
Blerim mengambil ponselnya setelah rapat usai. Dia merasa cemas karena Eiger tidak kunjung memberikan kabar padanya. Padahal, Blerim sudah meminta pada Eiger mengabarinya tepat setelah sampai.
Blerim terkejut saat melihat pesan masuk berupa foto seorang gadis yang sedang berada di sebuah gudang. Gadis itu terindikasi sebagai korban penculikan.
"Bukankah ini Zoe?" tanyanya lirih.
"Kau kenapa, Kak? Meeting sudah selesai. Kenapa masih bertahan di sini?" tanya David.
"Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut membaca berita hari ini. Sedikit kurang menarik," ucap Blerim beralasan.
Buru-buru Blerim masuk ke ruangannya. Lebih baik dia menghubungi Eiger terlebih dahulu. Siapa tahu ternyata dia belum tahu.
"Halo, Uncle. Ada apa? Aku di jalan," jawab Eiger buru-buru.
"Aku akan mengirimkan gambar padamu. Tolong pastikan dan cari siapa yang berani melakukan ini pada Zoe."
Blerim memutuskan hubungan sepihak. Dia bergegas mengirimkan pesan pada Eiger.
Eiger yang menerima pesan itu semakin panik. Kalau ingat apa yang dilihatnya saat ini, maka pikirannya bukan tertuju pada Balthis atau Jean. Justru orang yang berpotensi untuk menculiknya adalah Biana. Sudah lama gadis itu merasa kesal padanya.
"Sial! Kenapa Biana tega melakukan hal sekeji itu?"
Eiger tidak tega jika Zoe yang tidak tahu apa-apa, kemudian dijadikan pelampiasan oleh kesalahan orang lain. Eiger memang tidak tahu di mana Biana menyekap Zoe, tetapi Eiger bisa menemuinya lebih dulu.
Perjalanan dari danau menuju ke tempat tinggal Biana lumayan jauh. Sehingga Eiger memerlukan waktu yang lumayan banyak. Sebelum sampai di sana, Eiger mencoba menghubungi Biana. Sayang, gadis itu tidak mau mengangkat panggilan Eiger.
Eiger kesal. Dia meletakkan ponselnya di atas dasboard mobilnya. Dia menambah kecepatan penuh saat mengemudi. Beberapa kali Eiger menekan klakson sesukanya supaya orang-orang yang ada di depannya segera memberi jalan.
Eiger turun dari mobilnya saat sampai di halaman rumah Biana. Tidak mau menunggu lama, Eiger bergegas menekan bel rumah yang terlihat kosong itu. Kekesalannya jelas memuncak saat Eiger mengira bahwa Biana yang melakukan tindakan keji itu.
"Eiger?" sapa Biana saat tahu pria yang dirindukannya itu datang ke rumah. "Kau pasti merindukan aku, kan?"
"Di mana kau sekap Zoe?" tanya Eiger dengan suara yang sangat kasar.
"Tunggu! Aku tidak mengerti apa maksudmu?"
__ADS_1
"Sudahlah, Bi. Kau jangan pura-pura. Kau kan yang menculik Zoe hingga menyekapnya di suatu tempat." Eiger menunjukkan foto-foto penculikan itu.
Biana mundur selangkah. Dia memang mengejar kembali cinta Eiger, tetapi dia tidak pernah menggunakan cara sekeji itu.
"Maaf, lebih baik kau pulang sekarang. Kau sudah tidak pernah mempercayai aku lagi. Lebih baik pergilah!" Biana mengusir Eiger dengan sebuah alasan. Bahwa Biana merasa sakit hati dengan tuduhan yang tidak pernah dilakukan olehnya.
"Bi, jangan seperti itu! Akui saja kalau kau memang melakukannya. Jika tidak, jangan salahkan kalau aku akan melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian," ancam Eiger.
Biana yang merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, maka dia berhak untuk marah kepada Eiger.
"Eiger, selama ini aku memang mengejar cintaku kembali. Tapi, mengenai penculikan ini, aku tidak melakukan apa pun. Kau bisa bertanya pada daddy-ku. Seharian ini aku berada di rumah. Kondisiku sedang tidak baik-baik saja."
Eiger menatap wajah Biana secara intens. Dia paham mana kebohongan dan kejujuran. Melihat wajah memelasnya, Eiger pun mundur beberapa langkah.
