Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 39. Harapan Besar


__ADS_3

"A-aku hamil, Eiger!" ucap Biana ragu.


Ini memang sengaja dilakukan supaya Eiger mau menikah dengannya. Sudah melalui banyak pertimbangan dengan papanya.


Eiger dan Blerim berpandangan. Eiger bisa saja langsung menolaknya karena tidak merasa melakukan apa pun. Namun, Blerim memberikan kode bahwa Biana sedang mencari pembenaran untuk dirinya sendiri.


"Benarkah?" tanya Eiger datar. "Apakah kita pernah melakukan hal buruk itu?"


Ya, selama menjalin hubungan dengan Eiger, pria itu sama sekali tidak pernah melakukan hubungan terlarang. Apalagi sampai meniduri gadisnya sebelum menikah. Baginya, itu adalah sebuah pantangan demi menjaga nama baik keluarga Willard.


"Kau melupakannya, Eiger. Kita pernah menginap di hotel berdua. Apa kau lupa?" Usaha Biana mengarang cerita sangatlah membuat pusing. Dia sangat tidak pandai bersandiwara.


"Kita harus pergi ke rumah sakit, Biana," ucap Eiger yakin.


"Kau tidak percaya bahwa ini adalah anakmu?" tanya Biana seolah menyudutkan Eiger.


"Bukan begitu, Biana. Eiger hanya ingin tahu berapa usia kandunganmu. Bukankah kalian sudah berpisah? Maksud Uncle, saat kalian tidak menjalin hubungan, bisa saja kan kalau kamu tidur dengan pria lain," tuding Blerim.


Niatnya menjatuhkan Eiger, justru malah dirinya yang terhina. Harusnya Biana tidak melakukan hal senekat ini di hadapan Blerim. Lebih baik dilakukan satu lawan satu.


"Iya, Uncle. Kami akan pergi ke rumah sakit jika Eiger sudah setuju menerimaku kembali."


Syarat yang mudah, tetapi tidak akan pernah dikabulkan Eiger. Pria itu sudah cukup sakit hati atas keputusan sepihak Biana kala itu.


"Lebih baik pergi dari ruanganku sekarang! Sebelum aku panggilkan security untuk mengusirmu secara paksa!" Ya, Eiger mengusirnya.


"Eiger! Aku akan membuatmu menyesal sudah mengusirku. Dan, aku juga tidak akan membiarkan kau bahagia dengan gadismu itu!" ancam Biana.


"Aku tidak tahu harus berbuat apalagi padanya," ucap Eiger setelah Biana pergi.


"Biarkan saja. Dia hanya menggertakmu."


Blerim mencoba meredam kekhawatiran Eiger. Dia berharap keponakannya itu tidak memikirkan hal-hal negatif.


Berada di tempat dan suasana hati yang berbeda membuat Balthis merasakan ketenangan sejenak. Hari ini dia dan istri berniat mengunjungi rumah sakit yang dimaksud.


"Sayang, rasanya aku tidak ingin ikut. Aku takut kabar buruk mengenai Elov," lirih Jean.

__ADS_1


"Hei, jangan negatif thinking, Sayang. Semoga usaha kita membuahkan hasil," ucap Balthis.


Seusai sarapan pagi, Jean masih bermalas-malasan di dalam kamar hotelnya. Dia sangat ketakutan mengenai kabar putranya.


"Jean, lebih baik kau bersiap sekarang. Aku tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. Semakin kita mengulurnya, maka kesempatan Eiger untuk menguasai perusahaan dan semua harta milik Elov akan semakin lama."


Teringat Eiger, Jean bergegas turun dari ranjang. Dia tidak mau Elov tidak mendapatkan apa pun karena anak itu. Akan semakin rumit bila mengembalikan keadaan seperti semula.


Tekat yang kuat mengantarkan Balthis ke sebuah rumah sakit yang disinyalir sebagai tempat terakhir Elov beberapa tahun yang lalu. Dia membutuhkan rekam medis pasien yang terjadi sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu.


Sayang, pihak rumah sakit tidak menunjukkan keberadaan Elov di sana. Jean terlihat cemas.


"Ehm, begini. Kami memang sedang mencari keberadaan anak laki-laki yang diduga terakhir berada di rumah sakit ini. Apakah tidak ada nama lain yang mungkin bisa mengarah pada putra kami, sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu," jelas Balthis.


