
Sisa pesta semalam tampaknya tidak terlalu membekas di hati Balthis dan istrinya. Buktinya, pagi ini mereka berkemas. Paspor dan visa kunjungan sudah disiapkan. Hanya David yang tahu ke mana perginya.
Koper berjajar rapi di ruang keluarga. Sementara pemilik koper masih mempersiapkan diri di dalam kamarnya.
Eiger dan Blerim sudah bersiap ke kantor. Ini hari pertama Eiger menggantikan Balthis. Blerim lah orang yang dipercaya untuk melakukan pengawasan dan bimbingan pada Eiger.
"David, kak Balthis mau pergi ke mana?" tanya Blerim.
"Tumben Kakak peduli pada kak Balthis? Apa sudah tidak ada pekerjaan mengurusi keponakan angkatmu itu? Oh, atau jangan-jangan Eiger itu anakmu?"
Anak? Mulut David suka sekali mengada-ada. Jangankan anak, menyentuh wanita pun belum pernah dilakukan Blerim sampai saat ini.
"Kurasa pemikiranmu mulai mengalami penurunan," jawab Blerim. Pria itu kemudian meninggalkan David yang hendak duduk karena menunggu kakaknya.
Blerim dan Eiger bersiap ke kantor, tetapi sebelum itu mereka mampir dulu ke tempat Zoe. Sejak diperkenalkan sebagai kekasih Eiger, Zoe mendapatkan pengawalan ketat. Gadis itu terus saja dikejar awak media untuk menggali informasi sebanyak mungkin.
Perihal hubungan Eiger dengan Biana pun mencuat ke permukaan. Banyak tudingan miring terhadap Zoe yang disinyalir menjadi penyebab retaknya hubungan Eiger sebelumnya.
"Kau datang sendiri, atau Uncle ikut masuk?"
"Aku sendiri saja. Oh ya, setelah ini Uncle langsung ke kantor. Aku akan menyusul."
"Ingat, selalu waspada! Uncle tidak mau kamu terkena masalah. Perlu waspada juga kalau kamu adalah orang penting sekarang. Jadi, jangan berbuat sesuka hatimu. Oh, begini saja. Temui Zoe, sementara Uncle akan menunggumu di basement. Kalau kau sudah selesai, hubungi Uncle. Tunggu di pintu masuk hotel!"
"Baik, Uncle. Hanya 10 menit," pamit Eiger.
Terpaksa Eiger harus mengambil langkah cepat supaya bisa sampai kamar Zoe. Dia memerlukan waktu agak lama saat berada di lift. Namun, tepat di menit ke-5, Eiger sudah sampai di depan kamar Zoe. Dia menekan bel hingga gadis itu membukanya.
"Eiger?"
"Boleh aku masuk?" tanya Eiger.
"Tentu. Silakan!"
__ADS_1
Zoe mempersilakan Eiger duduk. Setelah itu, Zoe membawakan 1 botol minuman yang kebetulan semalam dibelinya sepulang dari pesta perayaan Eiger.
"Aku tidak lama. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar."
"Apakah ini mengenai penginapanku di hotel ini?"
"Tidak. Kau bisa memperpanjang beberapa hari ke depan. Kalau kau perlu uang, jangan lupa kabari aku."
"Itu sudah lebih cukup, Eiger. Setelah beberapa hari ini, aku mau pulang. Kurasa sudah cukup untuk membantumu."
"Hemm, apa kamu yakin? Kurasa saat kamu pulang harus membiasakan diri dikenal orang sebagai kekasihku."
"Maksudmu? Bukankah drama ini hanya untuk beberapa hari?"
"Tidak. Kurasa kamu melupakan satu hal. Media massa dan televisi sudah menyebarluaskan informasi mengenai hubungan kita."
"Hah? Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Tidak apa-apa. Intinya, saat kau mau pergi ke mana pun, lebih baik kabari aku. Akan ada beberapa bodyguard yang menjagamu."
"Ya, baiklah. Aku hari ini tidak akan ke mana-mana. Aku hanya ingin menikmati kamar ini sepanjang hari," jelas Zoe.
"Oke, aku pamit dulu, ya! Uncle sudah menungguku. Oh ya, jangan lupa sarapan pagi!" pesan Eiger sekaligus berpamitan.
Hanya sebentar untuk melihat kondisi Zoe. Bagaimanapun dia bertanggung jawab penuh pada gadis itu.
