Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
49. Selalu membuat emosi


__ADS_3

Arka melihat ke sekelilingnya yang semakin banyak orang melihat ke arah mereka. Bisa dipukuli oleh orang banyak kalau dia tidak segera membawa Nira masuk ke dalam mobil. Arka memegang kedua tangan Nira agar wanitanya itu berhenti memukuli dadanya. "Ok, kita bisa bicara baik-baik. Kau boleh melanjutkan aksimu setelah kita masuk ke dalam mobil!" kata Arka dan Nira pun menuruti kata suaminya.


Di dalam mobil,


Arka yang baru saja masuk lalu bersandar di jok mobil sambil mengusap wajahnya kasar. Ditatapnya Nira yang sedang mengusap sisa air mata dan dilihatnya raut wajah wanitanya yang diliputi kesedihan. Tidak seperti biasa, wanitanya yang selalu cerewet dan periang, berubah menjadi murung.


Apa yang telah terjadi denganmu? Batin Arka.


"Kenapa lihat-lihat? Belum pernah lihat orang menangis?" ketus Nira saat menyadari suaminya sedang menatapnya.


"Belum pernah." jawab Arka. "Aku belum pernah melihat orang jelek menangis dan membuatnya semakin terlihat jelek." ejek Arka.


Air mata yang baru saja mengering, kini mulai membasahi pipi Nira lagi. "Memang aku jelek! Aku tidak ada bagusnya di matamu! Lalu kenapa kau mau menikahiku? Kau cari saja sana wanita yang lebih cantik dan lebih segalanya dariku!" sungut Nira dengan tangis sesenggukan.


"Bukan, maksudku bukan seperti itu." jelas Arka sambil menggaruk tengkuknya. Niat hati hanya ingin menggoda istrinya, tapi malah menyinggung Nira dan membuat wanitanya menangis.


Oh my God! Kenapa jadi seperti ini? Kenapa dia sensitif sekali? Batin Arka, kali ini dia dibuat frustasi oleh istrinya.


"Apa kau sedang datang bulan?" tanya Arka di tengah tangisan Nira.

__ADS_1


Nira menatap suaminya sekilas. "Aku itu sedang menangis, bukan sedang datang bulan!" seru Nira masih dengan tangisnya. "Apa penglihatanmu itu sudah kabur?" imbuh Nira.


Arka mengangkat tangannya, ingin sekali ia jitak kepala Nira. Tadinya dia merasa iba, tapi ternyata dia salah, istrinya itu masih sangat cerewet dan selalu membuatnya emosi.


"Kau diamlah! Apa kau tidak malu menangis seperti itu?" sindir Arka karena Nira menangis seperti anak kecil.


"Ya sudah, aku keluar saja!" Nira hendak membuka pintu mobil tapi tangannya ditahan oleh Arka.


"Tetaplah di sini! Menangislah sepuasmu!" kata Arka sambil menutup kedua telinganya agar tak mendengar suara tangisan Nira yang membuat telinganya berdenging.


Arka yang tidak betah, membekap mulut Nira menggunakan tangannya. "****..!" umpat Arka saat tangannya digigit oleh Nira. "Kenapa kau menggigitku?" tanya Arka sambil mengibaskan tangannya yang terasa nyeri.


"Terserah kau saja! Aku pusing." Arka memijit kedua pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia lelah dan tak mau adu mulut dengan Nira yang akan membuatnya semakin emosi. Dia memilih menatap keluar jendela.


"Apa?" tanya Arka saat melihat tangan Nira menjulur di depannya.


"Tisue." jawab Nira.


"Ambil saja sendiri!" ketus Arka sambil melihat tisue yang berada tepat di depan istrinya.

__ADS_1


"Aku mau kau yang ambilkan untukku!" rengek Nira. "Atau kau mau aku membuang ingusku di mobil mewahmu ini?" ancam Nira dan bersiap-siap dengan menekan sebelah hidungnya.


Arka memejamkan matanya sambil membuang nafasnya. Dengan sangat malas dia meraih beberapa lembar tisue. "Ini!" Arka menyodorkan tisue itu. Dan dia baru ingat. "Apa ada sesuatu yang kau lupakan?" tanya Arka.


Nira yang mendapat pertanyaan dari Arka, lalu mencoba mengingatnya. "Ahh, iya, benar!" seru Nira sambil menepuk jidatnya.


Nira tak menggubrisnya. "Kau tunggu di sini sebentar!" perintah Nira sambil membuka pintu mobil. Dia sampai lupa dengan makan siang yang dibawanya untuk Arka.


"Kau mau ke mana?" tanya Arka.


"Mau ambil makan siangmu. Sepertinya tertinggal di dalam." jawab Nira.


"Tidak perlu! Selera makanku sudah hilang saat melihat kau sedang bermesraan dengan Bau itu!" terang Arka.


"Siapa yang bermesraan? Dia itu sedang menghiburku." jelas Nira.


"Cih! Apa menghibur harus dengan cara memegang bahumu?" Arka mendengus kesal saat mengingatnya.


Nira memajukan badannya dan menatap Arka dengan seksama. "Jangan bilang kalau kau cemburu?" goda Nira.

__ADS_1


"Kau terlalu berkhayal. Mana mungkin aku cemburu?" elak Arka sambil menyingkirkan jari telunjuk Nira yang berada di depan wajahnya.


__ADS_2