Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 43. Mansion Tour


__ADS_3

David lebih dulu berada di ruang makan. Pasalnya, semalam setelah melakukan tugas dari kakaknya, Balthis, David sengaja menginap di hotel. Sehingga dia tidak tahu kalau Eiger pulang dengan kekasihnya.


"Hai, David. Selamat pagi! Tumben di mansion. Semalam tidak pulang, ya?" tanya Blerim.


Sebagai kakak, Blerim tahu betul sepak terjang David. Kalau dia tidak ada keperluan penting, tentunya dia akan selalu berada di mansion.


"Ah, iya, Kak. Memangnya kenapa?"


"Ah, tidak apa-apa. Eiger semalam tertembak. Beruntung Eiger baik-baik saja." Blerim duduk di tempat duduk seperti biasanya.


David berpura-pura peduli pada Eiger. "Benarkah? Mungkin dia kurang hati-hati. Atau, mungkin juga dia punya musuh di luaran sana."


"Kurasa tidak seperti itu. Lebih tepatnya, ada orang yang kebetulan tidak suka padanya." Blerim sebenarnya tahu, tetapi dia mencoba untuk pura-pura tidak tahu.


Tak lama, Eiger keluar bersama Zoe. Gadis itu sudah terlihat cantik dengan pakaian yang disiapkan oleh pelayan mansion. Pakaian khusus yang sudah diminta Blerim untuk tamunya.


"Eiger, kau baik-baik saja?" tanya David. Dia berdiri menyambut kedatangan Eiger, menyiapkan tempat duduknya, dan menarik satu kursi lagi untuk meminta Zoe duduk di samping Eiger. "Silakan duduk, Nona!"


"Terima kasih, Uncle," ucap Zoe.


David kembali ke tempat duduknya. Beberapa menit kemudian, makanan dan minuman sudah tersaji lengkap di meja makan.


"Silakan dinikmati!" perintah David.


"Terima kasih," jawab Zoe.


Blerim dan Eiger hanya melihat dari dekat tingkah dan kelakuan aneh David hari ini. Dia memang seolah menutupi sesuatu.


"David, hari ini kau harus ke kantor," ucap Blerim disela makannya.


"Hemm, iya."


"Baguslah! Eiger akan istirahat selama beberapa hari di mansion. Sampai kondisinya benar-benar pulih."


"Uncle, tidak perlu seperti itu. Hari ini aku pun bisa ke kantor," ucap Eiger.


Blerim melirik sejenak ke arah Eiger. "Bagaimana kamu bisa menggunakan jas kerjamu kalau kondisi tanganmu masih seperti itu?"


Kini giliran Zoe yang melirik ke arah Eiger. Mendengar ucapan Blerim, sebenarnya Zoe kasihan juga pada Eiger.

__ADS_1


Eiger terdiam. Badannya memang merasa kurang sehat. Ada baiknya dia mengikuti permintaan pamannya. Tidak datang ke kantor selama beberapa hari tidak akan membuat kacau di sana.


"Baiklah. Kali ini aku akan libur untuk sementara waktu," pungkas Eiger.


"Zoe, kau bisa temani Eiger untuk sementara waktu, kan?"


Sedari tadi Blerim terus saja memperhatikan Eiger secara mendetail. Terlihat jelas rasa khawatirnya. Tulis dan tidak mengada-ada. Harusnya memang Eiger bersyukur sekali memiliki keluarga Willard, terutama Blerim yang menjadi orang terdekatnya.


"Iya, Uncle. Tetapi,—"


"Iya, aku paham. Nanti sopir akan mengantarmu kembali ke hotel. Hanya sampai siang ini saja. Oke?"


David terlihat tidak senang saat perhatian Blerim terpusat pada Eiger sepenuhnya. Orang asing yang ada di mansion keluarganya akan merasa menang jika mendapatkan perhatian sempurna seperti itu.


"Terima kasih, Uncle." Menurut Zoe, Blerim termasuk tipikal pria yang sangat tanggap. Sayang sekali, menurut pandangan mata Zoe, semua anggota keluarga Willard sangatlah misterius.


Selesai sarapan pagi, David dan Blerim kembali ke kamar untuk bersiap. Sementara Zoe dan Eiger duduk manis di meja makan sembari menikmati dessert buatan koki mansion yang rasanya tidak kalah dari hotel bintang lima.


"Setelah ini, apa yang akan kau lakukan?" tanya Zoe saat keheningan melanda.


"Tidak ada. Mungkin saja berbaring di ranjang."


