
Hari ini, Eiger sudah siap seperti biasa. Dia akan pergi ke kantor bersama dengan uncle-nya, Blerim. Kini dia duduk bersama seluruh anggota keluarga di meja makan.
"Kau mau pergi ke mana?" tanya Jean pada Eiger.
"Ke kantor, Ma."
"Jangan panggil aku seperti itu!" protes Jean.
Jean lupa. Seharusnya dia menyampaikan pada suaminya untuk memecat Eiger. Dia tidak pantas berada di sana.
"Kak, jaga sikapmu saat di meja makan!" tegur Blerim.
Suasana sarapan pagi yang semula tenang berubah menjadi keributan. Kalau memang Jean tidak mau berkomunikasi dengan Eiger, seharusnya wanita itu memilih diam saja.
"Blerim, lebih baik jangan buat Kakak iparmu marah," tegur Balthis.
Sebagai wanita satu-satunya di mansion, Jean menduduki salah satu sosialita tertinggi di negaranya. Dia tidak memiliki satu pesaing pun di dalam mansion keluarga suaminya. Dia juga diperlakukan bak seorang Ratu.
Blerim kembali diam. Semula dia sangat peduli pada kakaknya, terutama Eiger. Dia rela membimbing Eiger sampai memahami dunia bisnis dengan baik. Dia cerdas, tetapi bukan tipikal laki-laki yang gampang emosional.
Eiger sudah selesai makan. Dia berniat untuk berangkat ke kantor menggunakan taksi. Mengingat dia sadar diri bahwa apa yang dimiliki saat ini bukan miliknya.
"Eiger, tunggu Uncle!" panggil Blerim. Dia berniat pergi bersama dengan keponakannya.
Sementara Balthis dan David pergi menggunakan mobil yang sama. Mereka akan bertemu di kantor Willard yang letaknya tidak jauh dari mansion, tetapi memerlukan waktu yang lumayan lama untuk melewati jalanan yang mulai padat.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Blerim?" tanya Balthis.
"Dia ingin Kakak jujur pada kami. Itu saja." David mencoba untuk tidak mengatakan semua yang dibicarakan dengan Blerim. Dia juga sama penasarannya dengan Blerim mengenai rahasia kakaknya.
"Aku sudah jujur. Kejujuran mana lagi yang kalian inginkan?"
__ADS_1
Terkadang mendengar ucapan Blerim ada benarnya juga. Balthis selalu saja berkilah saat semua orang ingin tahu masa lalunya.
"Kejujuran tentang Kakak, Jean, Elov, dan Eiger. Apa kurang jelas?"
Rasanya sulit sekali bagi Balthis untuk mengungkapkan kenyataan pahit di depan adik-adiknya itu. Dia pasti akan merasa bersalah sudah membohongi mereka semuanya.
Sesampainya di kantor, Balthis masuk ke ruangannya lebih dulu. Dia mengambil beberapa berkas digunakan untuk meeting pagi ini.
David, Blerim, dan Eiger sudah berada di ruang meeting. Hari ini kedatangan relasi bisnis yang akan melangsungkan kerjasama dengan perusahaannya. Menunggu sekitar 5 menit, Balthis baru saja masuk.
Pimpinan rapat penting kali ini dipegang oleh David. Tugas Eiger dan Blerim seperti biasa menjelaskan detail kerjasama dua perusahaan. Selain itu, penjelasan mengenai keuntungan yang akan mereka dapatkan.
Sesi terakhir, biasanya pihak relasi bisnis akan mengemukakan pendapat untuk menentukan kesepakatan bersama.
"Baiklah, Tuan. Seperti biasa aku selalu terkesan dengan penjelasan Tuan Eiger. Untuk kali ini, aku tidak hanya memberikan satu kontrak, tetapi dua kontrak sekaligus. Aku percaya kalau kinerja Tuan Eiger ini selalu tepat sasaran. Ya, seperti Anda, Tuan Balthis. Anda adalah panutan yang hebat untuk Tuan Eiger."
Pujian itu bukan untuk mengangkat derajat Balthis, tetapi untuk menjatuhkan dirinya. Lebih dari itu, Balthis merasa kecewa atas sanjungan tersebut. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang meeting karena sedang kesal.
Tanpa permisi, Balthis pun akhirnya keluar ruang rapat tanpa berpamitan. Blerim tahu. Dia pun menyusul kakaknya. Sepertinya dia sangat tidak nyaman dengan ucapan relasi bisnisnya barusan.
