Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
63. Mengungkapkan


__ADS_3

"Sudahlah! Lupakan semua yang aku katakan tadi! Anggap saja aku tidak bicara apa-apa dan hanya terbawa emosi. Maafkan aku yang salah dan berharap lebih pada pernikahan ini. Seharusnya aku menyadarinya dan tak terbawa suasana." ujar Nira sambil memaksakan senyum pada pria di depannya. Dia melepaskan diri dari pelukan Arka, berjalan menuju balkon kamar.


Akhirnya Nira mengaku kalah, dia tak bisa lagi terus berpura-pura, mengelak pada perasaannya sendiri. Dia akui, dihatinya telah tumbuh rasa cinta pada suaminya. Dia tak tahu sejak kapan itu, tapi Nira bisa membedakan mana cinta dan mana yang bukan. Beruntunglah ini masih awal dan dia harus tahu batasannya. Menjaga jarak, mungkin itu jalan terbaik.


Ditengah lamunannya, dia dikejutkan oleh tangan kekar yang memeluk pinggangnya dari belakang.


"Kau tidak salah sama sekali." lirih Arka di telinga Nira. "Kita akan memulainya dari awal dan mempertahankan pernikahan ini." imbuh Arka lalu membalikkan tubuh Nira agar berhadapan dengannya, lalu dia menangkup kedua pipi Nira yang terlihat bengong. Diarahkannya wajah wanitanya agar menatapnya, menyelami perasaan masing-masing. Perasaan yang sulit untuk dijabarkan dengan kata-kata. Yang Arka rasakan, dia tidak mau kehilangan Nira, dia tidak bisa melihat Nira dekat dengan pria lain, dia tidak bisa jauh dari Nira karena bayang wajah istrinya selalu mengganggu pikirannya.


"Kau mendengarku?" tanya Arka karena Nira tak meresponnya.


"Ish, sakit!" Nira baru tersadar saat Arka menyentil keningnya.


"Apa kau mau?" tanya Arka dengan wajah serius.


Nira tak langsung menjawab, telapak tangannya terangkat ke atas, menempel di kening Arka. "Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" tanya Nira meyakinkan.

__ADS_1


"Lihat aku!" perintah Arka. "Aku serius dengan yang kukatakan." jawab Arka.


"Apa kau sudah mencintaiku?" tanya Nira lagi.


"Aku,, aku..."


"Jangan dilanjutkan!" potong Nira. Senyum yang semula mengembang, kini memudar setelah tahu kalau Arka belum yakin dengan perasaannya. Mungkin dia telah berharap lebih kalau Arka akan mengatakan cinta padanya.


"Ini sudah malam, aku lelah mau istirahat." Nira berjalan melewati Arka yang masih terdiam. Sedetik kemudian, dia kembali ditarik ke dalam dekapan hangat suaminya.


"Aku mencintaimu." Arka memeluk Nira dengan sangat erat sambil menghirup aroma wangi leher istrinya. Nira yang mendengarnya sampai tak bisa berkata-kata, lidahnya kelu dan tubuhnya terasa kaku.


"Arka, aku tidak bisa bernafas." keluh Nira karena suaminya itu memeluknya sangat erat sehingga dia tidak bisa bernafas.


"Kau itu kenapa banyak protes?" kata Arka lalu melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Setelah menghirup nafas beberapa kali, Nira lalu menatap lekat Arka. "Aku mau dengar sekali lagi." pinta Nira.


Arka membuang wajahnya. "Tidak ada siaran ulang." ketus Arka.


"Ayolah, aku ingin mendengarnya sekali lagi." rengek Nira layaknya anak kecil sambil terus memohon-mohon.


Arka yang sedang menatap Nira lalu menyeringai tipis. Tanpa aba-aba, dia mengangkat tubuh Nira.


"Arka, kau mulai lagi! Turunkan aku!" bentak Nira.


"Kalau hanya ungkapan kata-kata rasanya kurang, lebih baik kita buktikan dengan,," Arka tak meneruskan perkataannya saat dia membaringkan tubuh istrinya dengan sangat pelan ke atas ranjang.


"Tapi aku mau mendengarnya lagi." Nira memberanikan diri merangkul leher Arka, mengerlingkan mata kanannya.


"Jangan menggodaku." kata Arka sambil mengusap wajah Nira dengan lembut, memandang wajah wanitanya dengan seksama.

__ADS_1


Setelah puas memandang wajah Nira, dengan perlahan namun pasti dia mencium bibir Nira. Ciuman yang semakin menuntut itu terus turun ke leher milik Nira dan meninggalkan bekas kemerahan di sana. Setiap sentuhan Arka sungguh membuat Nira terbuai.


Keduanya pun larut dalam pergumulan panas yang entah sudah berapa kali mereka lakukan setelah menikah, mungkin tak terhitung jumlahnya. Yang pasti, untuk Nira dan juga Arka, malam ini sangatlah berbeda dibandingkan dengan setiap malam percintaan sebelumnya. Hati Nira sungguh berbunga-bunga saat dihujani kata-kata cinta dan sayang dari suaminya, yang tak pernah terucap dari bibir Arka sebelumnya. Sekarang berbeda, mereka telah menyadari perasaan masing-masing.


__ADS_2