
Beberapa bulan pasca keributan itu, suasana mansion kembali tenang. Balthis sudah membuat perjanjian antara Jean dan Bianca. Keduanya tidak boleh ribut atau berdebat di dalam mansion. Jika salah satunya melanggar, maka Balthis tidak akan segan mengusir salah satunya dari mansion.
Hari ini, tepat di mana Balthis harus merelakan jabatan sekaligus urusan perusahaan diurus oleh Eiger. Penyerahannya pun akan dilangsungkan hari ini, tetapi sepertinya ada kendala yang berarti.
Berada di meja makan membuat Zoe semakin mual tidak menentu. Sebenarnya dari semalam baik-baik saja, tetapi pagi ini perutnya yang kosong seperti sedang diaduk-aduk.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Eiger.
"Entahlah, Sayang. Aku merasa belum makan apa pun, tetapi perutku rasanya aneh sekali."
Jean paham. Dia pernah mengalaminya saat pertama kali hamil Elov. Ya, hamil anak yang tidak pernah ditemukan sama sekali. Bahkan, belum pernah Jean memberikan kasih sayang seperti kasih sayang palsu yang diberikan pada masa kecil Eiger.
"Sayang, kurasa kau harus membeli test pack. Kurasa Zoe pasti sedang hamil," ucap Jean.
Terus terang hal itu membuat Bianca cemburu. Zoe lebih cepat hamil dengan Eiger. Padahal Bianca mengincar pria itu. Sementara hubungannya dengan David sedang tidak baik-baik saja. Mereka berseteru di dalam kamar.
"Ck, dia pasti hamil," gerutu Bianca.
David mampu mendengar lantaran jarak antara Bianca dan dirinya hanya beberapa centimeter. David merasa perlu memanfaatkan kesempatan ini.
"Kau cemburu? Kalau kau cemburu, mengapa kita tidak membuatnya sendiri?" tanya David sedikit berbisik.
Jangankan membuat. Bayangan Bianca saja tidak semanis harapannya. Dia menikahi David hanya agar dipandang sebagai istri sosialita bagian dari Willard.
"Apa perlu mama bantu ke kamar? Mama panggilkan dokter?" Antusias Jean sangat tinggi pada Zoe.
Puluhan tahun suasana mansion tidak pernah terdengar suara anak kecil. Bagi Jean, Zoe adalah berkah yang luar biasa. Terlebih jika menantunya itu benar-benar hamil. Jean akan semakin bahagia.
"Tidak perlu, Mama. Biar aku panggil dokter saja," tolak Eiger.
"Jangan, Sayang. Biar itu urusan mama. Hari ini kau harus pergi ke kantor, bukan? Acaramu jauh lebih penting. Maksudku, bukan berarti istrimu tidak penting. Mana akan panggil dokter keluarga." Jean tidak mau rencana yang sudah dibuat suaminya itu kacau.
"Turuti saja ucapan Mamamu!" sahut Balthis.
__ADS_1
Sementara Blerim menikmati sarapan paginya tanpa berkomentar apa pun. Dia fokus sarapan pagi karena tugasnya sebentar lagi akan semakin ringan. Saat Balthis memutuskan untuk melepaskan perusahaan, itu artinya Blerim hanya akan bekerja dengan Eiger dan David. Kakaknya akan menikmati masa-masa pensiun bersama istrinya.
Lalu, Blerim memilih untuk tetap tidak menikah sampai akhir hayatnya. Kecintaannya terhadap wanita yang tiba-tiba menghilang itu belum pupus hingga puluhan tahun berlalu. Sementara Eiger, bayi kecil yang selalu ditimang, kini sudah menjadi sosok suami yang mungkin sebentar lagi akan memiliki anak.
Keputusan yang dibuat Jean pun sudah benar. Dia membiarkan para pria untuk pergi ke kantor, sementara dia mengurus menantu serta iparnya.
"Ck, jangan terlalu peduli pada menantu yang bukan dari anakmu," sindir Bianca saat berdua saja dengan Jean.
Zoe berada di kamarnya untuk menunggu kedatangan dokter. Sementara Jean membereskan kekacauan yang terjadi antara dia dan Bianca.
"Setidaknya menantuku baik, ketimbang adik ipar yang tidak tahu diri!" sindir Jean.
