Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 42. Hanya Eiger


__ADS_3

Terlambat bangun, sarapan pagi yang kesiangan, buru-buru ke rumah sakit, dan terhenti di jalan karena mobilnya mogok. Sepasang suami istri ini seperti mendapatkan serangan bertubi-tubi. Saat keinginannya cukup tinggi untuk bertemu dengan anaknya.


"Kenapa kesialan selalu menimpa kita hari ini?" tanya Jean yang sedang duduk di tepi jalan.


"Sabar sedikit!" ucap Balthis saat dirinya mencoba memperbaiki mobil sewaannya.


Kali ini Balthis yang mencoba bersabar. Kalau dia pusing, maka imbasnya akan marah-marah pada istrinya.


"Sayang, sudah apa belum?" tanya Jean lagi.


"Sabar. Tunggu 5 atau 10 menit lagi. Kalau gagal, aku akan mencari taksi."


Sedari tadi jean sudah mengusulkan untuk naik taksi, tetapi Balthis terus saja menolaknya. Dia merasa tidak nyaman menggunakan taksi dengan alasan tidak akan bisa bebas saat ingin ke mana-mana.


Nyatanya usaha memperbaiki mobil itu tidak menghasilkan apa-apa. Terpaksa Balthis menghubungi pihak hotel untuk mengantarkan mobil derek demi mengambil mobil yang mogok itu.


Beruntung di hadapannya ada seseorang yang baru saja turun dari taksi sehingga keduanya langsung bisa naik.


"Ah, akhirnya kita mendapatkan kendaraan juga," ucap Jean lega.


"Ya, syukurlah."


Saat sopir taksi itu menanyakan ke mana tujuannya, Jean paling antusias menjawabnya.


"Rumah sakit A, Sir," jawab Jean.


Jaraknya memang lumayan. Terlebih hari semakin siang. Rasanya ingin buru-buru sampai di rumah sakit tersebut.


"Apakah kau gugup?" tanya Balthis.


"Sangat gugup, Sayang! Aku ingin segera mendapatkan kabar Elov hari ini."


"Apa pun konsekuensinya?"


"Ya, kalaupun Elov memang benar-benar sudah tiada. Aku tidak masalah. Setidaknya urus sampai tes DNA-nya selesai."


Antara putus asa, menyerah, dan sudah lelah. Jean sudah menyerahkan segalanya. Ini memang murni kesalahan di masa lalu.


"Apakah kamu menyesal?" Balthis terus saja menginterogasinya. Dia melakukan hal itu untuk mengurai rasa gugup yang dirasakan istrinya saat ini.

__ADS_1


"Sangat menyesal! Tapi, aku kembalikan lagi pada kecerobohan kita di masa lalu. Seharusnya kita tidak pernah melakukan kesalahan sebesar itu."


Balthis tertunduk. Kecelakaan yang menimpanya sehingga harus menukarkan nyawa orang lain dengan anaknya yang baru saja dilahirkan.


"Aku minta maaf," pungkas Balthis.


Taksi telah membawanya sampai ke depan pintu masuk rumah sakit. Setelah membayar ongkos taksi, keduanya bergegas turun untuk menuju ke resepsionis.


Mereka mengatakan bahwa ada janji temu dengan pemegang rekam medis. Ternyata mereka diarahkan menemui manager rumah sakit dan didampingi oleh orang yang ditemuinya kemarin.


"Silakan duduk!" perintah manager rumah sakit.


"Terima kasih."


Balthis dan Jean duduk bersampingan. Perasaan semakin cemas menyelimuti keduanya.


"Jadi, bagaimana? Apakah data mengenai anakku bisa ditemukan?"


"Tentu, Tuan. Namun, kami tidak yakin kalau belum melakukan pemeriksaan secara langsung," jawab manager itu.


"Lakukan apa pun asal anakku ditemukan," sahut Jean.


Staf rekam medis kemudian menjelaskan bahwa pada 8 atau 9 tahun yang lalu, memang banyak sekali kejadian aneh. Namun, dalam kurun waktu 2 tahun itu, ada 5 kejadian dengan usia yang mirip dengan orang yang dicarinya.


Puncak kejadian itu ada pada salah satu orang yang mengalami kecelakaan tragis, kemudian pihak keluarga menginginkan organ dalam laki-laki itu untuk didonorkan pada keluarganya. Setelah itu, mayat laki-laki itu diserahkan pada pihak rumah sakit untuk dimakamkan.


