
Terkadang kita tidak bisa percaya penuh pada ucapan orang lain. Walaupun itu kerabatmu sendiri. Seperti yang dilakukan David hari ini. Seharusnya dia pergi ke kantor polisi bersama Eiger.
"Uncle, di mana uncle David?" tanya Eiger saat berada di meja makan.
"Sudah pergi sedari pagi. Kenapa?"
"Oh, ya ampun. Harusnya dia pergi ke kantor polisi bersamaku."
"Pergi saja sendiri. Kau punya buktinya, bukan. Cabut saja laporanmu. Semua pasti beres."
"Ya, baiklah." Eiger menarik napas berat.
"Sarapan dulu. Setelah itu pergilah. Kau hari ini mau ke mana saja?"
"Kantor polisi, apartemen, kemudian baru ke kantor," jelasnya.
"Kau singel, tetapi sangat sibuk!" ejek Blerim.
"Wajar, Uncle. Setidaknya aku tidak sibuk mengurusi satu wanita," pungkasnya.
Hal itu malah membuat Blerim tertawa renyah. Sementara Eiger baru saja menyendokkan makanan ke mulutnya. Sesekali dia memandangi pria paruh baya yang seakan hidupnya kesepian itu.
"Kau percaya kalau David akan bertahan lama dengan Bianca? Maksudku, hubungannya."
Eiger menggeleng. Selama tinggal bersama David, dia tidak terlalu banyak memahami pria itu. Namun, sedikit banyak ada beberapa hal yang menjadi acuan untuk berhadapan dengannya.
"Aku tidak tahu, Uncle. Menurutku itu tidak terlalu penting. Mau bertahan atau tidak, bukan urusanku."
Seusai sarapan pagi, Eiger kembali ke kamarnya. Rupanya ponsel Eiger berdering. Ada satu nama yang terus saja memanggilnya sedari pagi. Ponselnya memang sengaja ditinggal di kamarnya. Buru-buru diambil kemudian kemudian dilihatnya. Nama Elmer tertera di sana.
"Halo, selamat pagi," sapa Eiger setelah berhasil menggeser tombol hijau di ponselnya.
"Pagi, Eiger. Kau tidak lupa dengan janjimu, bukan? Hari ini Biana harus keluar dari penjara. Aku tidak mau tahu," omelnya dari seberang sana.
"Bagaimana kalau aku mengatakan kabar buruk?"
"Apa maksudmu? Kau tidak sedang mempermainkan aku, bukan?"
"Tidak. Ini kabar yang mengejutkan. Bisakah aku mengeluarkan anakmu dan memenjarakan anakmu yang lainnya?"
Pertanyaan Eiger membuat Elmer memijit pelipisnya. Walaupun dia tidak paham artinya, tetapi saat tahu Bianca tidak pulang dari semalam membuat Elmer mulai curiga.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Eiger. Lebih baik kita bertemu di rumah tahanan," usul Elmer.
"Baik. Tunggu 30 menit lagi aku akan sampai," pungkas Eiger kemudian mengakhiri panggilannya.
Eiger buru-buru mengambil beberapa barang yang perlu dibawanya. Dompet, ponsel, dan beberapa berkas yang perlu dibawanya. Tak lupa, dia bercermin sebentar untuk melihat penampilannya.
"Hemm, sudah rapi," ucapnya dalam hati.
Eiger melewati ruang keluarga, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Sepertinya Blerim juga sudah berangkat ke kantor. Tersisa dirinya saja yang masih berada di mansion.
Eiger bergegas mengendarai mobilnya. Tujuannya kali ini benar-benar padat. Dia harus mengurus Biana sampai gadis itu bebas.
Sementara Elmer yang sudah berada di tempat, terus saja menoleh ke sana kemari. Siapa tahu sebelum 30 menit, Eiger telah sampai. Namun, agaknya Elmer harus sedikit bersabar. Pasalnya, sampai 30 menit berlalu, Eiger juga tak kunjung datang.
"Jangan-jangan dia membohongi aku!" gerutu Elmer.
Hampir saja dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Eiger, sebuah mobil memasuki halaman rumah tahanan. Elmer langsung bisa mengenali pemilik mobil itu.
"Maaf membuatmu menunggu," kata Eiger saat berhadapan dengan Elmer.
"Kupikir kau akan ingkar janji," tegur Elmer.
"Tidak, tetapi apa Anda yakin tidak ingin mengetahui kebenarannya?"
"Kau jangan basa-basi, Eiger! Memangnya apa yang ingin kau tunjukkan padaku?"