"Aku minta maaf," ucap Eiger kemudian pria itu mundur untuk kembali ke mobilnya.
Ini kesempatan tidak akan pernah berulang. Justru Biana malah mengejar pria itu kemudian memeluknya dari belakang. Sangat erat sekali.
"Bi, lepaskan!" Eiger membuka tangan Biana yang memeluknya dengan sangat erat.
"Eiger, izinkan aku seperti ini sebentar saja. Setidaknya sampai kerinduanku padamu terobati. Lalu, aku juga akan berterima kasih pada penculik itu. Karena dia, kau datang kepadaku. Aku sangat rindu."
"Lupakan pertemuan hari ini! Aku ke sini hanya untuk mencari Zoe, bukan ingin bertemu denganmu."
Sangat menyakitkan sekali. Sepertinya Eiger memang sudah melupakan dirinya. Tidak masalah bagi Biana. Jika hari ini gagal, maka ada esok hari untuk mencapai keberhasilan.
Secepatnya Eiger mengendarai mobil itu keluar dari halamannya. Tujuannya menuju ke kantor keluarga besarnya. Dia ingin menemui Blerim.
"Eiger, bagaimana? Apa kau sudah menemukannya?" tanya Blerim saat pria itu sudah masuk ke ruangan pamannya.
"Belum, Uncle. Setelah ini aku akan pergi lagi."
"Biana, bagaimana? Apa dia mengaku?"
Eiger menggeleng.
__ADS_1
"Lalu, siapa yang kau curigai?"
"Papa dan mama juga tidak mungkin. Sepertinya ada orang lain yang tidak suka padaku."
Saat perbincangan belum usai, David dan Balthis datang ke ruangan Blerim. Mereka berniat mengajak makan siang bersama. Sebenarnya Eiger ingin menyembunyikan masalah ini, tetapi Balthis keburu bisa membacanya.
"Ada apa, Eiger? Sepertinya kau sangat cemas," ucap Balthis.
"Zoe diculik, Pa," jawab Eiger. Dia juga ingin tahu bagaimana respon Balthis padanya.
"Benarkah? Apa kau sudah meminta tolong untuk mencarinya."
"Belum, Pa. Aku akan mencarinya sendiri." Keyakinan Eiger sangatlah tinggi. Dia juga tidak ingin merepotkan keluarganya.
"Kami akan membantumu. David, kabari mereka. Minta tolong cari keberadaan Zoe!" perintah Balthis.
"Baik, Kak," jawab David.
David keluar dari ruangan, sementara Balthis masih ada di sana.
"Tumben Kakak datang ke ruanganku?" tanya Blerim.
"Aku ingin mengajak kalian makan siang. Kali ini bukan ruangan VVIP lagi. Namun, aku akan mengajak kalian ke tempat yang berbeda. Bagaimana?"
Ini adalah usaha Balthis mendamaikan keluarganya kembali. Sebelum dia memutuskan untuk memindahkan Blerim ke cabang perusahaan di tempat lain.
"Boleh, Pa. Tapi, sebelumnya aku mengucapkan terima kasih. Setelah makan siang, aku akan mencari keberadaan Zoe lebih dulu," jawab Eiger.
"Kau akan ditemani David," pungkas Balthis. Setelah itu keluar dari ruangan Blerim.
Kini, Eiger dan Blerim saling pandang. Memang mereka tidak bisa mencurigai Balthis tanpa bukti. Namun, saat dia meminta pada David untuk menghubungi seseorang, Blerim mulai menaruh curiga padanya.
"Eiger tahu apa yang Uncle pikirkan saat ini. Tapi, menurutku sudah tidak penting lagi. Setidaknya papa sudah mau membantuku."
"Kau benar. Tapi, kecurigaanku akan tetap ada selama Elov belum ditemukan. Luka tembak yang kamu miliki itu adalah ulahnya. Mungkin saat ini kau masih menjadi bagian Willard. Lambat laun, kak Balthis akan mendepakmu dengan cepat."
__ADS_1
"Aku sudah tidak peduli itu, Uncle. Selagi aku memiliki saham di sini, mau didepak pun terserah saja."
Eiger memang bukan tipikal pria yang putus asa, tetapi untuk saat ini tidak hanya nyawanya saja yang terancam, tetapi orang-orang yang ada di sisinya.