
Kecemasan Jean terlihat sangat jelas saat berada di depan dokter yang menangani tes DNA putranya, Elov. Pria berjas putih itu juga sudah menjelaskan jika proses tes DNA itu melalui pihak yang berwajib. Terlebih masalah ini ada hubungannya dengan sebuah kejahatan besar.
"Begini, Nyonya dan Tuan. Kami memang melakukan tes ini melalui beberapa tahap. Pihak kepolisian menyarankan untuk mengambil beberapa sampel tulang mayat-mayat itu. Dan, kami menemukan bahwa salah satu dari beberapa makam itu adalah anak yang kalian cari selama ini."
Jean langsung lemas mendengarkan ucapan dokter itu. Sungguh, ini bukan impian ataupun cita-citanya. Keinginannya hanya untuk bertemu dengan Elov sangatlah besar. Kalau sudah seperti ini, orang bodoh pun tahu kalau Elov sudah tiada.
"Ini hasil tesnya, Tuan." Dokter itu pun menyerahkan satu buah amplop yang menunjukkan hasilnya cocok.
Jean semakin lemah. Dia merasa tidak memiliki kekuatan apa pun. Terlebih setelah membaca isi amplop tersebut.
"Apakah itu artinya masa depan kita telah hancur?" tanya Jean lirih. Kalaupun untuk memiliki anak, sudah tidak mungkin lagi. Satu-satunya cara adalah tetap mempertahankan Eiger di sisinya.
"Terima kasih, dokter. Oh ya, di mana aku bisa mengunjungi pemakaman ini? Maksudku, di mana makam yang sampelnya sesuai dengan hasil tes DNA ini?" tanya Balthis.
"Pihak kepolisian akan menunjukkan di mana tempatnya, Tuan. Mereka sudah menunggu Anda di luar," pungkas dokter.
Tidak hanya Jean, Balthis pun semakin gemetaran menghadapi situasi seperti ini. Di luar ruangan, beberapa polisi berseragam sedang menunggunya.
"Tuan Balthis, mari ikut kami!" ucap salah satu anggota kepolisian itu.
Mereka pun naik mobil yang digunakan para polisi itu. Mereka menuju ke sebuah pemakaman yang tidak jauh dari rumah sakit.
Turun dari mobil, suasana semakin mencekam. Jean merasakan hawa pemakaman yang sangat hening dan sepi. Mereka mengikuti para polisi itu menuju makam yang hanya ada tulisannya saja, tetapi sangat tidak terawat.
Hati Jean sakit. Saat sudah tiada pun anaknya tidak pernah mendapatkan kebahagiaan. Sepertinya Elov sangat terluka sedari kecil hingga tiada.
"Maafkan Mama, Elov," ucapnya lirih. Tiba-tiba air matanya mengalir deras.
Balthis tertunduk di hadapan makam putranya yang tidak memiliki nama itu. Ingatannya memutar masa lalu yang kelam. Seandainya waktu bisa diulang kembali, maka Balthis pun tidak ingin menyerahkan Elov kepada pria itu. Jika akhirnya harus seperti ini.
"Elov, Papa juga minta maaf," ucap Balthis yang masih tertunduk.
__ADS_1
Balthis masih memiliki rasa penasaran yang lain. Dia ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mulai dari Elov kecil hingga tumbuh menjadi remaja dan berakhir di tempat hening seperti ini.
"Tuan, bagaimana caraku mendapatkan informasi mengenai kondisi terakhir lelaki yang dimakamkan di sini?" tanya Balthis.
"Silakan datang ke kantor polisi, Tuan. Berita acaranya lengkap tersimpan di sana," ucap salah satu anggota kepolisian itu.
"Baik, Tuan. Setelah kami berkunjung ke makam ini, kami akan segera datang ke sana," pungkas Balthis.
Keduanya kini fokus pada makam yang kosong. Niatnya berada di sini untuk beberapa waktu, membuat Jean berubah pikiran. Dia ingin menambah jadwal kunjungannya supaya bisa datang ke pemakaman setiap hari. Tidak hanya itu, Jean berniat membawakan beberapa bunga segar untuk ditaburkan di makam itu.
Berada di negara yang berbeda, Eiger sedang melanjutkan untuk mengejar ke mana David membawa Bianca pergi. Rupanya pria paruh baya itu mengajak Bianca menuju ke sebuah hotel mewah di kotanya.