Sementara di mansion keluarga Willard, semua koper yang disiapkan telah dimasukkan ke dalam mobil. Jean dan Balthis sudah memakai jaket tebal. Ada semangat baru yang dimiliki sepasang suami istri ini untuk menyambut kabar terbaik putranya yang tiada kabar.
"Kak, semuanya sudah?" tanya David.
"Iya. Semuanya sudah beres."
Kini, semuanya sudah masuk ke dalam mobil. David siap mengantar kakaknya menuju ke bandara. Sepanjang perjalanan, Jean terlihat bersemangat sekali.
__ADS_1
"Sayang, kau tahu kalau tempat yang akan kita kunjungi adalah rumah sakit itu. Aku berharap ada Elov di sana," jelas Jean.
Saat istrinya menyebut nama Elov, mendadak Balthis merasa sakit dan kecewa. Kalaupun mereka menemukan Elov, bisa saja tinggal nama. Seperti yang disampaikan detektif swasta sewaannya beberapa hari yang lalu.
"Jangan terlalu antusias, Jean. Kita tidak tahu kebenarannya. Walaupun sebenarnya aku merasa bertolak belakang dengan kebenaran yang disampaikan detektif itu. Keyakinanku selalu berharap bahwa Elov masih menanti kita, Sayang. Tapi ingat, jangan terlalu antusias. Aku takut kamu kecewa."
David mendengarkan pembicaraan kakaknya. Ternyata rumit juga ya menjalin hubungan suami istri. Ribut urusan pribadi, masalah anak, dan yang lebih parahnya lagi terkadang setiap pasangan meributkan waktu kebersamaan.
Itulah alasan mengapa David enggan menjalin hubungan serius dengan wanita. Dia dan Blerim memiliki masa lalu yang berbeda, tetapi ada kesamaan di akhir hidupnya. Sama-sama memutuskan tidak menikah.
"Kak, lebih baik kalian positif thinking saja. Siapa tahu kalau kalian yakin, maka Elov benar-benar ditemukan. Aku juga berharap keponakanku itu kembali," ucap David memberikan angin segar pada kakaknya.
"Terima kasih, David. Kau memang adik ipar yang baik. Kau selalu bisa mengerti keadaan kami. Oh ya, jangan lupa awasi tingkah laku Blerim dan anak itu. Aku tidak mau saat Elov kembali, anak itu sudah mengambil seluruh milik Elov," tegas Jean.
Ya, kepergian Balthis dan Jean untuk mencari tahu kejelasan mengenai keberadaan Elov. Rumah sakit itu menjadi kunci akhir perjalanan hidup Elov yang sama misteriusnya dengan papa dan juga kedua adik laki-laki papanya.
"Kakak jangan khawatir!"
"David, apakah kau akan datang ke perusahaan hari ini?" tanya Balthis yang sesekali melihat jam tangannya. Perjalanan ke bandara masih beberapa menit lagi. Bisa dipastikan bahwa mereka tidak akan terlambat.
"Tidak. Aku ingin libur hari ini. Aku sangat lelah sekali."
Jelas saja, dari semalam David baru tidur dini hari. Dia harus membawa kakaknya pulang dari hotel menuju ke mansion.
"Khusus hari ini aku izinkan, tetapi mulai besok jangan ada lagi drama tidak hadir ke kantor. Aku butuh laporan tertulis via email. Jangan lupa!" pesan Balthis.
"Oh God, apakah serumit ini untuk memberikan informasi padamu, Kak?" Alasan David jelas. Biasanya melalui sambungan telepon sudah cukup.
"Karena kami butuh waktu untuk sendiri, David. Harap maklum. Selama ini suamiku sering lupa kalau punya istri yang harus dibahagiakan. Bukan begitu, Sayang?"
Balthis manggut-manggut. Dia bukan tipikal pria dingin seperti David atau Blerim. Balthis sebenarnya pria romantis yang terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Ya, ya. Hanya kalian yang berhak bahagia."
__ADS_1
"Makanya kau harus menikah. Biar tahu rasanya memiliki seseorang yang merindukanmu sepanjang waktu, yaitu istrimu," ucap Balthis.
Menikah? Entah, itu cita-cita yang ke berapa dari tujuan hidup David? Bisa saja tidak masuk dalam daftar impiannya.