
Nira keluar dari restoran sambil berlari kecil. Dia lalu masuk ke dalam mobil, di mana suaminya sedang menunggunya.
"Apa kau sudah sempat makan siang?" tanya Nira sambil melirik Arka.
"Sudah." jawab Arka.
Kruukk,, kruukk,,
"Cih! Ternyata lidahmu bisa berbohong, tapi suara perutmu itu tidak bisa, Tuan Arka." cibir Nira sambil melirik Arka. "Apa benar kau tadi pagi tidak sarapan?" tanya Nira sambil sibuk membuka bungkus makanan untuk Arka.
Arka hanya menggelengkan kepalanya. Seakan tenaganya telah terkuras habis.
"Makan siang?" tanya Nira lagi.
"Apalagi makan siang." jawab Arka dengan ketusnya mengingat istrinya itu melupakan makan siang yang harus diantar kepadanya.
Nira menghentikan kegiatannya dan kini dia memiringkan tubuhnya menghadap Arka. "Lalu kenapa kau berada di sini kalau bukan makan siang?" tanya Nira. "Kau diam-diam membuntutiku ya?" tuduh Nira.
"Apa aku ini orang yang kurang kerjaan yang sampai harus mengikuti orang yang sedang,,"
"Sedang apa?" potong Nira. "Jangan banyak bicara! Sekarang, kau cepat makan!" perintah Nira sambil memberikan makanan untuk suaminya.
"Suapi aku!" perintah Arka.
__ADS_1
"Ish, kau itu! Apa tidak bisa makan sendiri?" tanya Nira "Buka mulutmu!" Nira pun dengan terpaksa menuruti suaminya yang memintanya untuk menyuapi. Dan pastinya tanpa mata berkedip, menatap wajah Arka yang sangat dekat dengannya. Wajah tampan yang selalu hadir dalam mimpinya.
Setelah selesai makan, Arka segera menjalankan mobilnya karena sudah terlalu lama terparkir di depan restoran.
"Arka." panggil Nira.
"Hmm," jawab Arka tanpa menoleh.
"Maaf karena telah melupakan makan siangmu." ucap Nira yang memang sangat merasa bersalah pada suaminya.
"Hmm.." Arka hanya ber-ehem ria.
Nira yang dari tadi hanya mendapat jawaban hmm dari Arka, langsung memanyunkan bibirnya.
"Untuk?" tanya Arka.
"Karena kau, perusahaan papaku sudah kembali normal." jawab Nira.
"Itu hanya masalah kecil untukku." ujar Arka dengan sombongnya.
"Kau itu sombong sekali." gerutu Nira.
Dengan wajah bingung, Nira baru menyadari kalau jalan yang dilalui bukanlah arah ke kantor atau pun ke rumah. Diam-diam Arka melirik Nira dari sudut matanya sambil menyeringai tipis.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar sepuluh menit, mobil mereka berhenti di sebuah hotel bintang lima.
"Arka, untuk apa kau ke sini?" tanya Nira masih dengan wajah bingungnya. Arka tak menjawab, dia lalu keluar dari mobil dan memberikan kuncinya pada petugas. Begitu pun Nira yang ikut keluar dari mobil.
"Ayo!" Arka menarik tangan Nira, membawanya masuk ke dalam hotel.
"Arka, kau belum menjawab pertanyaanku!" seru Nira.
Arka menghentikan langkahnya, memutar badannya menghadap Nira. "Rasa terima kasihmu, tunjukkan di dalam nanti." bisik Arka di telinga istrinya dan membuat Nira langsung mempunyai firasat buruk yang akan terjadi padanya. Nira melangkah mundur, ingin melarikan diri dari suaminya. Tapi ternyata terlambat saat tubuhnya sudah melayang di udara.
"Arka, turunkan aku!" berontak Nira yang kini berada di pundak suaminya bagaikan sekarung beras.
Arka membawa Nira menuju lift, tentunya tanpa melakukan reservasi terlebih dahulu karena hotel itu adalah milik keluarga Wiratama.
"Tolong! Dia menculikku." teriak Nira pada beberapa petugas yang ada di sana. Tapi teriakannya tak ada artinya, mereka jelas takut dengan pemilik hotel tersebut. Dan akhirnya Nira hanya pasrah saat pintu lift telah tertutup.
.
.
.
Maafkan dirimu yang kemarin malam tidak up, catik-cantikku semua. Author dari kemarin sakit gigi. π’π’π’π’. Jadi nggak bisa nulis. Ambyar semua...
__ADS_1
Salam sayang dari emak-emak satu ini.. ππππ