Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 48. Saudara Tiri


__ADS_3

Sepanjang kehidupan keluarga Willard, mereka selalu mengunggulkan privasi. Setiap makan atau ke mana pun, mereka akan memilih ruangan VVIP yang tidak mudah dijangkau oleh orang lain.


Kali ini, Balthis sengaja mengajak mereka ke restoran yang lumayan ramai menurutnya. Beberapa hari yang lalu, Balthis memang menceritakan perihal keinginannya untuk makan di sini.


"Kak, pilihanmu terlalu ekstrim!" tegur David.


Mereka merasa tidak nyaman karena banyak pasang mata yang memandang. Beberapa mengelu-elukan ketampanan Eiger yang selama ini jarang dilihatnya secara langsung. Hanya saja, mereka cuma bisa berani berbicara lirih sembari mengagumi saja.


"Keluarga Willard memang luar biasa. Lihat saja itu para single man nya. Sayang, mereka tidak mau menikah. Semoga saja cucu tunggal keluarga Willard tidak mengikuti jejak mereka."


"Ya, kau benar! Sebenarnya menarik, tetapi dingin."


Inilah yang paling tidak disukai keluarga Willard. Makan siang di restoran terbuka akan menjadi tontonan para tamu.


"Tenanglah, David! Bukankah kau ingin menikah? Siapa tahu salah satu wanita yang ada di sini jatuh cinta padamu," ucap Balthis.


Sikap Balthis seringkali membuatnya kesal. Namun, hanya kakak sulungnya itu yang mampu mengimbangi sikap egoisme yang dimiliki oleh David.


"Uncle, Papa benar. Semoga saja Uncle lekas menemukan jodohnya." Kali ini Eiger mendukung.


Berbeda dengan penerimaan David, pria itu seolah diolok-olok oleh semua orang. Ingin meninggalkan meja restoran, tetapi dia sangat lapar. Perutnya mengalahkan gengsi.


"Lebih baik lekas cari yang cocok. Setelah itu, menikahlah! Supaya spesies singel di mansion Willard berkurang." Blerim mendukung, tetapi terkesan menyudutkan.


Merasa kesal dengan ucapan Blerim, pria yang hanya berjarak dua tahun dari kakaknya itu lantas berdiri, bersiap untuk pergi. Namun, langkahnya tertahan saat seorang wanita cantik berusia 28 tahun itu mendekat. Wanita itu sangat terkejut melihat keluarga Willard makan di restoran seperti ini.


"Kurasa sebentar lagi mansion akan mengadakan pesta meriah," sindir Blerim lagi.


Tatapan wanita itu terpusat pada Eiger. Dia sangat mengagumi ketampanan pria yang sedikit lebih muda darinya. Ya, dialah Bianca Maria, saudara tiri Biana Calantha. Hanya saja daddy Biana tidak pernah mengekspos putri tirinya yang didapatkan dari istri keduanya. Sayang, saat ini daddy Biana sudah menduda lagi karena mama Bianca sudah meninggal.


"Hai, Eiger! Apa kabar?" sapa Bianca.


Justru Eiger tidak mengenal wanita muda yang saat ini menyapanya. Dia merasa asing dengan wajahnya.


"Maaf, kau siapa?" tanya Eiger.

__ADS_1


"Boleh aku bergabung di sini?" tanya Bianca.


"Tentu saja. Silakan," jawab Balthis. Dia merasa menjadi tuan rumah di sini. Jadi, apa salahnya membiarkan orang asing duduk semeja dengannya.


Semula tempat yang kosong berada di samping Eiger, tetapi wanita muda itu tidak mau duduk di sana. Dia lebih memilih duduk di antara Blerim dan David sehingga bisa memandang jelas ke wajah Eiger.


"Tidak masalah kalau kau lupa, Eiger. Namun, aku selalu mengingat namamu di dalam keseharianku. Bahkan, aku—"


"Jangan dilanjutkan. Aku tidak mengenalmu." Eiger memotong ucapan Bianca.


Makanan yang dipesan pun datang sehingga mereka memfokuskan diri untuk makan terlebih dahulu. Sementara Bianca diminta Balthis untuk memesan makanan. Dia yang akan mentraktir.


Gadis itu dengan berani mencuri pandang ke arah Eiger tanpa rasa tahu malu lagi. Bahkan, Blerim sebagai seorang pria merasa tidak nyaman melihatnya.