Memang Eiger tidak keberatan, tetapi membiarkan Zoe pergi sendirian itu tidak akan aman. Apalagi semalam mendapatkan ancaman seperti itu.


"Tunggu sampai aku benar-benar sembuh, Zoe. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu. Apa kau lupa bahwa semalam kita diserang?"


Ya, ingatan Zoe mengulang kejadian semalam. Beruntung Eiger menjadi perisai baginya. Jika semalam Eiger tidak melindunginya, maka bisa dipastikan kalah Zoe akan tinggal nama saja.


Menyelesaikan suapan terakhir dessert manisnya itu, Eiger mengajak Zoe untuk berkeliling ke beberapa bagian yang ada di mansion. Hanya beberapa tempat yang boleh dijangkau oleh beberapa orang.


"Sedari kecil kau sudah tinggal di sini, ya?"


"Iya. Bahkan, beberapa tempat di mansion ini banyak yang tidak berubah. Namun, ada beberapa bagian kamar yang direnovasi total."


Penjelasan Eiger sangat jelas. Kecerdasannya pun tidak diragukan lagi. Pantas saja para gadis sangat tertarik padanya. Seperti mantannya semalam.


"Kau mengingatnya semua, Eiger. Aku salut padamu. Oh ya, mengapa kau tidak mencoba memperbaiki hubunganmu dengan Biana?" tanya Zoe lirih.


Sebuah pertanyaan yang mengandung privasi, tentunya Zoe tidak mau terlihat seperti wanita yang tidak mempunyai aturan.

__ADS_1


"Pantang kembali dengan mantan!"


Sejujurnya Zoe tidak bisa menahan tawa. Eiger diam-diam memiliki sisi humoris yang berbeda. Kalau sudah seperti ini, magnet yang menarik Zoe untuk lebih dekat dengan Eiger semakin kuat.


"Kau ini! Memangnya kelak kalau aku sudah menjadi mantan, kau juga tidak mau kembali lagi padaku?"


"Tidak tahu. Hemm, lupakan masa lalu. Lebih baik pikirkan masa depan supaya tidak salah langkah."


Pesan yang bijak. Eiger mengajak Zoe menuju ke sebuah taman yang ada di bagian belakang mansion. Banyak bunga-bunga bermekaran di sana.


"Apakah mamamu menyukai kegiatan berkebun? Lihatlah, semuanya begitu indah!" Zoe mengagumi keindahan taman bunga itu.


"Aku tidak terlalu memperhatikannya. Kau tahu kan, aku laki-laki. Jelas saja aku sangat tidak tertarik dengan bunga-bunga seperti ini."


"Hemm, kau pasti akan bermain mobil-mobilan, robot, atau apa pun itu yang berhubungan dengan kegiatan kaum laki-laki."


Sejenak Eiger teringat akan kebersamaannya dengan Balthis. Pria itu terkadang menggelitik pikirannya. Dulu, sangatlah baik dan selalu menyayangi Eiger tanpa alasan. Namun, setelah semuanya terbongkar, secepat itu Balthis menjauhi Eiger.


Melihat respon Eiger menjadi pendiam, Zoe merasa bersalah atas ucapannya barusan.


"Aku minta maaf, Eiger. Aku tidak bermaksud membuka kenangan masa lalumu."


"Tidak apa-apa. Justru aku berterima kasih karena kau terus saja membawaku pada kebahagiaan itu sendiri."


Merasa puas melihat keindahan taman, Zoe ingin kembali ke mansion. Rasanya dia melewatkan sesuatu.


"Eiger, bisa kita kembali lagi ke mansion?"


"Tentu saja. Apa kau sudah bosan?" tanya Eiger.


Zoe menggeleng. Dia penasaran dengan beberapa foto yang dibingkai dengan rapi. Terpasang di setiap dinding mansion sangat rapi.


Zoe menyusuri beberapa foto keluarga itu. Terlihat tidak ada perpecahan sama sekali. Tidak disangka bahwa foto keluarga yang terlihat tenang itu ternyata menyimpan rahasia besar di dalam kehidupannya.


"Kau sempat mengira bahwa aku tidak bahagia, bukan?"


Zoe menggeleng. "Justru semua fotomu terlihat bahagia."


Entah, ini pujian atau apa? Eiger merasa senang bisa menunjukkan beberapa fotonya. Namun, langkahnya terhenti di sebuah tempat yang sedari dulu tidak boleh dimasuki oleh siapa pun. Rasa penasaran Eiger tinggi. Kalau dia mencoba masuk, efek apa yang akan ditimbulkan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2