
Nira yang bersandar di pintu mobil, menatap Arka yang kini berjalan ke arahnya.
"Apa kau menunggu lama?" tanya Arka sambil mengecup kening istrinya dan memeluknya sebentar.
Sedangkan yang ditanya hanya mengangguk sambil mengunyah roti yang ia pegang, roti yang dibelikan oleh asisten suaminya karena dia merasa lapar karena menunggu Arka.
Arka tersenyum melihat istri tercintanya yang terlihat lucu dengan pipi menggembung. "Apa kau sangat lapar?"
"Iya. Entahlah, setelah tadi disuapi oleh dokter Rain, sekarang aku jadi mudah lapar." jawab Nira, tanpa dia sangka jawabannya membuat senyum diwajah Arka meredup.
Nira pun bisa menyadari itu. "Jangan cemburu! Tadi pagi itu sungguh keinginan baby kita. Dan aku sama sekali tidak menyukai dokter Rain. Hanya ada kamu di hatiku." Nira menggombali Arka dan membuat hati Arka berbunga-bunga.
"Aku tidak menyukainya, hanya sekedar mengagumi saja." lanjut Nira dan bunga yang semula bermekaran di hati Arka, layu seketika.
"Menyukai dan mengagumi hanya beda tipis." ketus Arka.
__ADS_1
"Bercanda, Arka ku sayang." rayu Nira sambil mengusap pipi tampan suaminya.
Terdiam cukup lama, Nira lalu berucap. "Arka, apa kau tidak mau merubah keputusanmu? Apa kau tidak mau mencabut laporanmu saja?" lirih Nira.
Arka menghela nafasnya pelan. Itulah yang dia suka dari Nira, berhati lembut dan pemaaf. Tapi keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat.
Arka memegang kedua pundak Nira dan menatapnya lekat. "Sayang, biarkan ini menjadi pelajaran untuk Mira." hanya ini yang bisa dikatakan Arka. "Apa kau lupa apa yang telah dilakukan Mira padamu? Dia merencanakan menggagalkan pernikahanmu dengan merebut calon suamimu. Sekarang, dia mau merusak rumah tangga kita." jelas Arka, agar Nira ingat semua yang dilakukan Mira padanya.
"Apa maksud kalian?" terdengar suara berat dari arah belakang. Serempak Nira dan Arka menoleh.
"Apa maksud ucapanmu tadi, Arka?" sela mami Rita yang kini juga berdiri tepat di samping tuan Hendra.
Arka dan Nira hanya saling pandang. Karena memang Nira menyembunyikan kenyataan kalau Mira lah yang membuat pernikahannya dengan Saka batal. Nira juga belum memberitahu kalau Geo, putra Arka adalah anak kandung dari Mira.
Tanpa meminta persetujuan dari Nira, Arka mulai menceritakan semuanya pada papi dan mami mertuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tentang dulu Mira pernah menjebaknya hingga lahirlah Geo, tentang Mira yang merebut Saka dari Nira dan membuat pernikahan Nira batal, yang terakhir Mira membuat video panas palsu, hingga Arka bisa membuktikannya kalau pemeran itu bukanlah dirinya. Itu hanyalah editan. Alasan video itu dibuat, agar Nira dan Arka berpisah. Itu alasan Mira.
__ADS_1
Tuan Hendra memejamkan matanya, tangan kanannya memegang dada sebelah kiri yang terasa amat nyeri.
"Pi,,! Papi kenapa?" Nira langsung menyambar lengan papinya, cemas dan panik yang dirasakannya.
Tuan Hendra mengusap tangan Nira. "Papi baik-baik saja." jelas tuan Hendra. "Papi hanya tidak menyangka kalau kakakmu akan berbuat sampai sejauh ini." lirih Hendra, matanya pun merah dan berkaca-kaca. Dosa apa yang telah ia perbuat sampai putrinya Mira bisa melakukan hal-hal licik seperti itu.
"Pi, sabar." mami Rita hanya bisa mengucapkan itu untuk menguatkan suaminya. Dia sendiri tahu kalau sejak awal Mira tidak menyukainya, tapi dia memilih diam dan tetap bersikap baik pada Mira, bahkan dia tidak pernah membeda-bedakan antara keduanya.
"Lebih baik kita temui Mira sekarang, Pi. Bagaimana pun, Mira putri kita. Hanya kita yang dia punya." ujar mami Rita dan dijawab anggukan oleh tuan Hendra.
"Arka, atas nama Mira, Papi mohon maaf yang sebesar-besarnya." ucap Hendra dengan tulus, tangannya menepuk-nepuk lengan menantumya. "Papi tidak meminta kau untuk mencabut laporanmu. Biarlah hukuman ini berjalan sebagaimana mestinya. Ini yang terbaik untuk Mira." imbuh tuan Hendra.
"Terima kasih untuk pengertiannya, Pi." Arka memeluk papi mertuanya sebentar. Tidak disangka, dengan besar hati papi Hendra mendukung keputusannya.
"Kalian pulanglah! Jangan sampai Nira kelelahan. Kasihan calon cucuku." saran tuan Hendra. "Papi dan Mami masuk dulu." pamitnya, lalu berjalan ke dalam kantor polisi, dimana Mira berada.
__ADS_1