
Hari, tugas, dan tanggung jawab pertama dilalui Eiger dengan begitu mudah. Selain karena Eiger sudah kembali seperti semula, menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dan tidak mudah ditindas.
"Eiger, bagaimana harimu?" tanya Blerim yang baru saja masuk.
"Baik, Uncle. Semua berjalan dengan sangat mudah."
"Sudah bisa diprediksi. Kamu memang hebat, Eiger. Tidak salah aku mempertahankan kamu berada di sini walaupun aku tahu kalau kau bukanlah bagian dari keluargaku."
"Thank you." Hanya itu yang mampu diucapkan Eiger saat ini. "Oh ya, Uncle. Menurutmu ke mana perginya mama dan papa? Kau tahu kan, aku sangat sulit memanggilnya dengan sebutan itu."
Berat memang. Walaupun sudah dinobatkan menjadi penerus tahta Willard, bukan berarti Eiger akan bertahan selama itu. Ada kemungkinan dijatuhkan secara langsung karena pencarian Elov masih belum berakhir.
"Mencari Elov. Kurasa mereka tidak puas dengan jawaban detektif swasta itu."
Eiger memang tidak tahu pertemuan yang terjadi antara detektif itu dengan Balthis, tetapi Blerim menjadi saksi pertemuan itu.
"Apakah mungkin bisa menemukannya?" tanya Eiger sedikit ragu.
"Kurasa tidak." Balthis sangat yakin.
"Seyakin itu?"
"Tentu, Eiger. Secara logika, seorang detektif tidak bisa menemukan keberadaan Elov. Kurasa anak itu memang sudah tiada."
"Maksud Uncle? Elov meninggal?"
"Tentu saja. Kalau kenyataannya masih hidup, detektif itu pasti menunjukkan di mana tempat tinggalnya sekarang."
Ya, keberadaan Elov masih abu-abu. Siapa pun orangnya sangat sulit menemukan keberadaan anak itu. Harusnya Balthis sedari dulu sudah mencarinya, tetapi kenapa baru sekarang?
"Mustahil, Uncle. Ini benar-benar aneh. Jelas papa tahu siapa yang membawa anaknya."
"Ah, lupakan. Jangan ingat-ingat lagi dengan anak itu. Aku berharap tidak pernah ditemukan."
"Kenapa begitu? Bukankah harusnya senang kalau Elov ditemukan?"
__ADS_1
"Ada atau tidak, kak Balthis akan tetap seperti itu."
"Ya, dan Uncle tetap sendiri hingga tua nanti. Kenapa? Tidakkah lebih baik menikah, memiliki keluarga yang utuh."
Blerim berdiri. Dia membuka tirai jendela ruangan Eiger. Tak lupa juga membuka kunci jendela itu hingga terbuka. Udara luar mengisi nafasnya yang terasa tidak beraturan itu.
"Tidak semua orang bisa sepertimu, Eiger. Maksudku, kau bisa patah hati, lalu menggantikan cinta lamamu dengan yang baru. Aku dan David memang memiliki pandangan hidup yang berbeda, tetapi kami memiliki kesamaan dalam hubungan percintaan."
Separah itukah hubungan percintaan yang dirasakan oleh Blerim? Sehingga pria itu enggan untuk membuka hati dengan wanita lain.
"Uncle, ceritakan kisah masa lalu itu. Apakah kau berkenan?"
Tentu saja Blerim menyetujui untuk menceritakan kisah laki-laki muda yang tenggelam dengan rasa putus asanya. Lelaki yang saat itu berusia kurang lebih 20 tahun. Dia sedang mencoba untuk menjadi laki-laki yang selalu menyayangi kekasihnya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Lily!" ucap Blerim muda.
Ya, dialah Lilyana Xaviera, gadis yang sudah menarik perhatian Blerim Willard. Dari sekian banyak gadis, seorang Lily yang selalu pendiam. Tidak pernah neko-neko.
Pada acara prom night kala itu, keduanya sepakat pergi bersama. Ini adalah waktu kelulusannya. Selain itu, Blerim mendapatkan nilai Cum Laude. Namun, setelah acara malam itu. Sebuah kejadian mengejutkan berbagai pihak. Terutama keluarga besar Willard.
Blerim yang saat itu tersadar di brankar rumah sakit berusaha mengingat semua kejadian malam itu. Sayang sekali, Blerim tidak mampu mengingatnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak? Di mana Lily?" Kepanikan Blerim muda saat bertanya pada kakaknya.
