
Saat David dan Blerim pergi ke kantor berdua, Blerim sengaja meminta tumpangan pada David. Semula David menolak karena merasa tidak nyaman jika sewaktu-waktu kakaknya, Balthis menghubunginya.
"Kak, kenapa kau tidak menggunakan mobilmu sendiri?" David merasa privasinya terganggu saat bersama Blerim.
"Sesekali aku ingin menikmati kebersamaan dengan adikku yang sama singelnya denganku," jawab Blerim tenang.
Biasanya David tidak akan marah jika Blerim mengatakan singel. Namun, kali ini David merasa sensitif sekali.
"Itu hanya kau, Kak. Sebentar lagi aku akan menikah. Kurasa predikat singel hanya akan kau pegang seorang diri!"
David memasang sabuk pengaman sebelum dia menyalakan mesin mobilnya. Blerim rupanya sudah duduk nyaman di kursi penumpang. Rasanya seperti memiliki sopir pribadi.
"Ini pertama dan terakhir kalinya Kakak ke kantor bersamaku! Kalau tidak bisa naik mobil sendiri, setidaknya gunakan sopir pribadi!" tegur David.
"Tumben hari ini kau sangat sensitif? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian semalam? Maksudku, kejadian yang berhubungan dengan penyerangan secara mendadak."
David diam. Kalau menanggapi ucapan kakaknya, bisa saja itu akan menjadi boomerang di kemudian hari.
"Aku tidak tahu!"
Blerim tersenyum kecut. "Ck, kau ini! Kalau memang itu perbuatanmu, apa salahnya mengaku? Aku juga tidak akan menjebloskan kau ke dalam penjara."
Sekali lagi, percuma berdebat dengan Blerim. Pria itu pasti mau menyudutkannya lagi gara-gara kejadian semalam. Namun, belum berhenti sampai di situ saja. Saat sedang fokus mengemudi, ponsel David berdering. Ada panggilan dari kakaknya, Balthis.
"Oh, ya ampun. Kakak! Kenapa menelepon di saat yang tidak tepat seperti sekarang?" ucap David dalam hati.
David enggan mengangkat panggilan tersebut di hadapan kakaknya yang lain. Terlebih Blerim selalu mengawasinya. Hingga panggilan ketiga, David tidak merespon.
"Lebih baik cepat kau angkat! Keburu kak Balthis marah," ucap Blerim kemudian turun dari mobil saat sudah sampai di kantor.
David bisa bernapas lega karena Blerim sudah turun. Barulah pada panggilan keempat, David mengangkatnya.
"Halo, ada apa? Aku pergi bersama Blerim," sapa David.
"Oh, pantas saja kau tidak mengangkat telepon kakakmu," sahut Jean.
"Oh, kak Jean. Ada apa?"
__ADS_1
"Siapkan tiket penerbangan untuk lusa. Kami akan segera pulang," jelasnya.
"Apakah sudah mendapatkan kejelasan mengenai Elov?" Rasa penasaran David sangat tinggi supaya dia bisa mengeksekusi Eiger dengan cepat.
"Nanti, aku akan menceritakan saat kita bertemu. Ingat, tiket penerbangan untuk lusa. Jamnya terserah."
Sebenarnya Balthis bisa saja memesan tiket penerbangan dari tempatnya saat ini, tetapi ada sesuatu hal yang menyebabkan tidak bisa mengurus hal segampang itu.
"Ya, baiklah, Kak."
"Ya sudah. Kakak tutup dulu teleponnya. Kakak mau pergi dengan kak Balthis."
David meletakkan ponselnya di atas dasboard. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi mobil. Rasanya lelah sekali. Ada satu hal yang mengusiknya, yaitu sebuah kata pernikahan.
David merasa dirinya hampa. Urusannya hanya sebatas pekerjaan, kakak, dan dirinya sendiri. Sementara saat melihat Eiger bersama Zoe, David merasa bahwa kehidupan Eiger sangatlah berwarna. Itulah mengapa semakin melihat Eiger bahagia, kebencian David bertambah.
Usianya yang tidak lagi muda. Lebih tepatnya hanya beberapa tahun lagi maka David akan masuk ke kepala 5. Wanita mana yang mau menikah dengan pria yang usianya hampir setengah abad itu? Kecuali Balthis memiliki calon wanita yang dikenalkan kepadanya.
