
Balthis dan Jean bersiap untuk pergi ke bandara. Kali ini keduanya tidak banyak membawa barang. Hanya satu koper untuk berdua.
"Papa mau ke mana?" tanya Eiger.
"Ada urusan, Eiger. Oh ya, titip perusahaan! Urus dengan baik. Aku hanya pergi sebentar," pamit Balthis.
Jean berusaha berdamai dengan keadaan, tetapi dia lebih banyak diam daripada mengurusi sesuatu yang menurutnya tidak penting.
"Siap, Pa."
"Kak, kau pergi tidak mengajak kami. Memangnya kalian mau ke mana?" tanya Blerim.
"Blerim, jangan terlalu sering mencampuri urusan orang lain. Lebih baik urus hidupmu yang tidak jelas itu!" ketus Jean.
Blerim memundurkan tubuhnya di kursi meja makan. Dia merasa kalau ini adalah babak baru kehidupan kakaknya. Sementara bagi Eiger, semakin cepat Elov ditemukan, maka urusannya dengan keluarga Willard segera selesai.
"Papa mau mencari keberadaan Elov, Uncle," sahut Eiger.
"Hei, apa pedulimu? Bukankah kau akan lebih bahagia jika Elov tidak pernah ditemukan?" tuduh Jean.
Eiger menarik napas kemudian menghembuskannya. Jika sedari dulu Eiger tahu bahwa bukan dari bagian keluarga ini, dia pasti kabur. Namun, Blerim menariknya kembali ke dalam lingkaran keluarga aneh dan misterius ini.
"Maaf, Ma! Aku bukan lelaki yang silau akan harta," sanggah Eiger.
"Wow, kau masih bisa berkata seperti itu setelah mengambil saham perusahaan. Apa itu bukan berati kau silau akan harta keluarga suamiku?" cecar Jean.
Balthis, David, dan Blerim melihat kelakuan Jean pagi ini rasanya ingin sekali membuat wanita itu marah. Namun, Balthis sadar diri bahwa pagi ini Jean bersikap demikian karena dia gugup menghadapi hasil akhirnya.
"Sudahlah, Kak. Jangan ribut terus! Lebih baik Kakak sarapan kemudian pergi ke bandara. Mau aku antar atau bagaimana?" tawar David.
"Seperti biasa, David. Antarkan kami ke bandara!" pesan Jean.
Hari ini David memiliki janji dengan Eiger. Pria paruh baya itu sudah dicecar pertanyaan mengenai perasaannya terhadap Bianca. Semula tidak mau mengakuinya, tetapi pada akhirnya David mengaku bahwa dia sudah terpesona padanya saat pandangan pertama.
Hal yang paling menyebalkan untuk Eiger saat David mengiyakan rencananya, tetapi pria itu yang menentukan waktu terbaiknya.
"Uncle, jangan lupa hari ini ada pekerjaan penting. Ingat, jangan datang terlambat!" pesan Eiger sebelum pergi ke kantor bersama Blerim.
"Makan siang saja. Oke?" tawar David.
David juga buru-buru mengantarkan Balthis ke bandara. Eiger dan Blerim ada meeting penting pagi hari.
"Baiklah. Aku akan jadwal ulang." Eiger terpaksa mengalah.
__ADS_1
Blerim meminta Eiger untuk berangkat dengan menggunakan satu mobil yang sama. Hari ini banyak sekali yang harus diurus. Kepulangan Zoe, pertemuan David dan Bianca, serta meeting penting di pagi hari.
"Kak, kami pamit. Safe flight, ya! Jangan lupa beri kabar saat sampai di sana." Basa-basi Blerim.
"Ya, tentu! Aku juga tidak akan lama. Segera setelah semuanya selesai, kami akan pulang," pungkas Balthis.
Mereka memisahkan diri untuk berangkat ke tujuan masing-masing. Blerim menginterogasi Eiger perihal kesepakatan yang dicapai dengan David.
"Kau tidak melakukan sesuatu yang salah, kan?" tanya Blerim.
"Tidak. Aku hanya meluruskan kesalahpahaman saja. Bukankah Uncle bilang kalau aku harus menjadi lebih baik lagi?"
"Benar. Ingat, jangan memutuskan sesuatu karena perasaan. Pikirkan dengan baik. Uncle yakin kau adalah lelaki hebat dan tidak mudah untuk diombang-ambingkan."
Eiger sebenarnya lelaki mandiri. Dia merasa down saat Jean mengaku bahwa dia bukan anak kandungnya. Terlebih dia sama sekali tidak ada hubungan dengan keluarga Willard. Perlahan dia mulai bangkit untuk bertahan hidup dan menjalani takdir hidup yang diterimanya.
