
Dan tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, kandungan Nira kini telah berusia delapan bulan. Tinggal menunggu beberapa minggu lagi, dia akan melahirkan baby yang sangat dinanti-nanti oleh kedua keluarga.
Di sinilah mereka sekarang berada, di rumah keluarga Hendra, rumah kedua orang tua Nira.
"Pa, untuk apa kita ke sini?" tanya Geo setelah turun dari mobil.
"Kita mengunjungi opa dan oma." jawab Arka, dia berniat membawa dan memperkenalkan Geo pada papi Hendra dan mami Rita. Karena sebelumnya, Arka selalu melarang Nira yang ingin membawa Geo untuk dikenalkan dengan mertuanya.
"Cucu, Oma." mami Rita berlari kecil dan sangat antusias melihat kedatangan cucunya. Dia lalu memeluk Geo dan mengecupi pucuk kepala bocah tampan itu.
"Kau sangat tampan." puji mami Rita karena memang Geo mewarisi ketampanan dari Arka dan jangan lupakan sikap dinginnya juga diwarisi dari papanya.
"Opa juga mau dipeluk." protes papi Hendra tak mau kalah. Dia langsung mengangkat Geo dan menggendongnya. Menciumi pipi cucunya bertubi-tubi tanpa tahu kalau Geo sudah pasang wajah cemberut. Dia memang paling tidak suka kalau ada yang menciumnya. Bahkan oma Sovi saja sangat jarang menciumnya.
"Kapan kita masuknya?" protes Nira pada papi dan maminya. Nira sengaja melakukan itu agar Geo terlepas dari jeratan opa dan omanya yang terlihat sangat gemas. Nira paham dengan Geo karena beberapa kali Geo meliriknya seakan meminta pertolongan.
"Ayo, sayang." ajak Nira pada Geo, tangannya terjulur.
"Geo sama Oma saja." sahut mami Rita dan segera menyambar tangan mungil Geo.
"Kau lihat wajah Geo?" bisik Nira pada Arka dan dibalas anggukan oleh Arka.
Arka terus menatap Geo dari belakang. Ada rasa sesal dalam hatinya, kenapa baru sekarang dekat dengan Geo. Setelah menikah, Nira lah yang selalu memintanya untuk memperhatikan putranya itu. Nira selalu membujuk agar Arka sering berkomunikasi dengan Geo, lebih memperhatikan dan meluangkan waktu untuk Geo. Dan akhirnya, sekarang dia sangat dekat. Karena dulu, Arka sering mengacuhkan Geo karena menurutnya Geo adalah sebuah kesalahan.
Tapi sekarang, Nira mampu menyadarkannya betapa sesungguhnya dia sangat menyayangi Geo. Tidak ada kata terlambat! Arka berjanji akan menebus waktu yang telah ia sia-siakan bersama putranya dulu.
"Melamun apa?" Nira membuatnya kaget.
Arka tidak menjawab, dia justru tersenyum dan malah menarik Nira ke dalam pelukannya. Walaupun pelukan itu tak serapat dulu, karena sekarang terganjal perut Nira yang sudah membesar.
__ADS_1
"Terima kasih." ucap Arka.
Nira menautkan kedua alisnya karena bingung. "Untuk?"
"Semuanya." jawab Arka lalu mengecup sekilas bibir istrinya.
"Ish, bagaimana kalau ada yang lihat?" Nira menepuk dada bidang Arka sambil menengok ke kanan dan kiri, memastikan kalau memang tidak ada orang di sana. Arka hanya tersenyum lalu mengajak Nira masuk ke dalam.
Di saat Geo bermain bersama mama Rita, Nira, Arka dan papinya duduk di ruang tengah.
"Pi, maafkan aku." Nira memohon. "Karena aku, kak Mira jadi seperti ini." wajah Nira berubah jadi sedih mengingat beberapa hari yang lalu dia menjenguk Mira bersama Arka, tentunya atas kemauannya. Nira lihat, sekarang kakaknya terlihat lebih kurus dan wajah yang kusut tak terawat. Itu membuatnya sangat terusik. Tapi di sisi lain, dia bahagia karena Mira telah berubah.
