
Hari H yang dimaksudkan tinggal beberapa hari lagi. Eiger semakin khawatir karena Zoe tidak memberikan kabar sama sekali. Sebelum berangkat ke kantor, seluruh anggota keluarganya mengingatkan untuk membawa pendamping. Jika tidak, maka semua orang akan menyudutkan Eiger.
Ya, jebakan yang disiapkan Balthis sangatlah akurat. Tidak seinci pun Eiger dibiarkan bergerak bebas dari tempatnya. Setelah mendapatkan 25 saham perusahaan, Balthis semakin yakin kalau Eiger harus tetap terpojok.
"Eiger, hari ini datanglah ke kantor lebih awal. Urus semua rapat penting dengan klien," perintah Balthis.
"Tapi, Pa—"
"Jangan membantah! Kerjakan perintah itu dengan baik," sahut Jean.
Jean tidak pernah bisa menerima kenyataan ini. Bahkan, saat suaminya itu menyetujui keputusan untuk menyerahkan kepemimpinan pada Eiger, nurani Jean terus saja berontak. Namun, saat kembali memikirkan suaminya, Jean tahu betul kalau Balthis memiliki alasan tersendiri.
"Ma, sebelumnya aku minta maaf. Hak untuk mengurus meeting hari ini adalah Uncle David, bukan aku!" tolak Eiger.
Boleh jadi mereka mempermainkan dirinya, tetapi Eiger tidak boleh diam saja.
"Kau ingin membantah Kak Balthis? Berani sekali!" sahut David dengan nada bicara yang ketus.
"Sudahlah. Eiger akan pergi bersamaku," pungkas Blerim mengakhiri keributan.
"Ck, selalu saja jadi pahlawan kesiangan. Kenapa dia selalu membela Eiger di hadapan semua orang? Sedari kecil, Blerim selalu menjadi orang pertama yang akan menolong Eiger. Atau, jangan-jangan Blerim dan Eiger memiliki ikatan darah?" ucap Jean dalam hati.
Semua orang terdiam. Hari ini Balthis sengaja tidak ke kantor karena detektif swasta itu akan datang ke mansion. Dia mengatakan bahwa ini adalah laporan pamungkas dari sekian banyak tugasnya.
Balthis juga sudah mengatakan pada istrinya untuk tetap tenang. Apa pun yang akan dikatakan detektif swasta itu, Jean tidak boleh histeris atau apa pun itu.
"Ya, pergilah! Bimbing keponakan tersayangmu itu untuk menjadi pria yang lebih baik lagi," pesan Balthis pada Blerim.
Tanpa mendebat lagi, Blerim dan Eiger pun pergi. Tidak ada percakapan lagi setelahnya, tetapi Eiger mencoba meminta pamannya untuk mengemudikan mobil kali ini.
"Kalau pikiranmu sedang kacau, lebih baik duduk di kursi penumpang. Biar aku saja," ucap Blerim.
"Aku baik, Uncle. Kau jangan khawatir."
"Masih memikirkan Zoe?" tanya Blerim.
"Tidak. Kurasa aku akan memakai caraku sendiri."
"Ya, terserah. Itu hakmu."
Blerim memang mengawasi Eiger, bukan berarti dia menekan Eiger begitu saja. Tetap mengarahkan anak itu ke jalur yang benar jika sedang menyimpang.
__ADS_1
Sampai di kantor, tatapan mata Eiger terpaku pada seseorang. Bergegas dia meminta gadis itu masuk ke dalam mobil.
"Masuklah!" perintah Eiger.
Blerim lekas membawa gadis itu menjauh dari unit perkantoran. Blerim sengaja membawanya masuk ke sebuah hotel untuk menjaga privasi.
"Uncle, apa kau yakin? Meeting beberapa menit lagi akan berlangsung," ucap Eiger.
"Jangan khawatir. Kita hanya sebentar. Nanti ada orang yang mengurusnya."
"Kenapa ke hotel? Aku tidak mau. Ini sangat mahal. Uangku tidak akan cukup untuk membayarnya," tolak Zoe saat mobil memasuki area parkir hotel.
"Tidak apa-apa. Kau adalah tamuku. Kami akan menjamu dengan baik," jelas Blerim.
"Terima kasih," jawab Zoe.
Blerim memberikan sejumlah uang untuk membayar kamar hotel selama beberapa hari. Tak lupa pula memberikan uang untuk berbelanja kebutuhan baju dan beberapa yang diinginkan Zoe. Intinya Zoe akan dimanjakan.
"Pesan kamar untuk lima hari ke depan. Belilah beberapa gaun, sepatu, dan aksesoris. Belajarlah dari tutorial video di ponselmu. Ini sangat memaksa, tapi aku yakin kau mampu," jelas Blerim.