Eiger menunjukkan rekaman saat Bianca dan David memesan kamar hotel. Gadis itu kemudian mengatakan bahwa dialah yang melakukan semua ini.
"Jadi, sebenarnya dia pelakunya?" tanya Elmer seakan tidak percaya.
"Maaf, Tuan Elmer. Aku tidak mau membahas ini. Lebih baik kita urus keluarnya Biana lebih dulu," ajak Eiger.
Eiger benar. Mengenai Bianca, nanti akan diurus Elmer saat pulang ke rumah.
Tidak mudah melepaskan Biana walaupun Eiger sudah mencabut tuntutannya. Butuh beberapa waktu untuk melakukan penyelidikan terhadap Biana sebelum gadis itu benar-benar bebas.
Setelah melalui beberapa prosedur, hingga akhirnya Biana dinyatakan bebas. Elmer merasa lega. Saat tahu putrinya keluar, dia langsung memberikan pelukan hangat padanya.
"Maafkan Daddy, Sayang. Daddy sempat tidak percaya padamu," ucap Elmer.
"Tidak apa-apa, Dad. Memangnya siapa pelaku sebenarnya?" Biana melepaskan pelukan daddy-nya saat tahu ada Eiger di dekatnya.
__ADS_1
"Entahlah, Daddy tidak tahu," ucap Elmer menyembunyikan kenyataannya. Dia tidak ingin kedua putrinya bertengkar. Sudah cukup dirinya menanggung beban kehilangan kedua istrinya.
"Eiger, kau di sini?" Perhatian Biana beralih pada lelaki itu.
"Iya, aku hanya mengantarkan Daddy-mu saja."
"Aku senang kalau kau ada di sini." Biana mencoba mendekati dan berniat untuk memeluk pria itu, tetapi Eiger menepisnya.
"Ini tempat umum. Lebih baik jaga sikap!" tegur Eiger.
Mereka keluar bersama dari kantor polisi. Saat berada di tempat parkir, Biana sebenarnya ingin ikut Eiger karena sudah merindukannya. Namun, Eiger menolak karena dia masih banyak urusan.
"Itu artinya, kau akan menyempatkan waktu untukku?" Biana berusaha memastikan.
"Tidak! Hubungan kita sudah berakhir. Jadi, tolong jaga sikapmu."
Elmer tidak bisa mencegah perilaku Eiger pada putrinya. Terlebih dia juga tahu bahwa Biana lah penyebab kekacauan ini.
Eiger pergi. Elmer dan Biana berada di dalam mobil yang sama. Wajah pria itu terlihat kesal sekali.
"Aku tidak tahu apalagi yang akan dilakukan oleh Bianca? Gadis itu mendadak datang kemudian memporak-porandakan ketenangan keluargaku. Walaupun aku bertanggung jawab penuh padanya, tetapi mengapa dia tega melakukan hal itu pada adiknya? Dan, dia juga sudah berani berhubungan dengan pria paruh baya itu," ungkap Elmer dalam hati.
"Dad, kenapa melamun? Ada apa?" tanya Biana saat melihat Elmer tidak lekas mengendarai mobilnya.
"Daddy sedang memikirkan Bianca."
"Oh, gadis itu. Kenapa lagi? Apa dia membuat Daddy kesal?"
Elmer menganguk kemudian mengantarkan putrinya kembali ke rumah. Hari ini Elmer tidak akan ke mana-mana selain bekerja dari rumah.
"Tidak. Sepertinya Daddy harus menikahkan gadis itu."
"Apa? Menikah? Setahu Biana, Bianca tidak memiliki kekasih. Mana mungkin dia mau menikah dengan lelaki pilihan Daddy."
Mengingat kata pilihan, Elmer tersenyum. Jika salah satu putrinya gagal mendapatkan keluarga Willard, tidak ada salahnya menikahkan putrinya yang lain. Rasanya seperti tidak akan kehabisan ide jika berhubungan dengan keluarga kaya itu.
"Nanti kau akan tahu sendiri. Pernikahan Bianca akan menjadi pernikahan paling spektakuler di negeri ini."
"Daddy, kenapa malah memprioritaskan Bianca? Aku cemburu!" Biana mengerucutkan bibirnya.
"Bukan kita yang memprioritaskan Bianca, Sayang. Bianca sendiri yang akan memprioritaskan kehidupan kita."
__ADS_1
Biana tidak tahu apa maksud daddy-nya. Namun, Biana yakin jika pria paruh baya itu memiliki rencana lain yang sangat mengejutkan.