Blerim menyusul kakaknya menuju ke ruang kerjanya. Di sana, Balthis langsung duduk. Dia tahu kalau Blerim akan mengikutinya.
"Kak, apa yang kamu lakukan?" tanya Blerim. Ini wujud protes pada kakaknya karena melakukan walk out dari ruang meeting.
"Inilah akibatnya kalau Eiger ada di sini. Semua orang pasti memujinya lantaran dia mewarisi kepandaianku."
Akhir-akhir ini Balthis selalu sensitif. Apalagi berhubungan dengan Eiger. Suasana kantor dan mansion pun ikut terkena imbasnya. Tak ada lagi kehangatan seperti sebelum pengungkapan Jean tentang Eiger.
"Kamu terlalu terbawa suasana, Kak. Tenangkan pikiran dan hatimu. Kenapa kamu jadi lebih sensitif daripada Kak Jean?" tanya Blerim.
"Karena aku ingin Elov lekas kembali, Blerim. Semakin mendekati hari H pengumuman penerus tahta, aku semakin kalut. Detektif swasta yang kusewa belum menunjukkan tanda-tanda keberadaan Elov."
__ADS_1
Blerim tersenyum. Sampai kapan Balthis akan menyembunyikan semua rahasianya? Sedikit saja pria itu bisa jujur, Blerim akan mengusahakan supaya Elov ditemukan.
"Kak, kau mau menyimpan rahasia itu sampai kapan? Apa aku tidak boleh tahu?"
Apakah ini kisah kelam yang akan dibagikan pada adiknya? Sebuah kisah masa lalu yang begitu rumit dan menyedihkan. Pistol yang ditodongkan tepat di pelipis. Siap menghabisi mangsanya kala itu. Beruntung Jean menawarkan kesepakatan, tetapi sangatlah merugikan sepasang suami istri itu.
"Aku memberikan Elov pada seorang Mafia, Blerim. Aku akui ini salah kami berdua."
Blerim menggebrak meja kakaknya. Sebenarnya dia tidak suka dengan cara yang diambil oleh kakaknya itu.
"Kenapa Kakak diam saja? Kenapa Kakak tidak mau jujur dari awal? Kalau sudah seperti ini, akan sangat sulit mencari keberadaan Elov di dalam dunia mafia."
Blerim marah. Kakaknya yang cerdas itu mendadak bodoh. Jean pun demikian. Kenapa mereka merelakan Elov untuk kepentingan pribadi orang lain? Walaupun Blerim tahu kalau Balthis bersalah.
"Aku bingung, Blerim. Aku minta maaf." Baru kali ini Balthis menundukkan kepalanya. Biasanya dialah pria yang tangguh. Selalu mengagungkan kekeluargaan di atas segalanya.
"Baiklah. Sekarang aku tanya untuk terakhir kalinya. Ikhlaskah kalau aku tetap menunjuk Eiger sebagai Penerus tahta Willard?"
Balthis mendongak. Saat kebingungannya mengenai Elov belum berakhir, Blerim memutuskan sepihak.
"Aku dan Jean tidak setuju." Balthis yakin dengan keputusannya.
Blerim semula berdiri jauh dari kakaknya. Dia pun mendekati kemudian menepuk pundak Balthis yang kekar itu.
"Wow, Tuan Balthis Willard. Anda luar biasa sekali. Kalau sudah seperti ini, siapa yang dirugikan? Anda? Atau, Eiger yang Anda jadikan tameng untuk menemukan Elov?"
Bayangan Balthis tentang kejadian di masa depannya benar-benar nyata. Jika dulu dia harus berperang dengan hati nuraninya untuk merelakan Elov. Kini dia harus berperang melawan saudaranya yang lain.
"Aku, Blerim. Aku yang dirugikan."
Balthis benar-benar pria egois. Seharusnya sebelum mengambil keputusan, dia harus berunding dulu dengan pihak keluarganya. Mereka pasti mau memberikan solusi yang baik.
__ADS_1
"Bukan Kakak saja, tetapi juga seluruh anggota keluarga Willard. Termasuk Eiger!"
Sekali lagi, penekanan kata Eiger membuat Balthis muak. Dia yang mendapatkan masalah malah mengkambinghitamkan orang lain. Eiger hanya korban dari keputusan Balthis maupun Jean. Namun, bagi Blerim ini baru permulaan rahasia kakaknya terungkap. Dia tidak langsung percaya begitu saja. Perlu penyelidikan lebih lanjut tentang kejujuran kakaknya.