Ya, Mira berbesar hati dan berdamai dengan kenyataan. Membuang semua ambisinya. Ambisi yang hanya membuatnya semakin menjatuhkan harga dirinya, terperosok ke dalam lembah hitam. Kini dia menata hati untuk menjadi lebih baik lagi. Kini dia juga telah minta maaf pada Nira dan Arka. Menitipkan Geo pada Nira yang menurutnya lebih pantas mendidik putranya.
"Nak, tidak ada yang salah denganmu. Mira lah yang sudah bertindak keterlaluan. Biarkan ini menjadi pelajaran untuknya dan semoga dia bisa berubah menjadi lebih baik lagi." ujar papi Hendra. Nira yang mendengar itu langsung memeluk papinya, lega setelah mendengar ucapan papinya.
"Aku sayang, Papi." ucap Nira dengan tulus dari lubuk hatinya dan papi Hendra hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala putrinya. "Dan untunglah, Kak Mira sekarang berubah." lirih Nira dan papinya menganggukkan kepalanya.
"Papi mau bermain dengan Geo dulu. Kalau kalian lelah, istirahatlah di kamar." ucap papi Hendra lalu meninggalkan Nira dan Arka.
Setelah papi Hendra pergi, Nira mengusap tengkuknya karena suasana di sekitarnya menjadi aneh. Apalagi tatapan suaminya yang tidak bisa ia artikan dengan kata-kata.
"Kau kenapa, sayang?" tanya Nira memastikan kalau suaminya itu baik-baik saja. Namun yang ditanya hanya diam saja tanpa menjawab sepatah kata pun. Padahal beberapa menit yang lalu, suaminya itu masih bersikap romantis padanya.
"Katakan, kau kenapa?" Nira mengulangi pertanyaannya setelah berpindah duduk di samping Arka.
"Aku tidak suka kau mengucapkan kata sayang pada siapa pun. Kata sayang itu hanya harus ditujukan padaku!" tegas Arka tanpa menatap Nira.
Nira yang baru paham arah pembicaraan Arka, hanya bisa membuang nafasnya pelan. "Arka ku sayang, dia itu papiku. Apa salahnya aku mengucapkan sayang padanya?" tanya Nira.
__ADS_1
"Tetap saja salah!" seru Arka.
Nira mengusap dadanya agar sabar menghadapi suaminya yang ternyata sangat cemburuan. Dan anehnya, papinya yang dicemburui.
"Dan satu lagi! Jangan asal main peluk-peluk. Kau hanya boleh memelukku!" tegas Arka lagi yang hanya bisa membuat Nira geleng-geleng kepala.
"Ya sudah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Sekarang jangan marah lagi." bujuk Nira sambil meraih dagu suaminya agar menghadap ke arahnya dan mengecup bibir Arka sekilas. Nira akan merasa tidak enak hati kalau papi dan maminya melihat mereka bertengkar hanya karena masalah sepele.
Dan rayuan dengan sebuah kecupan itu berakhir pada Arka yang langsung membawanya ke kamar. Terjadilah pergelutan panas di siang bolong, tentunya di dalam kamar Nira. Dan itu tidak cukup hanya satu kali. Arka melakukannya sampai dua kali.
.
.
.
.
TAMAT
.
.
Alhamdulillah. Terima kasih untuk semua teman-teman yang sudah mendukung karya amatiran ini. π€π€ Maaf kalau kurang menghibur. Othornya masih abal-abal. πππ.
Nantikan novel kelanjutannya ya! Ini tentang adik perempuan Arka. Masih ada sangkut pautnya sama Arka dan Nira. Mereka masih ogah untuk rehat dari dunia pernovelan. ππππ
Kira-kira siapa yang akan menjadi pendamping adik dari Arka?π€π€π€π€π€
__ADS_1
Tungguh kisah Ainara Manfred Wiratama. Akan aku umumkan di novel ini judulnya nanti. Jadi tunggu pengumumannya ya sayang-sayangku semua. Insyaallah secepatnya.