Saat ini, kepercayaan diri Eiger sudah kembali saat bertemu dengan Zoe. Gadis itu selalu bisa memberikan angin segar saat dirinya kalut. Bahkan, saat dia berniat untuk mengutarakan perasaannya, Zoe yang mendadak menghilang malah membuat Eiger semakin pusing.
"Uncle, sebentar lagi kau akan kalah telak!" sindir Eiger.
"Maksudmu?"
"Uncle David suka dengan Bianca."
"Tidak. Dia sudah mengatakannya padaku."
"Oh, ya ampun! Aku tidak bisa membayangkan dia menikah dengan Bianca. Betapa hebohnya suasana mansion setelah ini."
Justru bukan itu pikirannya saat ini. David akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan gadisnya itu. Itu sudah sifat David yang selalu ingin memiliki apa yang menjadi incarannya. Ini baru diketahui oleh Eiger saat ini.
"Jadi, menurut Uncle bahwa Uncle David akan terus mengejar gadis ini sampai benar-benar berada dalam genggamannya?"
"Ya, kau benar! Lihat saja."
"Kenapa aku malah berpikir negatif sekarang?"
"Apa yang kau pikirkan?"
"Aku malah curiga kalau Bianca pelaku sebenarnya. Setelah bertemu dengan Uncle David, gadis itu pasti mencari perlindungan."
Blerim tersenyum. "Tidak masalah. Biarkan David sibuk dengan urusannya. Kita akan berada dalam posisi aman. Apalagi kak Balthis sedang menunggu kabar terakhir dari Elov."
Blerim memarkirkan mobilnya tepat di tempat yang biasanya. Setelah itu, keduanya turun menuju ke ruangan masing-masing. Namun, mata Eiger menangkap seseorang yang dikenalnya sedang berdiri di depan meja resepsionis.
__ADS_1
"Uncle Elmer?" ucap Eiger lirih.
"Ada apa?"
"Daddy Biana datang. Oh ya ampun, ini masih pagi."
"Temui saja. Dia pasti mencarimu."
"Baik, Uncle."
Eiger dan Blerim memisahkan diri di depan meja resepsionis. Eiger harus menemui Elmer dengan urusannya saat ini.
"Selamat pagi, Uncle!" sapa Eiger.
"Eh, Eiger. Kebetulan kau datang. Aku mencarimu."
"Mari ikut ke ruanganku!" ajak Eiger.
Elmer berjalan di belakang Eiger. Banyak yang ingin dibicarakan dengan lelaki itu termasuk salah sangka bahwa Biana lah pelaku sebenarnya. Itu semua tidak benar saat Elmer tahu semua tentang cerita Biana.
"Silakan duduk, Uncle!"
"Terima kasih. Oh ya, langsung saja ke inti masalahnya, ya. Kurasa laporanmu tentang Biana itu perlu dicabut. Kau sudah salah sangka terhadap putriku itu. Dia tidak melakukan apa pun yang kau tuduhkan."
Eiger terdiam. Dia mencoba mengatur irama napasnya untuk tidak emosional. Dia harus tahu mengapa Elmer mengatakan hal itu padanya?
"Kalau bukan Biana, lalu siapa, Uncle?"
"Aku tidak tahu!" jawabnya sengit.
"Uncle, penjahat itu mengakui bahwa Biana lah pelaku yang sebenarnya. Sementara penjahat itu telah tiada. Beberapa yang kabur sedang dicari keberadaannya."
"Aku tidak peduli, Eiger. Harga diri putriku dipertaruhkan karena bukan dia yang melakukan kesalahan itu. Biana memang terkadang bertindak di luar nalar, tetapi untuk melakukan penculikan sampai membakar gudang. Itu bukan Biana!"
Seorang papa akan terus memenangkan putrinya. Terlebih saat Elmer tahu kalau Biana tidak bersalah.
"Kalau begitu kita lakukan barter, Uncle. Aku sedang mencari pelaku sebenarnya. Maka aku akan membebaskan Biana setelahnya."
Amarah Elmer meledak. "Kau pikir aku mau anakku mendekam di penjara, hah? Aku hanya meminta kau mencabut tuntutannya. Aku berjanji akan membantu mencarikan pelaku yang sebenarnya."
"Kalau begitu, lakukan! Sesuai kesepakatan. Barter!"
Elmer rasanya kesal berhubungan dengan lelaki yang keras seperti Eiger.
__ADS_1