Walaupun Blerim belum memberikan kontrak kerja pada Zoe, tetapi dia yakin kalau gadis itu mampu menjalankan perannya dengan sangat baik.
"Ini untuk apa? Bukankah aku belum setuju?" tanya Zoe.
Ya, Blerim lebih banyak menjawab ketimbang Eiger. Sementara Eiger, dia tidak bisa berkata apa-apa sebelum Blerim selesai.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan, Tuan? Berapa gaji yang kamu tawarkan?" Zoe memberanikan diri untuk bertanya.
"Kau berpura-pura menjadi kekasih keponakanku. Kalau belum jelas hal apa saja yang akan kau lakukan, siang ini Eiger akan datang menemuimu."
"Baik, Tuan. Terima kasih."
Zoe turun. Dia meninggalkan Blerim dan Eiger yang sedari tadi tidak berbicara apa pun.
Berbeda lagi yang dilakukan penghuni mansion. Balthis harap-harap cemas menanti kedatangan detektif swasta itu. Rasanya sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.
"Kau kenapa mondar-mandir terus, Sayang?" tanya Jean.
"Aku menunggu kedatangan detektif itu."
"Benarkah, Kak?" tanya David. Hari ini dia dibebaskan dari tugas kantor untuk menemani Balthis bertemu detektif.
__ADS_1
"Tunggu beberapa menit lagi. Dia pasti datang." Balthis meyakinkan.
Jean mengambil majalah di meja ruang keluarga. Beberapa majalah mengenai fashion wanita dan keluarga. Selain itu ada beberapa baju couple yang didesain sedemikian rupa oleh desainer ternama di kotanya.
"Sayang, kurasa kita memerlukan desainer ini untuk mengurus semua pakaian keluarga kita nanti. Kau, aku, dan Elov. Kemudian kita akan melakukan foto bersama."
Balthis terdiam. Saat ini perasaannya sangat berbeda dengan apa yang dirasakan Jean saat ini. Balthis tidak mungkin mengatakan dari mulutnya bahwa putranya sudah benar-benar hilang dan tidak pernah kembali lagi. Hati Jean pasti akan sangat hancur. Seumur hidupnya pasti akan mengurung diri di kamar.
Harapan Balthis dari detektif itu bahwa Elov masih ada dan nyata. Di belahan bumi mana pun, Balthis akan datang untuk menjemputnya.
Seorang pelayan datang tergopoh-gopoh untuk membawa pesan pada tuannya.
"Tuan, aku minta maaf. Di luar ada tamu yang sedang menunggu Anda."
"Suruh dia masuk!" perintah Balthis.
"Baik, Tuan."
Pelayan itu kembali ke depan. Jean meletakkan kembali majalahnya. David baru saja bergabung dengan kakak iparnya di ruang keluarga.
"Kenapa sudah dikembalikan majalahnya?" tanya David.
"Ada tamu, David. Kurasa itu adalah orang yang kita tunggu," jawab Jean.
"Detektif itu?"
"Ya, David. Aku sudah tidak sabar untuk mendapatkan kabar keberadaan putraku. Aku ingin segera memeluknya, memberikan perhatian lebih, menyiapkan makanan, dan yang paling spesial, aku akan menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini."
Hati Balthis lebih sakit daripada kehilangan Elov. Mendengar kebahagiaan palsu yang sudah direncanakan istrinya membuatnya terasa hancur. Saat pertama kali detektif itu datang kemudian membawakan kabar buruk, harapan besar Balthis adalah kabar sebelumnya itu adalah bohong. Ada kabar lain yang menyebabkan Elov itu masih hidup. Itu harapan terbesar Balthis.
"Hai, Tuan. Silakan duduk!" perintah Balthis.
"Terima kasih, Tuan. Anda masih memberikan kesempatan kepadaku untuk mengerjakan tugas penting ini," ucap detektif itu dengan tenang.
"Tuan, lekas katakan di mana putraku berada. Aku yakin kalau Anda adalah detektif handal yang bisa mengatasi semua masalah kami. Lekas katakan! Suamiku akan langsung menambah bonus kepadamu jika anakku ditemukan." Jean sangat antusias sekali.
Detektif itu semula ceria, tiba-tiba menunjukkan perubahan sikap yang membuat mereka tanda tanya. Akankah kabar yang dibawa detektif ini akan membuat keluarga Willard bahagia? Atau, malah sebaliknya?
...🌾🌾🌾...
Sambil menunggu update, jangan lupa mampir ke karya Bestie Emak. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ❤️
__ADS_1