Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 23. Mengorbankan Diri


__ADS_3

"Good morning!" sapa Eiger saat melihat Zoe sudah keluar dari kamarnya.


Semalam, setelah makan malam bersama, Zoe memutuskan untuk keluar dari kos itu. Dia merasa tidak nyaman tinggal berdua dengan pria asing. Namun, Eiger memberikan solusi bahwa Zoe bisa tidur di dalam kamarnya, sementara Eiger akan tidur di ruang tamu.


"Good morning. Maaf, sudah membuatmu harus tidur di sofa seperti ini."


"Tidak masalah. Apa rencanamu hari ini?" tanya Eiger.


"Pulang." Zoe memilih duduk di tempat yang jaraknya lumayan dari Eiger.


"Sarapan dulu. Aku akan membuatnya."


Eiger beranjak dari sofa tempatnya tidur semalam, tetapi Zoe menahannya.


"Tidak perlu repot-repot. Aku langsung pulang. Bus pagi ke tempatku pasti sudah banyak."


Penampilannya memang sudah rapi. Zoe terlihat sudah membersihkan diri, tetapi dia masih menggunakan pakaiannya semalam.


"Ya, baiklah. Kau bisa pulang sendiri, kan?"


Astaga. Sebenarnya Zoe juga tidak mengharapkan pria itu mengantarnya, tetapi melihat rasa cuek yang ditunjukkan membuat Zoe kesal juga.


"Eiger, setidaknya perlakukan tamumu dengan baik!" tegur Zoe.


Eiger bangkit dari tempat duduknya. "Tunggu di sini! Aku akan mengganti pakaianku."


Eiger berniat mengantarkan Zoe menuju ke halte terdekat. Kalau mereka menunggu di dekat taman, itu tidak akan membantunya sama sekali.


Rupanya Zoe salah paham lagi. Pria itu memang memperlakukannya dengan sangat baik. Sebelum benar-benar meninggalkan kosnya, tak lupa Eiger mengunci pintunya.


"Kita naik taksi saja. Itu akan lebih cepat," saran Eiger.


Zoe merasa tidak enak hati. Sudah merepotkan, sekarang diantar menggunakan taksi. Uangnya tidak akan cukup untuk membayar taksi sampai ke halte yang diperkirakan jaraknya lumayan jauh.


"Tidak perlu. Kalau kau mau, lebih baik kita jalan kaki saja," usul Zoe.


"Ide gila! Gadis itu pikir letak kos menuju ke halte bus dekat. Dasar bodoh!" ucap Eiger dalam hati.


Eiger tidak sabar. Dia menarik tangan gadis itu untuk segera menuju ke tempat taksi biasa lewat. Jangan tanya, dia harus melakukan secara manual karena ponsel ataupun semua yang dimiliki saat ini sudah ditinggalkan di mansion Willard.

__ADS_1


Suara klakson mobil menghentikan langkahnya. Eiger melihat mobil Blerim berhenti tepat di belakangnya. Pria itu pun turun saat melihat tangan Eiger menggenggam erat gadis itu.


"Eiger! Aku mencarimu ke mana-mana. Rupanya kau di sini," ucap Blerim.


"Ini masih pagi. Apa Uncle tidak sebaiknya pergi ke kantor?" tanya Eiger.


Saat Blerim memberikan kode bahwa tangan keponakannya itu masih bertaut dengan tangan gadis yang ada di sampingnya itu, membuat Eiger tersadar kemudian melepaskannya.


"Maaf," ucap Eiger lirih.


"Kalian mau ke mana?" tanya Blerim.


"Aku mau pulang, Tuan," jawab Zoe.


"Pulang?"


"Jadi begini, Uncle. Dia adalah Zoe, temanku. Semalam dia tersesat di sini dan tidak bisa pulang. Aku menolongnya. Dan, pagi ini dia harus menuju ke halte bus supaya bisa pulang ke rumahnya," jelas Eiger.


"Kalau begitu, ikuti Uncle! Aku akan mengantar kalian sampai ke sana," bujuk Blerim.


Padahal ada tujuan lain untuk menemui keponakannya itu. Selain meminta Eiger kembali ke mansion, dia juga akan meminta Eiger kembali ke perusahaan.


"Maaf, Tuan. Sepertinya Anda terlihat sangat buru-buru. Lebih baik aku akan pergi sendiri saja. Eiger, pergilah!" tolak Zoe.


"Tidak, Nona. Kami selalu menghormati tamu dengan baik. Lebih baik segera masuk ke mobil. Aku akan mengantarmu."