"Maaf, Nona. Lebih baik kau fokus dengan makanannya," tegur Blerim.


'Sial! Pria ini sangat peka sekali. Semoga mereka tidak menyadarinya jika aku suka Eiger. Dan, aku lah yang menculik gadis itu,' batin Bianca.


"Maaf, Tuan. Aku terlalu antusias saat bertemu kalian. Oh ya, aku hampir lupa. Mungkin kalian tidak mengenalku, tetapi aku sangat mengenal kalian. Aku adalah Bianca Maria, kakak dari Biana Calantha."


"Kau pasti berbohong!" tegas Eiger.


"Hei, aku tidak berbohong. Hanya saja saat kau datang ke rumah, aku tidak pernah mau muncul. Aku selalu ada di dalam kamar. Ya, lebih tepatnya aku selalu memperhatikan kau saat datang. Jadi, aku langsung bisa mengenalimu," jelas Bianca.


"Oke. Kalau begitu cukup. Kurasa aku perlu berbincang denganmu," ucap Eiger akhirnya. Dalam pemikirannya saat ini, Bianca pasti tahu kebohongan Biana mengenai gadis yang diculiknya.


"Tunggu aku minum sebentar!" ucap Bianca.


Eiger membawa Bianca menjauh. Sementara tatapan mata David tak lepas dari wajah gadis itu. Menurut perbandingan naluri hatinya, Bianca menarik. Itulah mengapa David tidak terlalu banyak bicara.


"Blerim, kali ini kita berdamai," ucap Balthis.


"Kenapa, Kak?" tanya Blerim. Tumben sekali Balthis mengajak Blerim berdamai kali ini.


"Dugaanmu benar. Kurasa David sudah menjatuhkan pilihan. Kau suka?" Kini giliran Balthis bertanya pada David.

__ADS_1


"Hah? Apa? Aku tidak mengerti maksud Kakak," jawab David.


"Jangan bodoh, David. Kurasa kalau kau cocok, kau akan menjadi orang yang paling beruntung. Dia masih muda dan berkelas." Balthis sengaja menggoda adiknya.


"Aku tidak tahu, Kak!" tegas David.


David berperang dengan hatinya. Dia sebenarnya suka, tetapi takut tidak bisa mengimbangi Bianca yang masih terlihat muda dan atraktif.


Sementara Eiger dan Bianca memilih duduk menjauh dari keluarganya. Bianca terlihat sangat senang, tetapi tidak dengan tatapan mata Eiger. Tatapan mata mengintimidasi.


"Kau dekat dengan Biana, bukan?" tanya Eiger.


"Ya, tentu saja! Kami dekat secara emosional. Kenapa?" tanya Bianca tanpa ragu.


"Apakah dia tidak menyembunyikan sesuatu darimu? Maksudku, apakah dia tidak melakukan hal yang aneh?"


"Hah? Aku tidak tahu. Bukankah kau dan dia masih menjalin hubungan?" selidik Bianca.


"Hubungan kami sudah berakhir, Bianca. Aku hanya sedang mencari seseorang," ucapnya.


Saat hampir menjelaskan tentang hilangnya Zoe, tiba-tiba David memanggilnya. Pria paruh baya itu mendapat informasi mengenai keberadaan Zoe.


"Eiger, ayo kita pergi! Sudah tidak ada waktu lagi," panggil David.


"Tunggu sebentar, Uncle! Oha ya, Bianca. Aku minta maaf tidak bisa melanjutkan obrolan ini. Ada hal lain yang lebih penting dari ini semua. Sampai jumpa," pamit Eiger.


"Sampai jumpa, Eiger," balasnya.


Semua anggota keluarga Willard meninggalkan restoran. Tersisa Bianca seorang diri. Dia sangat mengagumi ketampanan Eiger dari sudut mana pun.


"Wah, kau sangat menarik, Eiger. Pantas saja Biana tidak bisa melupakanmu. Kau adalah wujud ciptaan Tuhan yang menawan menurutku."


Bianca hendak kembali ke rumahnya yang ditinggali bersama Biana. Dia akan meminta tolong daddy-nya untuk mendapatkan pria itu. Dia bahkan tidak akan peduli jika harus berebut dengan Biana. Kalaupun harus berebut, Biana harus kalah darinya.


"Kita lihat saja, Biana. Kau atau aku pemenangnya," ucap Bianca yakin.

__ADS_1


__ADS_2