Beruntung suaminya tidak di mansion. Sementara para pria yang baru saja tiba di kantor itu lantas mengambil bagian masing-masing. David ditugaskan untuk menyiapkan semua surat-surat berharga yang akan ditandatangani saat meeting berlangsung.
"Meeting beberapa jam lagi. Kuharap kau siap mengemban tugas ini. Andaikan Elov masih ada, kau tidak akan mungkin bisa sejauh ini," ucap Blerim.
"Kalaupun Elov ada, aku akan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya."
Hari ini, meeting pengalihan pemimpin berjalan dengan baik. Para karyawan pun senang dengan keputusan Balthis. Terlebih Eiger adalah pria yang baik. Di bawah kepemimpinannya, Willard akan semakin berkembang.
Walaupun berada di ruang meeting, pikiran Eiger terpecah. Namun, itu bukan menjadi masalah hingga akhir meeting usai. Dia memutuskan untuk bertahan di dalam ruangan. Memandangi ponselnya sedari tadi. Berharap mendapatkan pesan dari Jean.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Balthis saat melihat perubahan sikap putranya.
"Aku sedang memikirkan Zoe, Pa. Kukira mama akan mengirimkan pesan padaku. Ternyata aku salah."
"Kalau begitu, kau telepon saja istrimu. Atau, telepon mamamu," sahut Blerim memahami kecemasan Eiger.
Eiger lekas mendial nomor istrinya, tetapi tidak kunjung diangkat. Dia beralih mendial nomor Jean. Saat panggilan ketiga, Jean baru mengangkatnya.
"Halo, Eiger. Kenapa? Kau ingin tahu kabar dariku, bukan?" tanya Jean to the poin.
"Iya, Mama. Aku berusaha menghubungi Zoe, tetapi dia tidak mengangkat."
__ADS_1
Jean menghela napas panjang. "Ya, dia sedang beristirahat. Selamat, ya! Kau akan menjadi seorang ayah."
"Benarkah?" Eiger masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ya, Zoe hamil. Kuharap kau harus lebih perhatian lagi padanya. Bawakan hadiah romantis saat kau pulang. Dulu, papamu selalu melakukan hal seperti itu."
Hening karena Eiger sedang memandang Balthis dengan segala keraguannya. Pria dingin itu dulu sangat romantis. Eiger sedikit tidak percaya.
"Eiger, apa kau masih di tempat?" tanya Jean kemudian.
"Ah, iya. Kalau begitu aku tutup teleponnya dulu. Aku mau bicara sama Papa," pamit Eiger.
Jean pun lekas menutup teleponnya. Sementara Eiger, dia mencoba mendekati papanya.
"Papa, boleh aku bertanya padamu?" tanya Eiger.
"Ya, tanyakan!"
"Sebahagia apa saat Papa tahu kalau mama mengandung kala itu?"
Penggambaran yang tidak bisa dijelaskan secara mendetail. Tidak hanya Balthis, tetapi seluruh anggota keluarga sangat bergembira. Balthis juga memberikan beberapa kesempatan pada para pelayan untuk melayani istrinya dengan baik. Balthis menghujani istrinya dengan banyak hadiah setiap pulang dari kantor. Kebahagiaan itu terus ada sampai pada sebuah kecelakaan yang membuat segalanya berubah. Termasuk harus kehilangan Elov.
"Sangat bahagia sekali. Kau pun demikian, bukan?"
Eiger tidak mampu berkata-kata lagi. Dia sangat bersyukur bisa memiliki Zoe dan sekarang istrinya itu sedang mengandung.
Kabar terdengar begitu cepat hingga sampai ke telinga Biana. Ya, Bianca mengabarkan bahwa mantan kekasihnya itu sebentar lagi akan memiliki anak. Biana menyesal kemudian larut dalam kesedihan.
"Kenapa kau sedih? Aku sudah bilang kan kalau aku harus melupakan Eiger," jelas Elmer.
"Aku tidak tahan, Papa. Aku harus segera meninggalkan negara ini. Aku tidak sanggup melihat kebahagiaan Eiger yang setiap saat kulihat saat aku berkunjung ke tempat Bianca. Aku akan pergi sekarang."
Ya, Biana memutuskan untuk melupakan masa lalunya. Semuanya sudah terlambat. Biana pergi tanpa pesan pada Bianca ataupun mantan kekasihnya. Dia murni ingin melupakan kenangannya bersama Eiger kemudian membuat kenangan baru.
__ADS_1