Ragu. Zoe mundur sejenak. Dia tidak nyaman dengan semua kebaikan Eiger maupun pria yang berada di hadapannya saat ini.


"Ayo!" ajak Eiger.


Eiger membuka pintu kemudian mempersilakan Zoe masuk. Agak aneh memang, tetapi inilah yang terjadi.


Tanpa banyak bicara, Blerim menurunkan Zoe tepat di halte bus yang dimintanya. Pria itu tidak membiarkan Eiger ikut turun.


"Nona, lain kali kalau ingin datang ke sini, hubungi aku. Jangan khawatir. Aku masih kerabat dekat Eiger," ucap Blerim sambil memberikan satu kartu nama kepada Zoe.


"Terima kasih, Tuan."


Zoe turun kemudian duduk di halte. Mobil yang dikemudikan Blerim kemudian melesat dengan cepat meninggalkan Zoe seorang diri.

__ADS_1


"Kau ke mana saja? Aku mencarimu," ucap Blerim.


"Pergi. Bukankah tuan Balthis sudah mengusirku?"


"Hari ini berkemaslah! Aku akan membawamu pulang," ucap Blerim yakin.


"Aku tidak mau!" tolak Eiger.


"Jangan seperti anak kecil, Eiger! Balthis memang marah dan mengusirmu, tetapi dia tidak sadar kalau sedang membutuhkanmu. Apa dia tidak memikirkan kalau orang lain tahu kamu berada di luar mansion? Ini akan menjadi masalah besar."


Eiger sebenarnya tidak peduli, tetapi kebaikan Blerim di matanya membuat dia luluh. Agak aneh memang, dia berada terombang-ambing seperti saat ini.


"Kita akan pergi ke mana?" tanya Eiger saat dia menyadari kalau tujuan Blerim bukanlah ke kantor.


"Ke suatu tempat. Aku ingin berbicara 4 mata denganmu."


"Tidak bisakah kita bicara di dalam mobil saja?"


Ah, keponakannya ini terlalu banyak bicara saat keluar dari mansion. Di mana sisi tegasnya seorang Eiger Louis Willard saat ini?


"Jangan coba-coba meniru yang bukan gayamu! Aku tidak suka dengan perubahanmu ini."


Blerim tidak menyadari kalau bodyguard yang ditugaskan Biana selalu mengikutinya. Bahkan, jarak mobilnya terasa begitu dekat. Sampai pada Blerim membelokkan mobil itu ke sebuah restoran mewah. Blerim sengaja memesan ruangan VVIP untuk menghindari beberapa orang asing yang kemungkinan mengikutinya.


"Kenapa kita tidak memesan makanan di luar saja? Kenapa harus memesan ruangan VVIP seperti ini? Kita tidak sedang meeting," protes Eiger.


Anak muda tidak pernah tahu jalan pikiran orang tua. Kali ini Blerim berniat untuk memperbaiki keadaan. Dia juga akan membawa Eiger pulang ke mansion.


"Jangan bodoh, Eiger! Keluarga Willard saat ini sedang dipantau semua orang. Terlebih saat mendengarkan keputusanmu sepihak."


Ya, ini semua akibat kekacauan yang dibuat Balthis sendiri. Sehingga semua orang terkena dampaknya. Tidak hanya mansion Willard, perusahaan, dan beberapa anggota keluarganya yang saat ini sedang berada di luar mansion pun menjadi pantauan mereka.


"Benarkah?" Satu pertanyaan konyol ini membuat Blerim harus menambah kesabaran untuk menghadapi keponakannya.


"Ya. Dan, kau juga harus tahu. Satu bulan ke depan, fokuskan diri untuk mencari gadis yang akan menjadi calon tunanganmu."


"Apa?" Eiger terkejut. Dia pikir dengan datang ke ballroom hotel untuk menyelamatkan Balthis sudah menjadi akhir tugasnya. Ternyata dia salah.


"Ya, kau harus membuktikan pada semua orang kalau kau akan menikah dalam waktu dekat. Elov tidak akan mungkin ditemukan. Sampai kapan keluarga Willard menanti kepastian yang tidak pernah berujung itu?"

__ADS_1


Terdesak dengan keputusannya yang salah. Pilihan menikah menjadi opsi terakhir untuk menyelamatkan problem yang terjadi di dalam keluarga besar Willard. Lagi-lagi Eiger harus mengorbankan dirinya demi keutuhan keluarga Willard.


__ADS_2