
Arka terlihat sangat emosi saat Rey memeritahunya kalau Nira diam-diam memesan taksi online dan pergi ke rumah orang tuanya. Rey tahu dari pengawal yang berjaga di rumah Arka. Pengawal yang memang diam-diam ditugaskan oleh Arka untuk memberikan informasi yang bersangkutan dengan Nira.
"Beraninya dia melanggar laranganku!" geram Arka.
"Rey." panggil Arka.
"Iya, Tuan."
Setelah memanggil Rey Arka justru terdiam. Dia ragu dengan pertanyaan yang akan ia tanyakan pada Rey.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Rey saat melihat Arka melamun.
"Ehm,,! Apa kau pernah melihat dengan seksama asisten papa mertuaku?" tanya Arka.
"Maksud Anda papa mertua itu Tuan Hendra?" Rey balik bertanya.
Arka langsung menatap tajam Rey. "Memangnya aku punya berapa mertua?" ketus Arka, bagaimana bisa dia mempekerjakan Rey yang sangat lemot dalam berpikir. "Bagaimana?"
"Bagaimana apanya, Tuan?" Rey masih tak paham.
"Oh my God!" Arka sangat frustasi dan mengacak-acak rambutnya. "Kau,,," Arka sampai tak bisa berkata-kata lagi. Dia memilih bersandar sambil memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"Apa maksud Anda, Bayu?" tanya Rey tiba-tiba.
"Kenapa tidak dari tadi? Apa otakmu harus berputar-putar dulu sampai kau paham dengan yang aku maksud?" tanya Arka.
"Memangnya kenapa dengan Bayu, Tuan? Apa dia membuat masalah dengan Anda?" tanya Rey dengan wajah serius. Arka menggelengkan kepalanya.
"Lalu?"
"Tapi kau harus janji jangan menetawakanku!" sahut Arka dan Rey yang sangat penasaran hanya mengangguk.
"Siapa yang lebih tampan antara aku dan Bau itu?" tanya Arka.
"Tuan, apa Anda cemburu dengan Bayu?" tanya Rey sambil menahan tawanya.
"Aku butuh jawaban! Kenapa kau ganti memberiku pertanyaan?" ketus Arka.
Rey terdiam. Terbesit di pikirannya untuk mengerjai tuannya. Kapan lagi dia bisa mengusili tuannya yang selalu semena-mena padanya.
"Tuan ingin aku jujur atau tidak?" goda Rey.
"Ck, kenapa harus bertele-tele?" Arka berdecak kesal, dia merasa sedang dipermainkan oleh asistennya. Tapi tak apa demi mendapatkan sebuah jawaban. "Yang jujur." imbuh Arka.
__ADS_1
"Kalau aku menjawab lebih tampan Bayu, bagaimana?" tanya Rey dengan seringaiannya karena berhasil mengerjai tuannya yang sekarang wajanya terlihat memerah.
"Apa kau bilang?" Arka berdiri sambil menggebrak meja.
"Tuan jangan marah! Kan aku hanya menjawab pertanyaan, Anda." sungguh Rey ingin sekali tertawa terbahak-bahak.
"Kau aku pecat!" kata Arka dengan tegas.
Rey gelagapan. "Loh, kenapa, Tuan?" Rey kelimpungan sendiri. Niat hati ingin mengerjai tuannya, sekarang dia yang terkena masalah.
"Ok, aku ralat! Pastinya lebih tampan, Anda. Sangat jauh. Kalau diibaratkan bagaikan kucing anggora dan kucing jalanan." ralat Rey.
Arka berjalan mendekati Rey dan mencengkeram kerah kemejanya. "Kau menyamakanku dengan kucing?" tanya Arka dengan sorot mata tajam yang seakan menembus mata Rey dan masuk ke dalam tubuhnya, mengobrak-abrik jantungnya.
"Bu,, bukan, Tuan. Dengarkan penjelasanku dulu!" pinta Rey sambil perlahan melepaskan tangan Arka dari kerah kemejanya. Rey lalu merapikan kemejanya yang terlihat kusut.
"Kucing anggora kan sangat indah dengan bulu-bulu panjangnya. Sedangkan kucing jalanan itu kusam tak terawat." jelas Rey sambil sesekali menelan salivanya dengan sangat susah. Sangat keliru dia mencari masalah dengan Arka Wiratama. Niat hati ingin mengerjai, malah nyawanya yang berada di ujung tanduk. Terancam dipecat pula.
"Jadi maksudmu aku itu tampan mempesona, begitu? Sedangkan Bayu, kucel tak terawat?" Arka lalu membalikkan badan dengan senyum yang mengembang. "Kenapa tidak langsung kau bilang saja seperti itu? Kenapa harus mencontohkan dengan seekor kucing?" imbuh Arka dengan sangat percaya diri.
Terserah Anda mengartikannya bagaimana. Yang penting posisiku masih aman. Batin Rey. Dia merasa lega. Tapi memang tak bisa dipungkiri kalau Arka memang sangat tampan.
__ADS_1