
Blerim mewujudkan janjinya. Sepagi ini dia sudah meninggalkan mansion demi mengurus informasi mengenai keluarga Eiger.
"Uncle Blerim kenapa tidak kelihatan?" tanya Eiger saat melangsungkan sarapan pagi bersama keluarga.
"Dia pergi untuk menuntaskan janjinya, Eiger. Setelah itu, kau akan tetap bersama kami, bukan?" tanya Balthis.
"Tentu, Pa. Kalian sudah membesarkan aku, memberikan perhatian dan kesempatan padaku. Aku tidak mungkin meninggalkan kalian. Zoe juga sudah memberikan penjelasan padaku," sahut Eiger.
Mereka hanya berempat. Pasangan pengantin baru itu belum kembali. Jean tidak tahu jadinya mansion akan seperti apa?
Sementara Blerim harap-harap cemas dengan apa yang akan didapat hari ini. Dia merasa kalau sesuatu akan terjadi padanya.
"Aku akan secepatnya kembali saat mendapatkan informasi itu. Aku sudah berjanji pada Eiger untuk mempertemukan Eiger dengan orang tuanya."
Jalanan menyusuri arah rumah sakit itu tidak pernah dilewati sebelumnya. Entah, mengapa kakaknya memilih melahirkan Elov jauh sekali dari mansion. Sepertinya ada hal lain yang disembunyikan mereka.
Seusai sarapan pagi, Eiger akan pergi ke kantor bersama Zoe. Ini permintaan pertama kalinya sebagai seorang istri. Jean tidak bisa melarang menantunya untuk pergi bersama Eiger.
"Kalau kau bosan berada di kantor, jangan lupa hubungi mama," pesan Jean sebelum mereka berangkat.
"Iya, Ma. Terima kasih atas perhatiannya selama ini. Aku hanya ingin melihat Eiger bekerja di ruangannya."
Pasangan pertama yang ikut datang ke kantor selain Jean hanyalah Eiger dan istrinya. Hari ini beberapa orang dari pihak keluarganya tidak akan ke kantor. Terutama David dan Blerim yang sedang berkutat dengan urusannya masing-masing.
Sesampainya di kantor, Zoe langsung dibawa masuk ke ruangannya. Ruangan dengan nuansa polos yang di dindingnya terdapat foto keluarga besar Willard.
"Mama dan papa sangat menyayangimu, Eiger," ucap Zoe menghubungkan ruangan itu dengan hubungan mereka.
"Mengapa kau bisa mengatakan seperti itu?"
Setelah hampir menyentuh foto itu, Zoe kembali duduk di sofa yang tidak jauh dari meja kerja suaminya.
"Foto keluarga itu yang menunjukkannya. Mereka tampak bahagia sekali, bukan?"
__ADS_1
Foto keluarga itu diambil sebelum pengakuan Jean terhadap anaknya yang hilang. Saat itu mereka semua merasa bahagia sekali. Tidak ada jarak di antara mereka.
"Ya. Itu sebelum pengakuan mama Jean kepadaku. Saat itu Biana juga masih bersamaku."
Zoe sama sekali tidak cemburu saat mendengarkan ucapan suaminya mengenai Biana. Apalagi itu hanya masa lalu yang tidak patut dicemburui.
"Kalau orang tuamu masih ada, apakah kau berniat untuk kembali? Ehm, maksudku sesekali tinggal bersama mereka."
Tidak bisa dipungkiri kerinduannya kepada orang tua, terutama ibunya sudah menjadi bagian terpenting dalam hidupnya. Dia akan memeluk mamanya sangat erat jika bertemu.
Beberapa hari berada di luar kota membuat Blerim rindu akan mansion. Dia rindu bercanda dengan Eiger, Biana, dan seluruh anggota keluarga lainnya. Saat ini sudah dipastikan pengantin baru pembuat onar sudah kembali ke mansion.
"Kurasa aku terlalu berharap banyak pada seseorang. Ternyata Eiger adalah orang lain yang mencoba membuatku merasakan bahwa dia adalah putraku. Ternyata aku salah. Dia hanya orang lain yang kebetulan mirip denganku," ucap Blerim.
Semula pikirannya tidak jauh dari mantan kekasihnya yang hilang. Rupanya dia salah. Lagi pula kabar ini tidak akan memengaruhi kehidupan Eiger di masa mendatang.