"Visum dokter mengatakan kalau kau sudah memerkosa seorang gadis. Namun, gadis itu sudah meninggalkan kota ini. Kami dan pihak keluarganya sudah mencarinya ke mana-mana. Tetap tidak ditemukan." Penjelasan Balthis sudah cukup mewakili bahwa tanpa sengaja dia menodai seorang gadis bersamaan hilangnya Lily, kekasihnya.
"Apakah keluarganya akan menuntutku?"
"Tidak. Mereka tahu kalau kau laki-laki yang baik."
Setelah kejadian itu, Blerim tumbuh menjadi pria yang dingin. Dia tidak mau menikah ataupun menjalin hubungan dengan para wanita.
"Lalu, ke mana perginya Lily?" tanya Eiger bersamaan dengan berakhirnya cerita masa lalu Blerim.
"Aku tidak tahu, Eiger. Aku lelah mencarinya. Aku merasa bersalah kalau benar Lily korbannya malam itu. Mungkin saja dia hamil kemudian memiliki anak, tetapi dia tidak mau datang meminta pertanggungjawaban dariku."
__ADS_1
Pernah suatu ketika Blerim meragukan Eiger. Hal itu dikarenakan David pernah menuduh bahwa Eiger adalah putranya. Blerim selalu menampik omong kosong David. Lebih tepatnya mengabaikan ucapan David yang tidak masuk akal itu.
"Aku tidak tahu harus sedih atau bagaimana. Yang pasti, aku turut sedih mendengar cerita Uncle. Semoga saja masih ada kesempatan dipertemukan lagi dengan Lily."
Harapan yang sama seperti pemikiran Blerim. Kalaupun gadis itu memiliki anak, alangkah senangnya. Blerim akan menikah dan hidup bahagia bersamanya.
"Ya, semoga. Oh ya, makan siang kau mau ke mana?"
"Aku tidak ke mana-mana, Uncle. Aku sudah memesan makan siang dari office boy. Kalau Uncle mau, aku pesankan makan siang. Kita makan di pantry."
"Tidak perlu. Aku mau keluar saja. Kalau kau mau, kau bisa ikut denganku."
Sayang sekali kalau melewatkan momen kebersamaan dengan pria yang selalu menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Eiger selalu nyaman bersama dengan Blerim. Namun, agaknya siang ini rencananya terhenti karena Biana tiba-tiba datang.
Resepsionis sampai kalang kabut menghadapi Biana yang marah-marah pada semua orang saat dirinya tidak diizinkan masuk.
"Wow, Eiger! Ini luar biasa!" teriaknya setelah masuk ke ruangan Eiger.
"Kenapa kau datang lagi?" tanya Eiger.
"Aku ingin menuntutmu, Eiger. Aku tidak terima keputusanmu memikat wanita lain. Selama ini kau berjuang denganku. Saat semuanya menjadi milikmu, tiba-tiba kau menghindari aku begitu saja. Dasar pria tidak tahu diri!"
"Sabar, Biana. Ini ada apa? Bisa dijelaskan pelan-pelan?" tanya Blerim. Dia mencoba menjadi penengah keributan yang ditimbulkan oleh gadis yang katanya sudah menjadi mantan bagi Eiger.
"Uncle, Eiger selalu mencintai aku. Dia bahkan berjanji akan menikahi aku suatu hari nanti. Tapi, mana buktinya? Tiba-tiba dia datang, mengatakan padaku bahwa dia bukan dari bagian keluarga ini, dan aku pun terkejut. Aku memang menyesal sudah memutuskannya secara sepihak—"
"Pelan-pelan, Biana. Jangan buru-buru seperti itu. Kami tidak bisa mencerna ucapanmu," tegur Blerim.
Sebenarnya Blerim juga tahu semua masalahnya. Hanya saja dia ingin sedikit bermain-main dengan drama yang dibuat Biana. Blerim jenuh dengan hal serius saat ini.
"Uncle, tolong bantu aku menyampaikan pada Eiger. Aku sangat mencintainya dan tidak ingin berpisah darinya. Bahkan, kalau sekarang aku diminta untuk menikah dengannya, aku siap. Karena aku sedang ha—"
"Apa?" tanya Eiger dan Blerim secara spontan.
Blerim dan Eiger terkejut. Bisa-bisanya Biana menciptakan drama baru untuk mengejar cintanya kembali. Ini sangat tidak adil untuk Eiger.
__ADS_1