Mendengarnya saja sudah ngeri, tetapi dari semua penjelasan tentang beberapa orang itu, maka akan dilakukan tes DNA untuk menentukan mana yang paling akurat dari semua laki-laki yang dimaksud.


"Jadi, semua orang yang Anda maksud itu sudah mati secara tragis?" tanya Jean.


"Tidak semuanya, Nyonya. Hanya dua, tetapi ada satu yang paling tragis. Namun, menurut rumor yang beredar, anak laki-laki itu sengaja ditabrak. Kebetulan kami pegawai baru, tetapi rumah sakit ini selalu menyimpan surat kabar dari tahun berapa pun."


Kisahnya sangat mengerikan. Harapannya untuk menemukan Elov dalam keadaan hidup rupanya sudah tidak mungkin. Kecuali, dari lima data itu, sudah tidak ada satu pun yang cocok.


"Jadi, kapan kami bisa tahu hasil tes DNA-nya?" pungkas Balthis.


"Kami butuh waktu, Tuan. Setidaknya tunggu dua minggu sampai satu bulan. Masalahnya, semua orang yang dimaksud itu sudah tiada. Sehingga kami harus meminta izin kepada pihak kepolisian untuk membongkar beberapa pemakaman. Tanpa izin, kami akan mendapatkan hukuman karena dituduh pencurian. Lebih baik Anda buat laporan kepada pihak kepolisian untuk mempermudah proses kami."


Sudah bisa diduga. Ini akan sangat rumit dan memerlukan waktu yang lumayan lama. Jean menyerah. Dia sudah pasrah bahwa salah satu dari ke-5 orang yang dimaksud pasti putranya.

__ADS_1


"Sayang, tidak perlu diteruskan. Kita pulang saja!" bujuk Jean. Membayangkannya saja sudah mual.


"Kita sudah bertindak sangat jauh, Jean. Aku juga perlu tahu kalau misalnya anakku sudah tiada, setidaknya tahu dia dikuburkan di mana."


Jean tidak bisa menolak. Keputusan besar tetap pada suaminya. Mereka harus menyiapkan jawaban yang akan diberikan kepada keluarga besarnya.


"Baik, Tuan. Kami akan membuat laporan mengenai anak itu. Detailnya kami akan meminta kepolisian untuk mengusutnya di rumah sakit ini," jelas Balthis.


"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan."


Balthis dan Jean pamit. Mereka kembali ke penginapan dengan perasaan campur aduk.


"Sayang, Elov kita sudah tiada," ucapnya lirih.


"Sabar, Jean. Kesalahan kita di masa lalu membuat semuanya rumit. Aku minta maaf," balas Balthis. Dia menyandarkan kepala istrinya tepat di dada Balthis.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"


Buntu. Eiger hanya orang lain. Balthis butuh Blerim dan David untuk membicarakan masalah selanjutnya.


"Tunggu kita pulang. Aku perlu bicara pada adik-adikku."


Taksi yang membawanya kini telah memasuki halaman kantor polisi. Balthis dan Jean melaporkan apa yang sudah disepakati oleh Balthis dan pihak rumah sakit.


Tetap saja pihak kepolisian akan menunggu waktu yang tepat untuk melakukan tes. Ini akan menarik perhatian kepada kisah masa lalu seorang mafia kejam. Mafia yang kehilangan anak dan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis.


"Kami butuh waktu minimal seminggu, Tuan. Bagaimana? Tidak ada masalah, kan?" tanya salah satu anggota kepolisian itu.


"Tidak apa-apa. Kami bersabar menunggu kabar baiknya," jelas Balthis.


Permainan hidup yang belum berakhir. Terputusnya keturunan keluarga Willard di tangan Balthis dan Jean.


"Kalau begitu, kami tunggu kabar selanjutnya, Tuan," pungkas Jean.


Mereka pamit meninggalkan kantor polisi untuk kembali lagi ke penginapan. Semua anak-anak keturunan Willard tidak ada yang mempunyai generasi penerus.


"Kita hanya punya Eiger, Sayang. Bagaimana? Apa kau mau berdamai dengan anak itu?" tanya Jean.


Beberapa jam yang lalu, Balthis baru saja menerima kabar kegagalannya membunuh Eiger. Sekarang, agaknya Tuhan sedang berpihak pada anak itu yang ternyata tidak mati. Sementara Jean, dia merasa kehilangan saat jauh dengan Eiger. Selama puluhan tahun, hanya Eiger yang mampu mengerti dirinya.

__ADS_1


__ADS_2