
Di sebuah perusahaan, seorang presdir sedang duduk sambil memijit kedua pelipisnya.
"Tuan, apa hubungan Anda dengan Nona Nira sudah baikan?" tanya Rey, karena dia lah yang menjadi sasaran tempat curhat Arka setiap harinya.
"Lumayan." jawab Arka singkat tanpa menatap Rey. "Setidaknya aku bisa tidur sekamar, walau pun harus tidur di sofa." ujar Arka yang membuat Rey hampir tertawa lepas. Tidak disangka, tuannya yang terlihat dingin dan tegas di depan para karyawan, nyatanya di rumah ditindas oleh sang istri. Lebih tepatnya suami-suami takut istri.
Rey kini menatap tuannya dengan serius. "Apa aku harus bertindak?" tanya Rey sambil mencondongkan tubuhnya ke depan.
Arka menggelengkan kepalanya. "Belum saatnya." jawab Arka, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Terdengar ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Arka meraih ponselnya dari atas meja kerja. Keningnya berkerut saat melihat nomor yang tak dikenalnya.Tangannya terlihat gemetar sambil mencengkram erat ponsel itu. Wajahnya terlihat memerah akibat menahan amarah yang siap meledak bagaikan bom waktu.
"Tuan, Anda baik-baik saja?" tanya Rey saat melihat tuannya sedang tidak dalam keadaan baik.
"Memangnya, apa yang sedang Anda lihat?" tanya Rey lagi. Dia penasaran, karena sebelum tuannya membuka sebuah pesan, telihat masih baik-baik saja.
Dengan gelagapan, Rey menangkap ponsel tuannya yang dilemparkan ke arahnya. Rey membuang nafasnya lega karena ponsel mahal itu bisa ia tangkap. Kalau tidak, gajinya bisa dipotong untuk membayar ganti rugi.
Dengan raut wajah penasaran, Rey melihat apa yang membuat tuannya geram. Hampir saja ponsel itu lepas dari genggamannya saat melihat sebuah video adegan di atas ranjang.
__ADS_1
Rey kemudian menatap Arka sambil menelan ludahnya kasar. "Tuan.." panggil Rey, namun Arka hanya diam tak menjawab. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ponsel Anda, Tuan." Rey memberikan kepada pemiliknya saat ada panggilan masuk.
Dengan cepat Arka menyambar ponselnya lalu menggeser tombol hijau. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun. Arka hanya mendengarkan apa yang sedang dikatakan oleh orang yang menelfonnya.
"Tuan,," Rey memanggil Arka setelah tuannya itu mematikan sambungan telefon. Ingin sekali dia bertanya, tapi dia takut menjadi sasaran amarah tuannya dan dia memilih untuk diam saja.
"Aku harus pulang." tanpa menunggu jawaban dari asistennya, Arka menyambar jasnya dan berjalan cepat menuju pintu.
Rey hanya memutar kepalanya mengikuti langkah tuannya yang sudah keluar dari ruangan. "Tuan kenapa? Apa yang menelfonnya tadi Nona Nira? Kenapa begitu terburu-buru?" Rey hanya bisa bertanya-tanya. Karena bukan kebiasaan tuannya meninggalkan setumpuk pekerjaan begitu saja.
Rey masih terdiam sambil kembali mengingat sebuah video yang sempat ua lihat dari ponsel tuannya. "Wanita gila!" umpatnya.
.
.
"Pak Rahmat, Nira dimana?" tanya Arka.
__ADS_1
"Sepertinya di kamar, Tuan." jawab pak Rahmat.
Arka berlari kecil menuju tangga dan menapakinya dengan cepat, seolah tak sabar untuk segera menemui istrinya.
"Sayang." panggil Arka saat membuka pintu kamar. "Nira sayang.." panggilnya lagi saat tak ada sahutan.
Saat tidak ada tanda kalau Nira di dalam kamar, wajahnya langsung terlihat takut dan panik. Sejenak dia mematung di ambang pintu dan setelah tersadar, Arka langsung memutar badan. Dia kembali ke lantai bawah dengan teriakannya memanggil-manggil nama istrinya.
"Tuan, ada apa?" pak Rahmat berlari mendekati tuannya yang terlihat sangat panik dengan menanggil nama nonanya.
"Nira tidak ada di kamar, Pak." jawab Arka sambil menatap ke setiap sudut ruangan berharap menemukan istrinya.
Baru kali ini pak Rahmat melihat tuannya yang seperti takut kehilangan seseorang. Bahkan dapat ia lihat dengan jelas kalau mata Arka memerah dan sedikit berkaca-kaca.
"Apa Nira terlihat keluar rumah?" tanya Arka sambil mengusap wajahnya kasar.
Pak Rahmat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tuan." jawab pak Rahmat ragu. Karena tidak setiap detik, setiap menit, dia memperhatikan nonanya keluar dari kamar atau tidak. Bahkan kalau nonanya keluar rumah, juga tidak tahu karena pak Rahmat sendiri harus mengerjakan tugas utamanya di rumah itu.
.
__ADS_1
.
Maafkan diriku yang baru bisa up, sayang-sayangku semua. Harap maklum ya... ππ salam sayang dariku.. πππ