Sedang memfokuskan pikirannya, tiba-tiba kaca mobil diketuk oleh seseorang. Dia adalah staf kantor di perusahaannya.
"Ada apa?" tanya David setelah membuka kaca mobilnya.
Hanya gara-gara memikirkan masa depan, David melupakan rapat penting seperti sekarang ini. Harusnya Eiger yang ada di sana, bukan dirinya.
"Ya, pergilah! Aku segera menyusul."
David mengambil ponselnya, memasukkan ke dalam saku jasnya, kemudian berjalan menuju ruang meeting.
Blerim duduk di ruang meeting memandangi kedatangan David yang seolah tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi kenyataan hidup.
"Tumben terlambat!" sindir Blerim.
"Ada urusan sebentar," jawab David.
Blerim memulai meeting hari ini. David dan beberapa orang staf mulai menyimak. Sebenarnya mereka mempertanyakan keberadaan Eiger yang sampai detik ini tidak kunjung datang. Blerim hanya mengatakan bahwa Eiger sedang sakit. Dia membutuhkan istirahat selama beberapa hari.
Beberapa staf memakluminya karena pekerjaan Eiger memang banyak dan sangat sibuk.
__ADS_1
Berada di mansion berdua dengan gadis yang tidak lama dikenalnya, Eiger dengan leluasa mencurahkan semua isi hati dan kepalanya. Terkadang Eiger merasa ingin melepaskan keluarganya saat ini. Namun, ada pertimbangan untuk membalas budi perihal kebaikan keluarganya.
"Kurasa keputusanmu tepat, Eiger. Dan, aku merasa keputusanku juga tepat."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin pulang. Aku sudah rindu rumah dan ketenangan danau. Kau pasti tahu kan, bahwa aku tidak bisa hidup dengan memandang air yang luas itu?"
Hari-hari Zoe memang selalu berada di sana. Eiger tidak bisa menahannya terlalu lama karena hubungannya dengan Zoe sebatas untuk pembohongan publik.
"Kapan kau akan pulang?"
"Nanti malam. Aku harus membereskan beberapa barangku yang ada di hotel. Terlalu banyak gaun, sepatu, dan tas bermerek. Rasanya aku agak aneh menyimpan beberapa barang itu. Kau tahu kan kalau aku—"
"Kau pantas mendapatkannya, Zoe." Eiger sengaja memotong ucapan gadis itu.
"Itu terlalu berlebihan."
Zoe dan Eiger yang masih sama-sama berdiri membuat posisi mereka sangat dekat. Spontan salah satu tangan Eiger yang tidak terluka menarik tangan Zoe dengan lembut.
"Kau yang terbaik," ucap Eiger.
Zoe yang merasa diperlakukan seperti itu mendadak merasa aneh. Baru pertama kalinya tangan Zoe digenggam oleh seorang pria.
"Eiger, lepaskan!" ucapnya lirih.
Zoe tidak mau orang-orang yang ada di mansion merasa curiga karena sesuatu hal yang tidak mereka mengerti, yaitu hubungan palsu yang terjalin antara Eiger dan Zoe.
"Hemm, memangnya kau yakin akan kembali secepat itu? Lalu, kapan kau akan datang kemari lagi?"
Pertanyaan yang aneh menurut Zoe. Dia bahkan belum pergi dari hadapan Eiger, tetapi di tanya kapan kembali? Wow!
"Aku tidak tahu. Tunggu sampai aku pulang ke rumah. Setelah sampai di sana, aku akan mengabarimu kapan kembali lagi."
Eiger akan merasa kesepian. Walaupun belum terlalu dekat, Eiger merasa nyaman berada di dekat Zoe.
"Ehm, kira-kira ini tempat apa? Maksudku, kenapa kita berhenti di sini tanpa melakukan apa pun?"
__ADS_1
Ya, keduanya berhenti di depan sebuah ruangan yang menurutnya sangat misterius. Eiger juga penasaran dengan isi ruangan itu. Namun, teringat pesan Balthis untuk tidak melanggar aturan membuat nyali Eiger menciut.
"Tidak saat ini, tetapi suatu hari nanti aku akan berhasil membuka ruangan ini dengan caraku sendiri!" ucap Eiger dalam hati.