Bukan Suami Pilihanku

Bukan Suami Pilihanku
52. Rumah Sakit


__ADS_3

Arka sangat frustasi saat percintaan panas mereka terhenti di tengah jalan dan tentunya tak tahu harus dia apakan miliknya sekarang ini. Tapi di sisi lain, dia tidak tega melihat Nira yang kesakitan dan itu terlihat jelas kalau istrinya tidak berbohong.


Wajah Arka berubah sangat cemas saat melihat wajah Nira yang pucat dan keningnya mengeluarkan bulir-bulir keringat dingin. Dengan segera dia mengenakan celana dan kemejanya.


"Bertahanlah!" Arka yang begitu panik langsung meraih selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya kemudian mengangkatnya dan membawanya keluar kamar. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan banyaknya pasang mata yang melihatnya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah rumah sakit terdekat.


"Kau yang bawa mobil!" perintah Arka pada salah satu petugas hotel.


"Baik, Tuan." jawab petugas itu patuh pada sang pemilik hotel tersebut.


"Arka, aku tidak kuat lagi." keluh Nira sambil mencengkeram erat lengan kemeja suaminya. "Kalau aku mati, kau akan menjadi duda. Apa kau akan mencari istri lagi?" seloroh Nira yang bisa-bisanya dalam keadaan sakit menggoda suaminya yang terlihat begitu panik.


Arka menatap Nira. "Ya, aku pasti akan mencari istri yang lebih cantik darimu. Maka dari itu, kau bertahanlah agar aku tak menjadi duda dan mencari istri lagi!" balas Arka, sebenarnya hatinya terasa tertusuk benda tajam saat Nira bicara tentang kematian, karena dia sangat tidak ingin kehilangan istrinya. Tanpa terasa dia mengecup kening Nira lalu mempererat pelukannya.


"Cepatlah sedikit!" perintah Arka dan mendapat anggukan dari petugas hotel yang duduk di kemudi.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, mobilnya telah sampai di sebuah rumah sakit. Arka memilih menggendong Nira sendiri saat ada seorang perawat laki-laki menawarkan bantuan. Dia tidak ingin ada yang menyentuh istrinya selain dia.


Nira hanya tertunduk malu saat menyadari dia hanya terbungkuskan selimut dari ujung kaki sampai dada saja. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Arka.


"Arka, siapa yang kau bawa?" tanya seorang dokter yang bernama Faradisa, terlihat dari nama tagnya.


"Jangan banyak tanya! Cepat kau periksa kondisinya!" perintah Arka. "Ingat, hanya kau yang boleh menyentuhnya! Jangan sampai ada dokter atau perawat pria yang berani menyentuhnya! Kalau melanggar, akan aku pecat kalian semua!" imbuhnya dan mampu membuat dokter dan perawat pria di sana mundur teratur.


"Baiklah! Kau tunggu di luar!" perintah dokter Fara lalu masuk ke dalam UGD.


Fara berdiri, berhadapan dengan Arka sambil bersedekap. "Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Fara dengan wajah serius.


"Aku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Siapa lagi kalau bukan kau? Masa cicak yang ada di dinding itu?" celetuk Fara sambil menunjuk seekor cicak. "Kau apakan dia?" tanya Fara dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


Arka tak menjawab, dia nampak berpikir harus menjawab apa. Tidak mungkin kan kalau dia bilang habis bercinta, lebih tepatnya baru setengah mereka bercinta? Mau ditaruh mana wajah tampannya. Bisa-bisa dia akan menjadi bahan tertawaan oleh dokter cantik di depannya itu.


"Arka, aku tanya padamu!" sentak Fara karena melihat Arka malah bengong. "Kau memperkosanya, ya?" tuduh Fara penuh selidik karena saat menangani Nira, dia membuka selimut yang membalut tubuh Nira dan mendapati tubuh Nira tanpa sehelai benang pun dan banyak sekali kecupan berwarna merah di tubuh itu. Membuat Fara membayangkan betapa ganasnya pria yang sedang berhadapan dengannya itu. Dan, dia baru tahu kenapa Arka memintanya agar dia yang memeriksa wanita yang Arka bawa.


Cetak.....


Arka menyentil jidat Fara yang sudah sembarangan bicara tentangnya. "Aku tidak memperkosanya." jelas Arka.


"Aku tidak percaya!" bantah Fara. "Setelah kau memperkosanya, kau memberinya makanan atau minuman apa? Kau sengaja mau meracuninya ya?" tuduh Fara lagi.


"Apa di matamu aku ini terlihat seperti penjahat kelamin yang meniduri semua wanita?" tanya Arka. "Aku tidak seburuk itu!" imbuhnya tak terima karena dia dituduh memperkosa Nira yang berstatus sebagai istrinya. "Dan aku bukan orang yang setega itu mau mencelakai is..."


"Is, apa? Kenapa tak kau lanjutkan?" tanya Fara saat Arka tak melanjutkan kata-katanya yang terakhir. "Di mataku kau seperti itu. Nyatanya kau juga asal tanam benih sampai lahirlah Geo yang tak tahu dari wanita mana." ketus Fara yang keceplosan langsung menutup mulutnya tanpa berani menatap Arka.


"Sory,," Fara mengacungkan jari telunjuk dan tengah tanda damai.

__ADS_1


__ADS_2