Saat mobilnya memasuki halaman mansion, semua orang sedang terjaga. Malam memang semakin larut, tetapi hari ini di mansion sedang terjadi keributan. Jean dan Bianca saling mencari pembenaran masing-masing karena masalah sepele.
Balthis menghukum mereka untuk tidak tidur sampai Blerim datang. Ini hampir dini hari, Blerim baru saja sampai.
"Tumben kalian belum tidur?" tanya Blerim.
Blerim berpikir hanya beberapa orang saja yang sedang menunggu. Nyatanya semuanya ada di ruang keluarga.
"Aku menghukum mereka, Blerim. Usia tua bukannya sibuk dengan urusan keluarga, malah seperti anak-anak yang sedang bertengkar saja," keluh Balthis.
Bagaimana tidak, gara-gara keributan antara Jean dan Bianca, David pun ikut mengatakan hal yang tidak-tidak. Rasanya mansion sudah hampir pecah dengan kegaduhan ini.
"Baiklah. Aku sebenarnya lelah. Aku ingin istirahat, tetapi ada kabar yang harus aku sampaikan pada kalian." Blerim mengambil tempat duduk tidak jauh dari Eiger dan Zoe.
"Apakah ini mengenai orang tuaku?" tanya Eiger.
Blerim mengangguk. Namun, cerita ini akan selesai sampai di sini karena pihak rumah sakit tetap menyembunyikan rahasianya. Sangat sulit mencari informasi yang sangat dibutuhkan.
__ADS_1
"Maaf, Eiger. Aku mengecewakanmu. Kuharap setelah ini kau bisa melupakan asal-usulmu dan menjadikan kami keluarga utuh."
Romannya perasaan Eiger semakin tidak menentu. Rasanya ada hal yang tidak bisa dipahami. Semula dia sedang bersandar pada tubuh istrinya, kemudian beralih duduk tegak menatap Blerim.
"Apa yang mereka katakan, Uncle? Apakah tidak ada kejelasan mengenai orang tuaku?" tanya Blerim.
"Sama sekali tidak ada kejelasan, Eiger. Maafkan aku. Aku sudah berusaha sedemikian rupa untuk menggali informasi. Bahkan, itu sangat sulit karena sudah lama sekali," jelas Blerim.
Hal itu sama sulitnya dengan yang dialami oleh Balthis tempo hari. Namun, perbedaannya memang jelas bahwa Elov sudah tiada. Sementara di rumah sakit yang didatangi Blerim, rasanya benar-benar sulit untuk membuka tabir masa lalu Eiger.
"Ya sudah, Eiger. Lupakan saja! Di sini ada mama dan Papa, bukan?" sahut Jean.
"Itu beda, Kakak ipar! Kau tidak akan bisa menjadi wanita yang melahirkan Eiger, bukan?" sahut Bianca.
Sejak kedatangan Bianca ke mansion, suasananya seperti kapal yang terus saja terombang-ambing oleh keadaan. Benar-benar tidak ada kedamaian sama sekali.
"Cukup! Kalian masih mau bertengkar terus seperti ini, atau bagaimana? Jika masih terus ribut, lebih baik kalian tidur di luar mansion!" tegur Balthis.
Seharian mengurus kantor sudah pusing. Inginnya bersantai di mansion dengan suasana yang tenang sebelum kedatangan para wanita.
Blerim beranjak dari tempat duduknya. Dia berniat untuk masuk ke kamarnya kemudian membersihkan diri.
"Sayang, tunggu di sini! Aku ada perlu dengan uncle Blerim," pamit Eiger.
"Iya, Eiger. Aku tunggu di sini," jawab Zoe.
Blerim baru saja masuk ke kamar, pintu kamarnya sudah diketuk oleh seseorang. Blerim kembali lagi untuk membuka pintu kamarnya.
"Eiger? Ada ada?"
"Uncle, tidak menyembunyikan sesuatu dariku, bukan? Uncle sudah pergi terlalu lama. Lalu, tiba-tiba pulang membawa kabar yang sama sekali tidak pernah kuharapkan. Jujur, aku agak kecewa!"
Blerim susah payah mencari informasi, tetapi hasilnya nihil. Sama sekali tidak ingin membuat janjinya itu kacau balau, tetapi kenyataannya seperti itu.
__ADS_1
"Tidak ada, Eiger. Kau sudah cukup lama mengenalku. Mana mungkin aku berani menyembunyikan sesuatu darimu."
Blerim benar. Eiger melihat wajah pamannya yang terlihat jujur di matanya. Tidak ada rahasia yang disembunyikan dari siapa pun.