
Sedangkan di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah hotel bintang lima. Arka yang sudah tidak sanggup lagi menahan hasratnya untuk segera mengggempur Nira, menjatuhkan pilihannya di hotel. Karena kalau harus di rumah, akan memakan waktu yang lama untuk sampai.
"Arka, kau keterlaluan!" berontak Nira saat Arka baru menurunkannya dari gendongannya setelah memasuki kamar hotel.
Tanpa menjawab, Arka langsung membungkam bibir milik Nira. Menciumnya dalam-dalam, menahan tengkuk Nira agar tak ada celah untuk Nira menyudahinya.
Selepas ciuman itu, Nira terlihat mengatur nafas berkali-kali. "Arka..."
"Kenapa? Jangan bilang kalau kau sakit perut lagi!" ketus Arka saat mengingat dulu, di mana baru setengah jalan, Nira menghentikan percintaan mereka karena sakit perut.
Nira pun tergelak mendengarnya. Dia ingat betul bagaimana wajah suaminya yang sangat frustasi waktu itu. "Kali ini bukan sakit perut, tapi aku lapar." jelas Nira, karena roti yang tadi ia makan bukan apa-apa untuk menambah tenaganya. Dia harus benar-benar menyiapkan tenaga ekstra sebelum Arka menggempurnya habis-habisan.
Arka hanya bisa mengusap wajahnya kasar lalu meraih gagang telepon dan memesan banyak menu makanan untuk istrinya.
Setelah menunggu beberapa saat, makanan pun telah diantar.
"Cepat makan!" ketus Arka karena lagi-lagi istrinya itu ada saja alasan untuk menunda-nunda percintaan panas mereka. Termasuk si othornya juga tidak sabar untuk menyaksikan pertempuran mereka di atas ranjang. Hahahahaa..
__ADS_1
Arka hanya menatap sang istri yang makan dengan lahapnya sampai melupakan dirinya, bahkan tidak menawarinya sama sekali.
"Sudah kenyang?" tanya Arka saat melihat Nira menyandarkan tubuhnya di sofa sambil mengusap perut.
"Sangat kenyang. Makanan di hotel ini sangat enak." jawab Nira.
Arka pun menyeringai tipis. "Berarti sudah bisa kita mulai?" Arka meminta persetujuan.
Namun, jari telunjuk Nira bergerak ke kanan dan ke kiri menandakan kalau belum waktunya.
"Kenapa?" tanya Arka kesal.
Arka berdecak. "Kau itu terlalu banyak alasan!" protes Arka. "Aku beri waktu lima belas menit! Aku mau mandi sebentar, setelah aku keluar, aku tidak mau ada alasan apapun lagi yang keluar dari mulutmu!" tegas Arka lalu masuk ke bathroom meninggalkan Nira yang sedang tersenyum puas karena berhasil mengerjai suaminya.
Dan tepat lima belas menit kemudian, Arka keluar dari bathroom hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Tidak perlu pura-pura tidur! Aku tahu kau bohong!" cibir Arka saat melihat Nira yang berbaring di sofa dengan mata terpejam.
__ADS_1
*Ternyata sangat susah mempunyai suami yang sulit dibohongi. Gerutu Nira dalam hati. Dia lalu membuka matanya dan kaget saat melihat Arka berdiri tepat di depannya.
"Kenapa hanya memakai handuk?" protes Nira.
"Agar cepat membukanya." jawab Arka dengan santainya.
"What?" Nira membelalak.
"Kenapa masih malu-malu? Bukankah kau sudah terbiasa melihatnya? Bahkan kau sering memegangnya." ujar Arka tanpa disensor mulutnya. Membuat otak othor ternodai karena ikut membayangkannya. ππ
"Kau!" Nira yang jengkel dengan mulut suaminya lalu mencubit pinggang Arka dengan keras.
"Sakit, sayang." rengek Arka, hanya berbohong karena cubitan Nira tidak berasa sama sekali.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arka menggendong Nira. Bibir mereka pun beradu dengan hisapan-hisapan lembut. Arka membawa Nira ke ranjang, tanpa melepaskan ciuman yang sudah mampu membuat hasratnya semakin naik.
Kecupan-kecupan yang meninggalkan bekas merah didaratkan ke seluruh tubuh istri tercintanya. Sebelum penyatuan, Arka mencium lebih dulu perut Nira.
__ADS_1
"Papa akan menengokmu, sayang." ucap Arka sambil tersenyum lalu kembali menciumnya lagi membuat Nira menghangat, melihat bagaimana sayangnya Arka pada calon baby mereka.
Dan akhirnya, pergulatan panas di atas ranjang pun terjadi. Suara jeritan Nira yang memanggil-manggil nama Arka menggema diseluruh ruangan luas itu. Kamar hotel itu menjadi saksi bisu bagaimana Arka terus menggempur Nira tanpa kenal lelah. Setelah keduanya mencapai puncak, Arka kembali mengulanginya lagi dan lagi. Tentunya pelan-pelan, mengingat ada baby di perut istrinya.