Bukan Penerus Tahta

Bukan Penerus Tahta
Bab 56. Bersekongkol


__ADS_3

Berada di ruangan VVIP sebuah restoran, David merasa sangat cemas. Ini kali pertamanya bertemu seorang wanita yang sangat menarik menurutnya.


"Ah, rasanya aku kembali muda. Menunggu datangnya bidadari yang akan menjadi milikku," ucap David yakin.


Inilah yang menjadi perbedaan antara David dan Blerim. Siapa pun yang sudah masuk ke hatinya, maka itu sudah ditandai menjadi hak miliknya.


Sementara Bianca yang baru saja masuk ke restoran mendadak semakin gugup. Rasanya ingin segera bertemu dengan Eiger kemudian memeluknya.


"Ada yang bisa dibantu, Nona?" sapa seorang resepsionis.


"Ah, iya. Aku mencari reservasi atas nama tuan Eiger."


"Tunggu, Nona! Aku cek dulu, ya!"


Resepsionis itu tampak sedang melihat data di komputer. Tak lama, dia kembali ke depan Bianca.


"Mari aku antarkan, Nona!"


Resepsionis itu sangat menghormati Bianca. Terlebih saat dia tahu bahwa itu adalah tamu spesial Eiger. Sampai di pintu masuk ruangan VVIP itu, resepsionis mengantarkannya.


"Silakan masuk, Nona! Tuan Eiger sedang menunggu di dalam."


Rasanya semakin tidak menentu saat mendengar nama itu disebut berulang kali. Bianca mencoba mengatur irama jantungnya untuk tidak berdetak lebih cepat. Ya, dia akan bertemu dengan seorang pria yang dicintainya selama ini.


Ruangan itu benar-benar private room sehingga hanya ada satu laki-laki yang sedang menunggunya di sana. Alangkah terkejutnya saat dia tahu bahwa laki-laki itu bukan Eiger.


"Kau?"


David menoleh. Dia melihat Bianca sangat cantik dan menarik.


"Iya, aku. Kenapa memangnya? Apa ada yang salah?"


"Aku ke sini untuk menemui Eiger. Aku mau bicara dengannya."


Bianca hendak keluar ruangan, tetapi dicegah oleh David. Pria itu tidak mengizinkan gadis yang sudah ditandainya keluar begitu saja.


"Lepaskan aku, Uncle!" bentak Bianca saat pria itu menggenggam erat tangannya.


"Tidak. Tetaplah di sini dan duduk bersamaku. Kita makan siang bersama. Jangan tolak kebaikan Eiger untuk kita," tegas David.


"Kita? Maaf, Uncle. Kurasa Anda salah orang!" Lagi-lagi Bianca membantahnya.


Usahanya untuk kabur tetaplah sia-sia. David membimbingnya dengan hangat menuju ke kursinya. Pria itu membiarkan Bianca berdiri dengan patuh karena David sudah mengancamnya.

__ADS_1


"Aku tahu kalau kau yang melakukan semua itu. Sebagai gantinya, jika kau ingin bebas, maka tetaplah menurut padaku!"


Seketika bulu kuduk Bianca meremang. Dia tidak menyangka akan berhadapan dengan pria sekeji David. Semuanya harus berada di dalam kendalinya. Dengan terpaksa Bianca menyetujui permintaan David tanpa perlawanan.


Sial! Kenapa aku berhadapan dengan pria seperti ini? Aku benar-benar tidak bisa berpikir akan berbuat seperti apa.


Bianca menurut saat David mencoba menyuapinya dengan steak daging yang ada di meja pria itu. Setelah beberapa hari yang lalu dia menahan seseorang untuk mendapatkan Eiger. Maka berbeda dengan hari ini. Dia seperti menjadi tawanan pria paruh baya di hadapannya itu.


"Bagaimana rasanya? Enak?"


"Iya, Uncle. Ini enak," ucap Bianca sekenanya. Padahal, dia sendiri benar-benar muak harus berhadapan dengannya.


"Jangan panggil Uncle! Panggil David saja."


Astaga. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Dia menyukai keponakannya, tetapi malah terjebak dalam permainan pamannya.


"Ah, iya. Ini enak, David."


Mimpi apa Bianca bisa makan siang romantis dengan pria tua itu. Terlebih saat selesai makan siang, David memberinya satu buket bunga istimewa dan satu set perhiasan mahal. Bianca yang silau akan harta mendadak luluh dengan semua hadiah yang diberikan pria tua itu.


