
"Kenapa? Marah?" sindir Nira saat melihat wajah kakaknya merah dan kedua tangan yang mengepal erat.
Mira yang mati-matian menahan amarahnya akhirnya tidak tahan lagi. Dia berdiri dan hendak melayangkan sebuah tamparan kepada adiknya yang sudah sangat lancang dan sangat berani. Tapi tangannya menggantung di udara karena Nira menangkap pergelangan tangannya.
"Jangan macam-macam denganku!" gertak Nira sambil menghempaskan tangan Mira dengan kasar. "Aku bukanlah Nira yang dulu, yang selalu menuruti semua perintahmu dan yang selalu tunduk padamu dengan semua perlakuanmu padaku!" tegas Nira.
"Cukup sekali kau merebut Saka dariku! Tapi tidak ada kata kedua kalinya! Aku tidak akan melepaskan apa yang menjadi milikku, termasuk Arka dan Geo!" seru Nira. Dia tidak akan mengalah lagi untuk kedua kalinya. "Walaupun Geo adalah anak kandungmu, tapi kau tidak layak menjadi ibunya." ujar Nira.
Mira memberikan tepuk tangan pada Nira. "Kau sangat hebat sekarang." kata Mira. "Ternyata kepolosanmu dulu hanyalah sebuah topeng. Sekarang, lihat bagaimana sifat aslimu?" sindir Mira.
"Memang aku dulu sangat bodoh dan polos! Tapi orang bisa berubah karena disakiti dan dikhianati." balas Nira tak mau kalah.
"Baiklah! Kau bilang mau mempertahankan Arka?" tanya Mira. "Setelah melihat ini, apa kau masih kuat bertahan?" Mira memberikan ponselnya pada Nira. "Lihatlah!" perintah Mira.
Nira yang dengan santainya bersandar di kursi yang ia duduki hanya menatap ponsel itu, enggan untuk melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa? Takut melihatnya?" sindir Mira dengan seringaian tipis di bibirnya.
Nira meraih ponsel itu. "Kenapa harus takut?" dia memutar video berdurasi tak lebih dari satu menit itu yang menunjukan adegan panas antara seorang pria dan wanita yang wajahnya saja tidak terlihat jelas. Nira menaruh ponsel itu kemudian beralih menatap Mira yang juga sedang menatapnya.
"Untuk apa kau menunjukkan video seperti itu? Aku juga sering melakukan hal seperti itu dengan Arka." celetuk Nira dengan santainya tanpa mempedulikan Mira yang terlihat geram karena Nira seakan sengaja memanasinya
"Apa kau tidak penasaran, siapa orang yang ada di dalam video itu?" tanya Mira.
Nira menggeleng. "Tidak! Untuk apa aku penasaran? Bukan hal penting untukku." jawabnya dengan cuek.
Deg
Jantung Nira mulai berdetak tak karuan mendengar penuturan Mira yang mengatakan kalau pria di dalam video itu adalah Arka yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.
"Dan yang wanita itu, tentu saja aku." imbuh Mira lagi dengan bangganya, dia lebih bahagia saat melihat raut wajah adik tirinya yang telah berubah.
__ADS_1
Nira tidak dapat berkata-kata. Dia mencoba mencerna semuanya dengan emosi yang mulai naik, terlihat dari nafasnya yang mulai tak beraturan.
Jangan tanyakan Mira, dalam hatinya sedang mengibarkan bendera kemenangan karena sudah berhasil memancing amarah Nira. Dia juga tidak sabar untuk melihat sampai kapan Nira akan bertahan dengan Arka. Tapi rasa bahagianya itu langsung sirna saat melihat Nira justru tersenyum lebar.
"Kenapa kau tidak marah?" tanya Mira heran.
"Untuk apa aku marah?" jawab Nira, sebenarnya dia sangat marah dan ingin segera pulang untuk mengintrogasi suaminya. Tapi dia berusaha menguasai amarahnya di depan Mira. Karena dia tahu kakaknya itu sengaja memancing amarahnya. "Aku tidak percaya dengan keaslian video itu. Bisa saja kau merekayasanya." tebak Nira, walaupun dalam hatinya dia merasa ragu.
"Kau berusaha menyangkalnya? Atau kau hanya tidak bisa menerima kenyataan?" Mira tidak menyerah. "Kau lihat? Bagaimana ganasnya Arka?" tanya Mira.
Nira berdiri dan menggebrak meja dengan keras. "Cukup!" bentak Nira, tidak tahan lagi dengan mulut kakaknya itu yang semakin tidak terkendali dalam berbicara.
Nira meraih tas yang ada di kursi sampingnya lalu meninggalkan Mira yang masih duduk di sana dengan senyuman sinisnya.
"Kita lihat saja! Bagaimana akhir dari semuanya? Tentu aku yang akan jadi pemenangnya." Mira tertawa sendiri sambil terus memperhatikan Nira yang sudah tidak terlihat lagi.
__ADS_1