemuinya ini benar-benar mempercepat proses pernikahannya.


"Apakah tidak terlalu cepat?" tanya David ragu.


"Tidak, Sayang! Kau tahu kan kalau Kakak ipar sendirian di mansion. Aku akan menemaninya."


Sebenarnya Jean merasa tidak nyaman bisa dekat dengan Bianca. Alasannya cuma satu. Dia gadis yang terlalu pemberani dan akan mengancam keberlangsungan hidupnya di dalam mansion.


"Sudahlah, Jean. Turuti saja apa yang mereka inginkan!" sahut Balthis.


Setidaknya salah satu adiknya bisa menikah dan memiliki keluarga. Sementara tersisa Blerim dan Eiger. Kedua pria itu belum memutuskan untuk menjalani kehidupan masa depannya dengan pasangan masing-masing.


Saat semua sudah diputuskan, beberapa hari ke depan Jean akan sangat sibuk. Sehingga menjelang petang, saat semua orang kembali ke mansion, Jean tampak tidak fokus.


"Sore, Ma! Kenapa terlihat tidak senang seperti itu?" tanya Eiger.


"Eh, Eiger. Kau baru pulang?"


Hubungan Eiger dan Jean sudah membaik. Dia juga mau dipanggil mama seperti sebelumnya. Jean juga sudah mengikhlaskan kepergian Elov, putranya.


"Mama terlihat tidak nyaman. Memangnya ada apa?" 


Eiger terus mengulang pertanyaan sampai mendapatkan jawaban. Jean menghirup udara secara kasar, kemudian dihembuskan.


"Uncle David mau menikah."


"What? Kakak serius?" sahut Blerim yang baru saja bergabung dengan mereka.


"Ya. Asal kalian tahu, gadis itu benar-benar sombong!" geram Jean.


"Oh, jadi Uncle akan menikah juga dengan Bianca. Selamat kalau begitu," ungkap Eiger. 


Justru malah Jean semakin kesal mendengar penuturan anak angkatnya.

__ADS_1


"Kau mau membuat Mama darah tinggi terus? Dia benar-benar gadis yang tidak tahu aturan. Dia memperlakukan semua orang sesuai apa yang disukainya. Jika tidak, dia pasti membantah!"


"Sabar, Sayang!" tegur Balthis.


"Kak, memangnya benar kalau David akan menikah?" tanya Blerim. Dia masih belum puas dengan jawaban Jean.


"Ya. Sekarang keduanya pergi mengurus cincin pertunangannya. Jean tidak mau ikut campur masalah cincin, gaun, dan catering. Sebenarnya Jean juga meminta calonnya itu untuk mengurus dengan even organizer, tetapi gadis itu terlihat ogah-ogahan."


Eiger tidak bisa membayangkan saat pamannya itu menikahi gadis yang usianya jauh berbeda. Firasatnya memang tidak baik pada Bianca, tetapi Eiger juga tidak bisa melarangnya.


Sementara David yang saat ini pergi bersama Bianca untuk membeli perhiasan. Kemudian mereka mampir sebentar ke butik untuk mengurus beberapa baju yang akan mereka gunakan saat pertunangan berlangsung.


"Sayang, aku mau perhiasan yang paling indah. Ehm, maksudku cincin pertunangan kita bertahtakan berlian."


"Tentu, Sayang. Aku akan membelikan semua permintaanmu."


Benar saja. Saat berada di toko perhiasan, David harus menggelontorkan dana yang cukup besar hanya untuk sepasang cincin pertunangan dan satu set perhiasan mewah.


David masih belum merasa rugi saat Bianca mau menikah dengannya. Padahal, dibalik semua itu Bianca sudah memiliki rencana licik untuk masuk ke dalam keluarga Willard. Salah satu tujuannya adalah untuk mendapatkan Eiger kembali.


Bianca akan tetap bersaing dengan Biana untuk mendapatkan Eiger. Namun, adiknya itu tidak terlalu berani mengambil risiko. Sementara dirinya harus berkorban dengan menikahi David.


Perhiasan sudah didapatkan. Sekarang keduanya berada di butik termegah di kotanya. Bianca memilih beberapa gaun indah. Tidak hanya itu, David juga mengurus pakaiannya sekalian. Bianca lah yang akan memadu padankan dengan gaunnya.


"Tidak masalah aku akan mengambil uang David sampai habis. Memangnya dia pikir aku mau tidur dengan pria berumur? Tidak! Aku hanya ingin tidur dengan Eiger. Dia tujuanku!" ucap batin Bianca saat memegangi gaun indah dengan beberapa belahan yang akan sedikit mengekspose tubuhnya yang lumayan sintal itu.


"Sayang, apa ini gaun yang akan kau pilih?" David menyenggol lengan kekasihnya saat penjaga butik bertanya, tetapi Bianca tidak merespon.


"Ah, aku minta maaf, Sayang. Aku terlalu antusias untuk memikirkan pesta pertunangan kita. Aku sampai baru sadar jika masih berada di butik."


"Kau terlalu antusias, Sayang!" seru David dengan riang.


"Tentu saja! Aku sudah tidak sabar menikah denganmu kemudian kita pergi berbulan madu. Aku akan memberikan servis terbaikku sebagai seorang istri. Kau juga pasti sudah tidak sabar kan, Sayang?"


"Kau benar, Baby! Aku sudah menahannya begitu lama. Aku ingin menikmati bulan madu denganmu. Aku akan mempersiapkan tempat terbaik. Kau mau pergi ke Maldives?"

__ADS_1


Jika Bianca memberikan angin surga hanya untuk memuluskan kebohongannya, maka berbeda dengan tanggapan David yang mengira bahwa semua ucapan Bianca adalah kenyataan. 


__ADS_2