
Beberapa hari kemudian,
Sudah tiga hari ini Nira pulang dari rumah sakit. Di hari pertama, dia tidak diperbolehkan beraktivitas apa pun oleh Arka. Bahkan hanya sekedar mau turun dari ranjang saja harus ada perdebatan sengit antara pasangan suami istri itu. Ditambah lagi Arka memutuskan untuk bekerja di rumah membuat Nira tak bisa berkutik karena mendapat pengawasan penuh.
Dan sekarang adalah hari ketiganya yang tak jauh beda dengan hari pertama dan keduanya.
"Kau sudah melanggar lagi." kata Arka yang baru saja masuk ke dalam kamar dan mendapati istrinya sedang jalan mondar-mandir.
"Arka, aku ini sudah sembuh. Lihat!" Nira memutar tubuhnya agar Arka percaya kalau dia sudah pulih. "Pantatku panas kalau harus duduk di ranjang terus, Tuan Arka yang menyebalkan." ketus Nira dengan bibir manyunnya.
Arka berjalan mendekati Nira dan berdiri tepat di depan istrinya, sangat dekat, mungkin hanya berjarak sepuluh cm saja. "Kau bilang tadi pantatmu panas? Apa mau aku,,," Arka tak meneruskan kata-katanya, dia hanya tersenyum sambil tangannya kini berada di pantat istrinya.
"Arka, kau..." Nira mendengus kesal dan mendorong dada bidang suaminya agar menyingkir dari hadapannya.
"Dan sesuai dengan kata-kataku kemarin, karena kau melanggarnya, maka kau akan aku hukum." ujar Arka dengan menarik sudut bibirnya. "Kau tinggal pilih tiga hukuman yang aku katakan padamu kemarin." imbuhnya lalu duduk di sofa sambil menunggu jawaban dari Nira.
Nira belum menjawab, dia hanya mendengus kesal saat mengingat tiga pilihan yang diajukan oleh Arka kalau dia kedapatan turun dari tempat tidur. Pertama, membantu Arka mandi. Kedua, bercinta. Ketiga, mandi bersama. Sungguh ketiganya tidak ada yang ingin Nira pilih. Dan bukankah ketiganya semua sama, yang akan berujung pada percintaan panas?
Apa isi otak pria satu ini hanya bercinta dan bercinta? Batin Nira sambil melirik Arka. "Apa tidak ada pilihan lainnya?" tanya Nira. "Lagi pula aku kan hanya turun dari tempat tidur, tidak keluar kamar." imbuhnya.
__ADS_1
Arka merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. "Ok, aku akan memutar video ini agar kau tak lupa akan janjimu." ucap Arka yang kemarin sengaja merekam perjanjian antara dia dan Nira.
"Ok, aku ingat." sahut Nira dengan wajah kesal.
Arka berjalan ke kamar mandi dan berhenti di pintu. "Cepatlah! Bantu aku mandi." perintah Arka yang disusul oleh Nira dengan menghentak-hentakkan kakinya. Nira sudah menduganya kalau akhirnya dia akan dihajar di atas ranjang oleh suaminya.
Arka yang sudah berada di dalam kamar mandi lalu melepas kaos yang ia kenakan, membuat Nira menutup kedua matanya dan langsung membalikkan badannya. Jangan sampai kalau dia melihat tubuh suaminya, bisa-bisa dia lepas kendali dan langsung menerkam suaminya.
"Bagaimana mau membantuku mandi kalau kau menghadap ke sana?" tanya Arka.
"Aku,, aku malu." jawab Nira dengan gugup.
Oh my God, aku bisa pingsan kalau terus seperti ini. Batin Nira.
"Buka matamu!" perintah Arka.
"Tidak!" tolak Nira dengan tegas.
Dan terjadilah perdebatan di dalam kamar mandi. Dan berakhir dengan Arka mengerjai Nira habis-habisan. Setelah puas mengerjai istrinya di dalam kamar mandi, kini Arka sudah membawa Nira ke atas ranjang dengan posisi tubuhnya mengungkung Nira yang terlihat menggigil kadinginan karena ikut mandi bersamanya. Nira menatap suaminya yang hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
__ADS_1
"Apa kau kedinginan?" tanya Arka.
"Kau sangat keterlaluan." umpat Nira.
"Kau tenang saja, aku akan menghangatkanmu." ucap Arka. "Kita lanjutkan yang sempat tertunda waktu di hotel." bisik Arka di telinga Nira. "Apa kau tahu? Aku sangat tersiksa waktu itu."
Arka lalu mengecup kening Nira kemudian turun ke bibir merah muda milik Nira. Cukup lama mereka berciuman.
"Arka, ini masih siang." Nira mendorong wajah Arka agar menyudahi ciuman panas mereka.
"Lalu kenapa?" tanya Arka dan hendak mencium Nira lagi tapi didorong lagi oleh istrinya.
"Bagaimana kalau..,"
"Kalau apa?" potong Arka saat Nira terlihat ragu untuk melanjutkan perkataannya.
"Mmm,, bagaimana kalau aku sampai hamil?" tanya Nira. Dia takut kalau dia hamil dan akan dicampakan oleh Arka setelahnya mengingat tidak ada cinta dalam pernikahan mereka. Nira sendiri juga tahu niat yang mendasari Arka mau menikahinya.
"Kalau kau hamil? Sudah pasti aku akan meninggalkanmu." sahut Arka asal tanpa memikirkan bagaimana perasaan Nira saat mendengarnya.
__ADS_1
Keduanya pun larut setelah tubuh mereka kembali bersatu. Arka seakan melampiaskan percintaan yang sempat tertunda saat Nira sakit. Dia melakukannya tak cukup hanya satu kali. Bahkan Nira sampai tertidur karena kelelahan. Dan untuk ketiga kalinya, Arka mencapai pelepasannya lalu ikut tumbang di samping tubuh istrinya. Mereka pun tertidur sampai petang.