"Maaf, Tuan. Kami belum bisa menemukan data secepat itu. Kiranya Anda berkenan, besok atau lusa bisa kembali lagi ke sini."


Ya, waktu yang dibutuhkan memang cukup lama. Setelah mendapatkan data, belum lagi melakukan proses selanjutnya sampai menemukan titik terang. Ingin menyerah, tetapi mereka sudah bertindak terlalu jauh.


"Sayang, bagaimana?" Balthis mencoba mencari persetujuan dari istrinya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Semoga pihak rumah sakit segera menemukan data itu."


Hari ini, David belum mengirimkan laporan apa pun saat Balthis mengecek email di laptopnya. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa kamar hotel itu. Perkiraan Balthis, dia akan berada di negara ini dalam kurun waktu satu sampai dua bulan.


"David sudah melaporkan Eiger padamu?"


"Belum. Mungkin belum ada hal yang perlu dilaporkan."


Ternyata Balthis salah. Hendak melakukan log out pada akun emailnya, tiba-tiba dia melihat pesan masuk dari David. Ada kabar bagus untuknya.


"Hei, kenapa senyum-senyum begitu? David mengirim kabar bagus, ya!"


Balthis mengangguk. Namun, dia tidak mau menanggapi kiriman pesan itu secara serius.


"Cuma gadis labil yang sedang mengejar cintanya," jelas Balthis.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Biana berulah. Sayang, ulahnya itu tidak semulus rencananya. Kurasa pemikirannya cukup pendek, tidak terlalu mendetail, hingga gagal menghadapi Eiger."


"Ck, gadis itu sepertinya perlu didekati untuk melawan Eiger."


Balthis sedang mencari celah untuk menghancurkan kehidupan Eiger. Dia menunggu kabar yang akan dibawanya saat kembali.


"Kita harus menyerang Eiger dari berbagai sudut, Jean. Laki-laki itu terlalu kuat saat berada di samping Blerim. Aku curiga kalau Blerim ada hubungan darah dengan Eiger."


"Apa maksudmu?"


"Apa kau lupa kejadian puluhan tahun lalu? Saat Blerim terbaring lemah di ranjang rumah sakit? Jangan-jangan Eiger itu benih yang ditinggalkan pada kekasihnya yang hilang itu."


Masuk akal memang. Namun, menuduh tanpa bukti adalah sebuah kebodohan. Balthis tidak mau dianggap bodoh oleh semua orang.


"Bagaimana kalau kita lakukan tes DNA antara Eiger dan Blerim?" usul Jean.


"Ya, kau benar, Sayang. Aku akan meminta David melakukan tes itu."


Balthis tertunduk.


"Hei, kenapa malah tertunduk seperti itu? Ada apa?" tanya Jean saat melihat suaminya kehilangan semangat.


"Bagaimana kalau Eiger ternyata anak Blerim? Sementara Elov belum ditemukan."


Jean menarik napas panjang kemudian menghembuskannya. Ini sangat gawat. Tidak hanya kedudukan Elov yang terancam, tetapi juga orang-orang akan mempertahankan kedudukan Eiger sebagai anak Blerim.


Tidak mau berlarut dalam dilema yang panjang, Jean memutuskan untuk mengajak suaminya jalan-jalan.


"Sayang, aku ingin jalan-jalan. Apa kau tidak bosan berada di hotel ini selama seharian?"


Sebenarnya bosan, tetapi ini cara Balthis mengurung diri dari kekacauan yang ditimbulkannya dari masa lalu.


"Kalau kau mau pergi, pergi saja! Aku mau di hotel ini sampai sore. Nanti malam baru keluar."


Sebenarnya Jean sudah kesal karena suaminya menolak. Namun, ponsel suaminya berdering saat rumah sakit mengabarinya jika besok mereka bisa datang lagi. Balthis sangat bahagia mendapatkan kabar seperti itu.


"Jadi, besok kita bisa ke rumah sakit, ya?"

__ADS_1


"Iya, Sayang. Semoga mendapatkan kabar baik, ya!"


Harapannya memang besar, tapi pihak rumah sakit pasti memberikan jawaban yang berbeda. Itu tidak masalah. Setidaknya Balthis menemukan anaknya.


__ADS_2