"Ini gila! Uncle David membawa Bianca ke hotel. Apa yang akan mereka lakukan?"
Perlahan Eiger membuntuti pria itu supaya tidak ketahuan. Mobil David memasuki area masuk hotel kemudian kemudian seorang parking valet membawa mobil itu untuk diparkiran di basemen hotel. Tidak hanya sampai di situ saja, Eiger mengikuti hal yang sama seperti yang dilakukan David.
Sejauh mata memandang, tidak ada kecurigaan yang menonjol. Semuanya masih tampak biasa saja sampai pada Eiger mampu menguping pembicaraan antara David dan Bianca.
"Tentu, Bianca. Asalkan kau mau menandatangani kesepakatan bersama," ucap David sembari menunggu proses check-in hotel President Suite room.
"Tentu, Dave. Apa pun yang kau minta, aku pasti setuju. Tetapi, tolong lindungi aku dari kemarahan Eiger. Aku sudah menjebak adikku sendiri," ucapnya lirih. Dave adalah panggilan sayang yang sudah disepakati antara Bianca dan David.
Ini sangat gila. Eiger rupanya salah orang. Semua ini penyebabnya adalah Bianca sendiri. Namun, kenapa dia mau melakukan hal sekeji itu? Bukankah Eiger tidak pernah ada urusan dengannya? Apalagi Zoe yang sama sekali tidak mengenal Bianca.
Beruntung Eiger melakukan itu dengan sangat cepat. Dia tidak boleh kehilangan momen terbaiknya. Dia sempat merekam pembicaraan itu untuk melepaskan Biana.
Eiger tidak langsung mengkonfrontasi langsung padanya. Lebih baik kembali untuk bertemu dengan Zoe. Gadis itu yang berhak melanjutkan urusan ini atau melepaskannya.
Sampai di apartemen yang ditinggali Zoe, Eiger menekan belnya. Sebelum membuka pintunya, Zoe melihat dari door viewer. Zoe agak terkejut saat tahu Eiger malah kembali lagi.
"Eiger?" ucap Zoe setelah membuka pintunya.
__ADS_1
"Boleh aku masuk?"
"Tentu saja. Ayo!"
Zoe menutup pintunya kembali. Dia melihat wajah Eiger yang sangat aneh. Ada perasaan aneh yang sangat menderanya. Terlebih saat berdua seperti ini. Zoe harus bisa mengontrol dirinya.
"Duduk, Eiger! Walaupun ini bukan apartemenku, tetapi aku selalu mencoba menghargai tamu yang datang. Aku ambilkan minuman dulu, ya!"
Zoe berniat masuk ke dapur untuk mengambil air putih, tetapi Eiger menahannya.
"Tidak perlu repot-repot. Kita bicara saja. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu."
Zoe duduk tidak jauh dari Eiger. Dia siap mendengarkan apa pun yang akan disampaikan kepadanya.
"Aku bukan pria yang membiarkan kejahatan tumbuh begitu saja, tetapi aku yakin kalau kau akan sama sepertiku. Bimbang!"
Zoe menyorot tajam wajah Eiger. Agak aneh memang mendengar ucapan pria itu.
"Katakan semuanya. Aku akan mendengar dan mencoba berpikir positif."
Inilah yang disukai dari Zoe. Gadis itu selalu menanggapi apa pun tanpa tergesa-gesa. Dia mampu menanggapi masalah dengan caranya sendiri.
Eiger akhirnya menceritakan tentang kronologi kejadian yang membuktikan bahwa Biana tidak bersalah. Dia juga menyerahkan video pembicaraan antara David dan Bianca. Terdengar jelas bahwa Biana bukan pelakunya.
"Jadi, pelaku sebenarnya adalah Bianca?"
Eiger mengangguk.
"Kenapa dia melakukan itu padaku? Aku bahkan tidak mengenalnya."
"Itulah yang sedang kuselidiki, Zoe. Seandainya uncle-ku meminta tolong agar kau melepaskan Bianca, bagaimana? Kurasa cinta pria paruh baya itu akan menghambat masalah ini."
__ADS_1
Sejenak Zoe berpikir. Kejahatan tetaplah harus dibalas, tetapi masalah David yang akan menjadi penghambat hukuman itu, Zoe harus berpikir keras.