Sementara Eiger yang sedang mengantarkan Zoe mendadak berbalik arah. Dia tidak mungkin mengembalikan Zoe kembali ke rumahnya di dekat danau.


"Kenapa memutar mobilnya?"


"Eiger, aku butuh istirahat di rumah. Lagi pula kalau aku berada di sini akan sangat merepotkan," tolak Zoe.


"Hei, ada alasan aku tidak mengantarmu pulang. Aku harus datang ke restoran untuk memasukkan siapa yang salah di sini. Kau ingin mendapatkan jawabannya, bukan?"


Rasa penasaran Zoe memang tinggi. Namun, berada di dekat Eiger tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda cara memandang Eiger.


"Ya, baiklah. Terserah kau saja."


Eiger membelokkan mobilnya ke apartemen yang selama ini menjadi salah satu tempat yang ditinggali Blerim.


"Masuklah! Kalau kau perlu makanan, nanti hubungi aku."


Eiger bergegas kembali ke mobil. Tujuannya saat ini ke restoran X bertemu dengan David dan Bianca. Dia berharap ini akan menjadi jawaban atas semua pertanyaannya.


Sepanjang perjalanan, dia mencoba menghubungi David. Namun, beberapa kali panggilannya diabaikan.


"Oh God, ke mana uncle David? Jangan sampai dia membuat kesalahan!"


Eiger mempercepat laju mobilnya. Dia ingin masalahnya selesai dan membebaskan Biana seperti kesepakatannya dengan Elmer. Bergegas dia turun saat sampai di tempat parkir restoran. Tujuannya saat ini adalah ruangan VVIP yang sudah dipesan atas namanya.

__ADS_1


"Tuan, Anda mau ke mana?" tanya seorang resepsionis yang melihat Eiger terburu-buru.


"Ke ruangan VVIP yang kupesan atas namaku," jawabnya.


"Tuan Eiger?"


"Ya. Aku buru-buru."


"Tunggu, Tuan!"


"Kenapa lagi?" Eiger menoleh ke resepsionis yang menahannya untuk tidak masuk ke ruangan itu.


"Tamunya sudah pergi, Tuan."


Seketika langkahnya terhenti. Dia tidak menyangka bahwa secepat itu David membawa Bianca keluar dari restoran. Dia bahkan belum berbicara apa pun pada wanita itu.


"Sejak kapan?"


"Sekitar 10 menit yang lalu, Tuan.'


Eiger kalut. Harus mencari ke mana lagi keberadaan wanita itu? Eiger bergegas kembali ke tempat parkir. Tujuannya kali ini langsung ke kantor. Pasti David sudah di kantor sekarang.


Tidak kehilangan akal, Eiger lekas menghubungi Blerim. Pria itu pasti standby di kantornya sekarang.


"Halo, Eiger," sapa Blerim saat telepon tersambung.


"Halo, Uncle. Apakah uncle David ada di kantor?"


"David?" Sejenak Blerim sedang memikirkan pertanyaan Eiger. "Ah, tidak. Dia belum kembali. Bukankah dia sedang makan siang bersama Bianca?"


"Di sini tidak ada. Maksudku, sudah 10 menit yang lalu mereka meninggalkan restoran."


"Oh, ya ampun. Kau belum mendapatkan informasi apa pun?"


"Belum, Uncle. Kalau begitu aku tutup teleponnya. Kabari jika uncle David sudah kembali."


Eiger memasukkan ponselnya ke saku jasnya. Dia merasa kalau David tidak malah menolongnya, tetapi malah melakukan konspirasi kepadanya.


Eiger mencoba menyusuri jalanan yang mungkin dilalui oleh David atau siapa pun. Tak jauh dari restoran X, ada sebuah butik ternama. Eiger sempat melihat mobil David berhenti di sana. Mungkin sudah cukup lama juga sehingga pemiliknya dan seorang wanita yang dicarinya keluar dari sana. Tentunya dengan paper bag yang sangat banyak sekali.


"Dasar pria tua! Kalau sudah cinta, rupanya dia lupa untuk menyelesaikan rencanaku. Awas saja kalau kalian berdua bersekongkol!" gerutu Eiger.


Eiger akan terus mengawasinya. Ke mana mereka akan pergi. Eiger harus membuntutinya sampai mendapatkan jawaban pasti.

__ADS_1


__ADS_2